Selasa, 22 Mei 2018

Very First Conference! Singapore.

It is really, exactly, happened a week ago. My very first conference!!
Kalimat pembukanya rada norak tapi ya gapapalah, tulisan pribadi ini.
(Terbengkalai sejak ditulis terakhir pada Desember 2017, ada di draft, makanya 'happened a week ago'. pffftt.....)

Mungkin temen-temen banyak yang udah sering ikut konferensi, Singapura mungkin cuma bagaikan Jakarta ke Bogor.. Tapi bagi gue, ini bener-bener pengalaman sebenar-benarnya pengalaman! Dan daripada menghilang dimakan waktu, lebih baik dibekukan di tulisan ini, kan? So here's my story....

Sebenernya masih hutang banyaaaak banget tulisan, terutama proses pemenuhan gelar sarjana, yang baru ada tulisan separuh sarjana-nya disini. Nah, di akhir tulisan itu kan gue bilang, bakal ada kemungkinan-kemungkinan baik ke depannya. Ini dia cerita kelanjutan kemungkinan-kemungkinan baik itu.

Dimulai dari pertanyaan salah satu dosen penguji,
"Kenapa parameternya cuma empat? bokek ya?"
"iya, Pak. Gak punya duit."

Hingga akhirnya dosen pembimbing menyarankan untuk mengikutsertakan penelitian skripsi ini ke PITTA. PITTA itu apa? cek disini. Tapi yaa konsekuensinnya, selain mengurusi penelitian skirpsi, juga harus bersedia repot urusin perintilan di PITTA ini. Tapi setelah dijalani enggak serepot itu kok.

Awalnya udah hopeless banget kan, untung-untungan aja ikut PITTA, karena kami beranggapan penelitian ini "cetek" banget, se-dasar itu, disaat temen-temen bikin reaktor, bikin prototype, lah daku cuma ambil sampel, bawa laboratorium, hasil keluar terus dianalisis, hehe. Tapi ternyata, Alhamdulillah lolos seleksi, waktu itu ada sekitar 500-an tim yang lolos PITTA, dengan satu tim yang beranggotakan 3 orang dibiayai 80 juta-an. Coba hitung se-kaya apa kampus gue, wkwk
Alhamdulillah...

Karena PITTA-nya lolos, maka setelah selesai sidang skripsi, gak bisa leha-leha, harus cari konferensi ter-indeks Scopus yang kira-kira fit in budget. Awalnya ingin korea, ya you know lah alasannya haha tapi gak ada yang cocok konferensi di Korea, lagian kejauahan juga, biaya nya gak nge-cover.

Akhirnya dapat beberapa, dan coba mendaftar ke beberapa konferensi itu, sebenarnya boleh aja sih konferensinya di Indonesia. Tapi Prof. Djoko (dosbing) meyarankan untuk cari konferensi di luar negeri. Buat nambah pengalaman katanya. Akhirnya pengumuman lolos di dua konferensi internasional. Dua-duanya based in Singapore, ICSTSS 2017 dan ICEPP 2017, Akhirnya karena beberapa pertimbangan, tim gue ikut yang ICEPP 2017.

Hari H keberangkatan konferensi.
Berangkat ke bandara ditemani ibu, karena katanya ibu kepingin anter anaknya. Pesawat berangkat jam 7 pagi, oh iya, ini adalah pengalaman naik pesawat yang pertama kali juga. Ternyata cukup membingungkan ya, haha harus cetak tiket, antri timbang bagasi, antri lagi untuk cek dokumen, antri lagi untuk naik pesawatnya, tapi gapapa, jadi pengalaman.
Beda waktu antara Jakarta dan Singapore itu satu jam, jadi kalau di Jakarta jam 8 pagi, di Singapore jam 9 pagi.

Sampai di Changi Airport, rasa kagumnya tuh mulai tumbuh nih ceritanya. Terasa banyak aktivitas, tapi tetap lenggang, gak membingungkan, meski tempatnya se-luas itu.
Dan, kerennya penataan pelayanan publik di Singapore, termasuk urusan transportasinya. Semua penunjuk jalan, jam kedatangan bus, rute MRT, itu jelas dan rinci banget!  Jadi gak perlu takut nyasar meski sendirian di sana.

Inginnya sih awal kedatangan langsung cobain public transport-nya, tapi ribet bawa-bawa koper, akhirnya pesan Grab, dan ajaibnya ya disana itu gak ada Grab-bike! gak ada option-nya yang Grab pake motor. Ternyata, motor yang ada di jalan pun bisa dihitung jari, dan lebih banyak memang dikendarai driver penyedia layanan antar makanan gitu. Jalanan Singapore lenggang banget saat itu, karena waktu itu jam 10 pagi, dan itu bukan rush hours. Ongkos grab / taxi disana mahal banget! ibarat dari FT sampe Margo City lewat Margonda tuh kena SGD 21. Murah sih 21 dolar, tapi coba dirupiahin? dua ratus sepuluh ribu, wkwkwkwk
Kalau lagi gak buru-buru atau banyak bawa barang bawaan, mending naik public transport deh.

Oh iya, selama di Singapore ini, gue tetap pake provider Tri, beli paket Overseas Singapore 7 hari (harga 75 ribu, perhari dapat 93 MB, dikit sih, tapi cukup karena selama di penginapan pakai wifi, paket ini cuma untuk selama di luar aja). Sebenarnya di Changi juga ada counter penyedia provider telekomunikasi gitu, tapi yang paling murah aja 15 SGD (yang kalau dirupiahkan kurang lebih 150ribuan, masih lebih terjangkau paket dari Tri). Penginapan gue waktu itu cari di AirBNB dan worth it, tempatnya dekat sama stasiun MRT, ada dapur, ada wifi, ada tv, kamar mandi dua, lengkap deh. cek disini.

Di jalan deket Apartemen, kemana-mana tinggal jalan kaki tapi gak capek.
In frame : Eki dan Bu Upik.
Atika yang moto-in.

Hari pertama sampai di sana, cuma ke NTU untuk lapor diri daftar ulang gitu. Berkeliling NTU sebentar dan penyesuaian diri. Setelah itu kita ke penginapan dan persiapan diri untuk presentasi besok. Dan tibalah, hari H presentasi, aaaa se-deg-degan itu gue.

Pertama, kita mengikuti tiga kelas umum di satu kelas besar, pemateri pertama itu Professor dari USA, yang kedua dari Korsel, yang ketiga dari Singapura. Setelah itu, kita dibagi ke beberapa subtema dan pindah kelas sesuai dengan subtema tersebut. Tibalah, giliran gue, yang maju dua kali lebih cepat dari yang seharusnya karena dua orang sebelumnya gak hadir.

Sepanjang presentasi jujur aja deg-degan banget, all I can do is baca slide PPT :" tiba-tiba di tengah penjelasan gue, sang moderator, yang adalah Prof dari Korsel yang ngisi materi di kelas umum tadi memotong dan bertanya, "why the mercury parameters index has that number? which method that you used?" kalau gak salah begitu inggrisnya, pokoknya intinya dia nanya, kenapa kok angka indeks merkurinya segitu? emang kamu uji nya pake metode apa?

WAAAAWAAAAA.... selupa itu aku sama teori huhu :"
se-enggak percaya itu yang bakal ditanyakan adalah teori ; metode pengecekannya pake apa?

Alih-alih menjawab (yang emang padahal lupa banget), gue cuma bisa, "hmm? what? pardon?" padahal jelas-jelas gue ngerti dia nanya apa. Sampe beberapa peserta konferensi (yang adalah para ekspert, S2, S3, ahli di bidang lingkungan) ikut membantu menterjemahkan pertanyaan sang Prof moderator dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, karena takutnya gue yang gak paham apa yang ditanyain. Tapi lagi-lagi gue cuma, "hmm? what? ah?"

KELU BANGET LIDAH RASANYA MAU JAWAB. Di meja peserta, Eki udah ngode-ngode jawabannya, tapi gue terlanjur gugup akhirnya bilang, "I'm so sorry because someone who do that at laboratorium is not me." Hahahaha lemes! badan rasanya mencair :"
Sampe akhirnya Profnya mungkin kasian sama gue, dia bilang, "ok. that's enough. besok-besok meskipun bukan kamu yang meneliti, kamu mesti tau apa yang kamu bicarakan di presentasi. Oke, silakan kembali ke tempat duduk kamu." Dia ngomong pake bahasa indonesia? tentu tidak, itu gue translate yang intinya begitu, deh. Sedih, ya... first experience gue malah begitu.

Sesi presentasi selesai, saatnya pengumuman the best speaker. Tebak siapa yang dapat title itu? Ya jelas bukan gue, lah. Tapi seorang mahasiswa S3 dari Jepang, yang umur penelitiannya udah 10 tahun (turun temurun diteruskan gitu), slide presentasinya aja udah kayak materi kuliah. Apalah dibanding penelitian gue yang cuma dua bulan. Hiks.
candid ini, aseli :p


Foto ceria bersama Eki. Gue yang kerudung biru.
Waktu giliran diriku presentasi

foto bersama seluruh peserta konferensi

Selesai itu, acara bebas dan akan ada acara makan malam bersama, tapi berhubung rasanya kepala gue pening banget. Pening yang....pusing, malu, pengen nangis, campur aduk gitu rasanya, akhirnya pulang aja dan gak ikut makan malamnya itu.

Tapi karena gak ikut makan malamnya itu, gue sama Eki jadi pergi ke Chineese and Japannese Park di deket MRT. Pertama kalinya naik MRT sini. teratur banget. setiap dua menit, MRT nya datang, gak desak-desakan. Tapi tetep aja sih, ada sisi gak bagusnya.

Sekali dua kali gue lihat, di eskalator, muda-mudi ciu*an, sesantai itu, terus orang-orang di sekitarnya juga, se-biasa-aja-itu. Gue yang liat malah tutup mata. Sekali lagi mendapati hal demikian di dalam MRT, sepasang cewek-cowok mojok terus ciu*an. Gak kebayang, kalau di Indonesia pasti udah masuk akun-akun viral di IG terus seorang netizen menemukan akun IG si pelaku itu, biasanya sih yang ceweknya. Terus dihujat sama netizen di kolom komentar. Cerita selanjutnya tinggal dua, si pelaku itu tutup akun karena gak kuat dibully netizen, atau dia malah memanfaatkan 'ketenaran sesaat'-nya itu untuk jadi selebgram! Wkwk hafal banget gue gak ngerti lagi.

Dan lagi, dua kali waktu seorang nenek masuk MRT dan sekali waktu naik bus, gue mempersilakan tempat duduk gue buat dia. Dan tau, gak? dia seterima kasih itu, sampe gue turun terus-terusan bilang, "thank you thank you..." sembari senyum. Tentu aja gue gak langsung dapet duduk pas pertama kali naik. Nah pas gue lagi naik dan dalam posisi berdiri, ada kejadian yang sama, tapi gak ada tuh gue lihat orang muda yang berdiri dan memberikan duduk.

Tapi tentu, kita gak bisa menggeneralisir semuanya begitu kan, karena di Indo aja banyak yang sebodo itu padahal tempat duduk prioritas. Tapi ngeliat respon si nenek yang terus bilang, "thank you.. thank you.." itu kok gue ngerasa sesuatu, ya.

Ada lagi cerita, di malam terakhir kita di Singapore, Eki mau ke tempat tantenya di daerah Ang Mo Kio, itu daerah pemukiman kalau di Singapore. Selesai Eki ke tempat tantenya itu, tantenya anterin kita ke halte bus sambil nunggu bus-nya datang. Gak sengaja kita nemuin HP yang tergeletak di halte itu, posisinya layarnya menghadap ke bawah, kebiasaan kita kan kalau ngeliat HP jatuh langsung dipungut dong ya, terus kebetulan layarnya gak di-lock, langsung ke log recent call, rencananya mau nelepon orang yang terakhir dihubungi, biasa kan, emang normalnya juga gitu, kalau di Indo. Eh sama tantenya Eki di larang, tebak kita malah kemana?

Kita ke kantor polisi terdekat teman-teman, untuk melaporkan kalau kita baru saja menemukan sebuah HP yang jatuh. Bayangan gue, ya se-enggaknya kita dapat ucapan terimakasih gitu kan dari polisinya, eh ini malah ditanya macam-macam, seolah kita yang nyuri itu HP wkwk woylah kalau nyuri ngapain kita ke kantor polisi??

Ditanya, "ini nemu dimana? kronologinya gimana? ini kamu siapa? urusan apa datang ke Singapore?" Gue se-deg-deg-an itu, culture shock tuh gini rasanya mungkin, ya. Ini baru Singapore, yang se-dekat itu sama Indonesia.

Selesai itu, tantenya Eki bilang, "kalau disini (Singapore), nemuin apa-apa, gak usah diambil. Dibiarkan saja. Bahasa kasarnya, kalau ada orang jatoh, jangan dibantu, takutnya kamu yang dikira dorong dia sampai jatuh. Karena nanti urusannya bakal panjang."

Waduh! Pulanglah kita dengan perasaan gak enak yang sangat mendalam, karena tantenya Eki sampe harus pulang dan nunjukin surat izin tinggal-nya sebagai bukti ke kantor polisi.

***

Hari ketiga di Singapore diisi dengan academic trip, one day visit. Ini trip gak wajib buat peserta konferensi, bagi yang mau saja. Dan gue sama Eki ikut, bayar 50 SGD masing-masing, sekitar 500 ribu kalau dirupiahin. Kita ke Merlion Park, St. Andrew's Cathedral, Chinatown, Garden by the Bay, Little India.

Merlion Park tu bisa dibilang kayak Monas-nya Jakarta kalau di Indonesia kali ya, ikon ibu kota, bahkan ikon negara kalau di Singapore. Dan itu, seramai itu. susah untuk nemu spot foto yang 'bersih tanpa ada bocor orang-orang di belakang'.

Tapi susah bukan berarti gak bisa. Malah gue nemu spot yang selama ini belum pernah gue lihat fotonya di google, sampe baru tahu kalau air mancur dari mulut merlion-nya itu keluar pake paralon. Lah emang pake apa? ya iyasih paralon, tapi kan selama ini gak pernah kepikiran gitu.
capture by me
from the other side. Tuh lihat lautan manusia deket merlionnya.

castle and the blue sky, capture by me
the building in front of merlion, aesthetic :p

Di Chinatown lumayan lama, karena sekalian istirahat makan siang. Disana barang-barang mureh-mureh deh (ya meski kalo dirupiahin tetep mahal) gue banyak beli oleh-oleh disana. Chinatown kayaknya di mana-mana sama aja ya, rasanya udah kayak ke Glodok deh. cuma hati-hati kalau makan, pastikan halal.
capture by me
itu dia Eki, tampak belakang
murah, kan?

setelah itu, kita pergi ke Garden by the Bay, dan diberi pilihan, mau masuk ke macam-macam garden-nya atau mau keliling aja. Karena kita gak punya duit, akhirnya kita gak ikut masuk dan cuma keliling-keliling aja. Terus beli es krim mekdi karena penasaran, variannya belum ada di Indo saat itu, ini dia penampakannya, harganya 3.5 SGD, 35 ribu untuk sebuah es krim. wkwk
sekarang kayaknya udah ada eskrim gini di mekdi

ini moto aja, gak naik. bayar lagi soalnya, hehe
Meski rencana awal masih ada destinasi Little India, tapi ternyata hujan turun dengan derasnya. Akhirnya kita sepakat untuk hanya berkeliling little india menggunakan bus tour, gak menjelajah kayak waktu di Chinatown. Lalu pulanglah kita ke tujuan masing-masing. Waktu itu gue sama Eki bawa-bawa koper yang dititip di bus tour, karena kita mau pindah penginapan, yang selama dua hari kemarin di Jurong deket NTU, pindah ke pusat di Orchard Road.

Sepanjang turun dari bus, koper gue yang gede dibantu bawain sama seorang peserta konferensi yang mau pulang ke penginapannya dan naik MRT juga. Bayangin deh naik turun eskalator terus tiap ada satpam, tuh koper mesti dibuka untuk dicek, Alhamdulillah ada yang bantu bawain.

Seluruh MRT di Singapore tuh kayaknya conected ke Mall deh, atau emang di desain Mall disitu karena gak ada lahan lagi, gue juga kurang paham. Tapi jadi semenyenangkan itu. Bayangkan aja, sepanjang jalur antar MRT tu ada pusat perbelanjaan, jadi transit gak cuma lewatin jalan doang. Bisa sekalian melancong.

Malam harinya, kita ke tempat tante-nya Eki, kayak yang gue ceritain di beberapa paragraf itu, sepulang dari tempat tante-nya Eki itu kita pergi ke Garden by the Bay lagi, tapi via jalur lain, lupa waktu itu jalur apa, pokoknya naik MRT. Singapore, lampu, dan malam hari. Duh, susah digambarin deh pokoknya manjain mata banget.


tahan napassss motretnyaaa
Pulangnya itu sampe MRT terakhir yang beroperasi, Sekitar jam 12 malam sampe di Orchard Road, rasanya tuh kayak nothing to worry about being out at night. Trus lagi ada premiere Star Wars waktu itu, foto ajaa....

may the force be with u~
mandatory photo of Orchard Road, hehe
Hari terakhir diisi dengan belanja ke Little India, yang kemarin sempat gak jadi karena hujan. Tapi ini cuma gue dan Eki, gak sama rombongan peserta lain, juga engga sama Bu Upik, karena beliau ada agenda jalan-jalan lain sama anaknya.
Ke Little India tidaklah lengkap tanpa ke Mustafa, semacam pusat perbelanjaan gitu, yang katanya barangnya murah-murah. Dan benar sih murah, tapi tetep murahan di Chinatown.

Selain ke Little India, kita juga ke Bugis Street, yang kalau kata google, disana ada toko yang serba 1 dolar. Buat beli oleh-oleh, apalagi kalau bukan cokelat. Letaknya dekat Bugis Junction di pinggir jalan, agak susah ditemukan karena penampakannya sudah agak berbeda dari yang ada di google, tapi tetap ada tulisan $1.
sumber dari google
Kita belanja makanan sih lebih banyak, karena bingung kalau bawa barang kan susah. Koper udah dititip bu Upik yang duluan berangkat ke airport. Sedihnya waktu itu gue beli handbody, tapi lupa kalau barang cair lebih dari 100 ml harus masuk bagasi. Ya terpaksa disita deh.

Setelah belanja-belanja kita ke Sentosa Island, ituloh, tempat yang ada Universal Studio-nya. haha, kesana bukan mau masuk sih, cuma kepingin tau, dan foto. Typicaly pelancong banget, ya. Sekalian nyobain bus Singapore, karena selama tiga hari disana, kita selalu naik MRT. Dan tara~~

silau~
Berbekal gak pernah nyasar selama tiga hari sebelumnya, kita pede dong. Eh sepulang dari Sentosa Island mau ke Changi Airport ngide naik bus lagi, lumayan, waktu masih banyak. Eh alah, kita nyasar, salah naik bus. Malah makin menjauh dari Changi. Waktu itu gue tidur di bus, dan Eki kebingungan sendiri. Maap ya Eki :(
Tapi meski begitu, kita tetep sampai disana sebelum waktu keberangkatan untuk pulang, kok. Malah ternyata pesawatnya delay sejam.

Tambahan sebelum tulisan ini berakhir,
ada satu hal yang sampe saat ini masih bikin gue terharu dan bangga sendiri sama agama gue, Islam yang mewajibkan muslimahnya berhijab. Jadi waktu itu, selama nunggu pesawat, kita mau cari minum sekaligus makan di Changi Airport, tiba-tiba mataku menemukan subway!
hanya ilustrasi ttg subway, sumber google

Buat yang sering nonton drama korea kayak gue pasti gak asing sama subway subway ini. Karena di Indonesia kan gak ada, dan gue kepengen nyoba banget gitu, karena kalau nonton di drakor tuh kayaknya enak banget gitu burger disitu.

Antri dong gue mau beli, tapi belum sampe giliran gue, pramusaji-nya ngomong, "Mm.. sorry Miss, subway is non-halal. Are you okay with that?" gue kaget dong, dan ternyata yaa subway itu pake pork alias daging babi. Huhu :" Antara kudet atau malas mencari tahu. Yaa pantas aja di Indonesia enggak ada.

Gue sadar, yang membuat sang pramusaji berkata demikian adalah karena melihat gue dan Eki pake jilbab, jadi dia langsung tau, gue dan Eki beragama Islam. Coba kalau misalnya gak pake hijab, dan gue gaktau subway tuh pake pork, gue makan aja gitu. Bangga banget gak, sih rasanya sama hijab dan Islam?

Singkat cerita,
Pulanglah kita semua. Jalanan macet meski itu udah jam 11 malam menyadarkanku bahwa saat itu, secara sadar diriku sudah berada di Indonesia lagi.

Sekian cerita super panjang selama 4 hari bertemu banyak pengalaman baru di Singapore, semoga Tika diberi kesempatan lagi yaa sama Allah buat menjelajah negara-negara lain, aamiin...

Selasa, 22 Mei 2018
Atika Widiastuti
-------------------
Notes :
- ke Singapore gak perlu visa, cuma di sana isi form gitu yang isinya menjelaskan selama di Singapore kita tinggal dimana, berapa hari di Singapore, nomer telepon Singapore yang bisa dihubungi dll.
- Tiket pesawat ke Singapore ada yang gak sampe 500 ribu kalau kita pintar carinya, biasanya tiket 2 bulan sebelum keberangkatan, karena kemaren gue berangkat mepet, jadinya dapet tiket termurah itu 2juta-an, itu aja pake AirAsia.
- Untuk bepergian selama di Singapore gak usah takut nyasar, karena public transport-nya selengkap itu. Cuma kitanya harus teliti, jangan sampai salah naik, dan bayarnya tinggal di tap, semacam kartu e-money, namanya Ez-Link, google it, ya. Dijelasin lengkap. Punyaku ilang padahal beli yang masa aktifnya 5 tahun.
- PALING PENTING! Colokan listrik di Singapore itu yang kaki tiga. Gue gak engeh ini penting banget. Selama di sana engga engeh gitu, pas HP lowbad baru bingung ngecharge-nya gimana. Beruntung ada temannya Bu Upik yang main ke penginapan kita terus bawain colokan kaki dua. Disana bisa sih cari yang kaki dua, tapi akan lebih baik udah prepare sebelum keberangkatan, daripada beli, gak murah soalnya.


Rabu, 21 Maret 2018

Renungan, Paska Kelulusan

Meski bukan 100% pengangguran, tapi nyatanya sampai saat ini memang belum ada rasa ingin untuk mencari kerja di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliahku. Sebagian orang berkata, "masa udah kuliah capek-capek 4 tahun, pas cari kerja gak sesuai jurusan. capek doang?!" dan sebagiannya lagi berkata, "gakpapa kerja di bidang yang gak sesuai dengan jurusan. Ingat, hidupmu gak ditentuin cuma dari 4 tahun masa kuliah." Dan ternyata, aku setuju kedua-duanya.

Hari-hariku disibukan dengan menekuni hobi yang baru dikuketahui beberapa bulan belakangan ini, yaitu fotografi. Beruntungnya aku, dikelilingi oleh orang-orang baik, alat-alat penunjang hobiku ini, insyaAllah lengkap semua. Tinggal aku nya, mau atau tidak mengasah skill.

Tapi bukan berarti aku akan terus-terusan begini sih, karena aku pun masih sangat ingin bekerja sesuai dengan jurusan kuliahku, teknik lingkungan. Tapi nanti.

Aku gak mau rasanya diburu-buru waktu, melihat teman daftar kerja disini, lalu latah. Lihat teman ikut tes ini, kepingin juga. Diburu waktu dan dikekang pandangan publik, capek kan. Jadi untuk sekarang, aku nikmati dulu saja yang ini.

Aku juga coba apply-apply short course / ekskursi / conference gitu. Khusunya yang temanya di bidang sosial. Membawa "Program Kakak Asuh"-ku dikenal lebih jauh lagi. Yaaa siapa tau kan, jodoh? hehe selagi gratis yaa coba aja~

********
Meski nyatanya aku menikmati hidupku yang saat ini, namun tetap aja rasanya, selain di waktu-waktu sibuk dan memang ada kerjaan, rasanya hampa, semacam, "hidup gue kok gini amat, ya?" Rasanya rindu dikejar deadline, karena sekarang, karena 'sedikitnya' kerjaan yang dipunya, jadi begitu ada kerjaan, jadi langsung dikerjakan. Rindu membuat diri sendiri sibuk. Rindu yang tiap saat berjibaku dengan banyaknya tugas kuliah, bertemu orang, lalu saling berbagi cerita dan keluh kesah pengerjaan tugas, haha. Disaat kehampaan itu datang (cailah), akhirnya pegang HP dan buka medsos, Scrolling~ Stalking~

Gak memungkiri memang media sosial saat ini udah jadi semacam kebutuhan banget, atau hanya Aku? Tapi sebenarnya enggak juga. Meski kamu gak selalu posting foto beserta captionnya, pasti dalam sehari ada update story di IG-mu, atau minimal kamu membuka dan scrolling timeline, kan?

Mungkin tanpa disadari, serasa memamerkan pada dunia, gue lagi ngelakuin ini loh, gue tadi makan / beli ini loh, ini lagi hits, dan gue udah punya loh. Iya, apa iya? Meski positifnya aku jadi tahu, apa kesibukan teman-temanku saat itu. Tapi gak memungkiri sih, scrolling timeline itu bikin rasa iri dalam hati muncul. Misalnya, lihat teman upload foto komputer kantor dan memperlihatkan deadline pekerjaannya, wah asik yaa udah kerja. Atau lihat teman upload menara landmark suatu daerah, oh ternyata lagi jalan-jalan. Atau lihat teman lagi ngobrol-ngobrol di kafe, oh dia temannya banyak ya. TERUS AKU GIMANA? KOK AKU GAK BISA KAYAK DIA? Ujung-ujungnya insecure.

Sebenarnya, wajar gak sih ngerasa kayak gitu?

Maka buat kamu, yang sudah berada di posisi dari beberapa yang kusebutkan diatas, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan, bersyukurlah. Posisi sibuk dan lelahmu yang sekarang, adalah posisi yang banyak orang menginginkannya.

Dan buat kamu, yang belum ada di posisi itu, yang masih berjuang, yang merasa masih ragu dan belum mengetahui tujuan hidupnya apa, terus semangat, ya! Tiap orang miliki waktunya masing-masing, ia tepat. Tak terlambat atau terlalu cepat datangnya. Asal jangan lupa, ia tak datang sendiri, ia perlu diusahakan. :)

*****
kang balon~



Kamis, 01 Februari 2018

Hobi, yang (baiknya) dihargai.

Sebuah foto dikirim ke sebuah grup di WhatsApp, berisikan quotes penyemangat seperti ini :

Alih-alih memuji hasil karya atau sekedar meresapi makna kalimat quotes penyemangat itu, seseorang merespon, "kayak simbol yang sekarang lagi booming (one eye), hehe" ditambahkannya lagi, "kenapa kamera cuma dikasih satu lobang untuk melihat? kenapa gak dua-duanya biar puas dan ga pegel? apa ini konspirasi? *ceritanya lebay"

Lalu sang empunya gambar merespon, yang buatku menyunggingkan senyum asimetris di bibir.
"Lebay aja itu, biar gak mainstream. Intinya mah quotes-nya. Maksud gambarnya adalah, ada seorang fotografer profesional (yang adalah sebuah profesi), lalu ada setengah pantulan ring light di mata kanan si fotografer (penanda satu jenis fotografi ; beauty model).

Lalu ada triger di atas kamera (pertanda pemotretan dilakukan di dalam studio), ada lensa yang masih pake kode hyperfocal distance (tandanya lensa pro / fullframe).

LCD adanya di atas kamera tandanya kamera itu udah semipro ke atas, merk kameranya Nikon, kamera yang biasa dipake profesional.

Inti dari gambar tersebut adalah tuh fotografer lagi kerja, cuma sambil menikmati pekerjaan, karena dia difoto juga, enjoy sama kerjaannya, gak dibuat stress.

Sorry gak niat sombong yaa (ini kalimat yang buatku menyunggingkan senyum asimetris di bibir), jadi fokus aja sama quotes-nya, atau kalau mau exif data gambar boleh japri, siapa tau ada yang mau belajar biar bisa moto begitu. Diambil pake lensa 35 mm, f 2.0)."

Lalu seseorang itu tak merespon lagi, sampai saat ini.
***
Mungkin maksudnya bercanda, tapi kok ya gimana... Rasa 'nyelekit' di hati yang buat pasti ada, loh. "Gue bikin niatnya mau share semangat malah orang-orang komentarinnya apa."
Tapi Alhamdulillah jawabannya cerdas. hehe.

Itu hobi, emang dasarnya senang aja melakukannya, dilakukan kala senggang, kalau ada waktu luang. Lain dengan hobi yang satu ini.

Hobi yang dijadikan pekerjaan, memang terkesan seru untuk dijalankan. Kita melalukan itu, karena suka, karena memang kegemaran kita, ditambah kita mendapatkan uang dari situ. Tapi kayaknya, dalam kenyataan, masih banyak sekali orang-orang, yang menganggap ini bukan suatu karya yang patut untuk diapresiasi, dia beri komentar, "ah dia mah emang seneng aja lakuin itu. Udah biasa." Heu.

Seringnya, hobi yang dijadikan sebuah jasa ; design grafis, fotografi, hand lettering dan sebagainya.
Alih-alih menanyakan, "Kalau untuk foto / design ini, biaya nya berapa ya?" justru malah, "Bisa minta tolong ga buat ini?"

Lalu dijawab, "wah, kalau bikin / moto kayak gitu, belum bisa nih, hehe"
Dia-nya membalas, "kan cuma ambil gambar, geser-geser tambahin tulisan." atau "kan cuma tinggal jepret aja."

Ingin rasanya teriak di kuping kanannya, tapi kuping kirinya ku tutup, biar gak masuk kuping kanan, keluar kuping kiri : "Ya kalau gitu bikin sendiri aja sana, he he he he he he."
sengaja hehehehe-nya panjang, biar menyebalkan.

Misal udah dibikin, udah dibuat, komentarnya mengalahkan dosen pembimbing, "Kayaknya gambarnya gak cocok deh, yang itu font-nya bisa diganti gak? Kalau tulisannya ditambahin ini bisa?"
Mending cuma sekali, berkali-kali. Dia mungkin lupa kalau akadnya minta tolong.

Apalagi kalau ada yang minta tolongnya abstrak banget, cuma kasih tulisan aja, gak jelasin konsep, bilangnya, "ya kamu lebih pahamlah," kita mikir, ini gimana yang bagus ya? Eh tapi pas udah jadi katanya ga sesuai ekspektasi dia, dikira kita cenayang.

Udah jadi, hasil dari revisi ke-5 mungkin, dijawab, "kirim email ya." dan satu lagi kalau inget, "makasih"

Gak ada basa-basi, gak ada penghargaan, gak ada apa-apa.
Bukan, bukan maksudnya jadi pelit atau tidak mau memberi pertolongan,
Bukan juga niat untuk diminta imbalan, tolong dibedakan.
Ini cuma tulisan singkat tentang memberi penghargaan, dan sedikit tentang, "tau diri". Kalau dari awalnya mau minta tolong, ya tolonglah jangan merepotkan, tau gak, dia tuh menyisihkan waktu dan tenaga-nya untuk mengerjakan itu, sesuatu yang kamu mintakan tolong padanya, secara gratis.

Katanya teman, harusnya tau dong, gimana perasaan si temannya itu? :)
***
Ah, prolog sama tulisannya jadi dua hal yang berbeda ya, iya gapapa lah.
***
ditulis hanya karena ingin menulis, ditambah bumbu-bumbu gemes yang daripada kadaluarsa, lebih baik diracik disini. Tidak ada niatan menyinggung siapapun, terimakasih pemaklumannya.


Jumat, 12 Januari 2018

Rumah Kedua




"Tika, kok rame sendiri si?", sebuah kalimat terlontar tadi sore dari seorang kakak karena melihat diriku yang... entah, menurutnya terlalu 'rame', dalam artian heboh sendiri.

Aku diam sejenak, berpikir, "iya, kenapa ya?" lanas terontar jawaban, "Aku seneng banget kaaaaak. Biasanya sendirian bolak-balik ke sini. Sekarang rame. Pake banget!"

Definisi bahagia menurut Atika, sesederhana itu.

Rumah Iqro,
menjadi rumah kedua sejak Aku kelas 6 SD, Dimulai dari jadi santri TPA waktu itu, karena mungkin dirasa sudah cukup pantas, ketika SMP, seorang Aku ini 'naik tingkat' jadi pengajar TPA-nya. Saat SMA, Aku jadi bagian dari pengurus TPA-nya. TPA yang meski tiap santrinya diberi kartu bayaran bulanan, tapi jaraaaang sekali ada yang membayar. Membuat kami yang saat itu menjadi pengurusnya serting banget ngelus dada, "ini uang listrik dari mana? uang kebersihan? alat tulis KBM? uang lelah pengajar?" Hingga akhirnya terlontar kalimat, "jadikan ini sebagai ladang amal kita ya, insyaAllah berkah."

Lalu kuliah, tiba-tiba Aku ini masuk 'ring utama' pengurus. Dari TPA yang adalah unit kegiatan yayasan, aku diamanahkan menjadi bendahara yayasan, yang isinya semua pendiri yayasan. Jiper. Berasa anak bawang.

Di dua tahun waktu kuliah, aku dipindahtugaskan lagi ke bagian ain. Marketing and Communication. Apa itu? Ya gitu. Singkatnya jadi Mimin. Karena katanya, Atika is always with her handphone, jadi cocok. Haha. Jarkoman. Bikin poster. Bikin segala macam tentang branding dan penginfoan gitu.

Hingga saat ini, ditambah beberapa tugas sampingan, side project dari sesepuh Ri, satu dari tiga kakak terbaik saya, kak Jayadin, yang selalu bilang, "saya mau yang ini diurus adek-adek kamu. Nah kita bikin kegiatan lain yang lebih hebat lagi dek. Nanti kalau itu udah settle, regenerasi-in ke adek-adek kamu yang lain lagi. Kita handle project yang lebih besar lagi. Biar jadi pembelajaran bersama.

yang selalu, "Tika bisa handle ini?" "Kamu kerjain itu, saya ini ya." "Nah. Ayo dong idenya!" Kalau ada yang gak sesuai ekspektasinya, beliau berkata "Gapapa. Biar saya ada bahan buat ngomelin."

Demi itu semua. Kurang lebih 10 tahun saya tumbuh bersama Rumah Iqro. Selama itu pula, banyak yang datang, tapi lebih banyak yang pergi.

Saya selalu senang setiap dapat kabar bahwa kakak-kakak saya akan segera menikah, karena artinya, saya bakal punya satu kakak baru. Tapi lain harapan, lain kenyataan. Justru setelah menikah, para kakak saya ini banyak amanah baru tambahan, membuat yang hampir tiap hari batang hidungnya saya lihat, berkurang jadi seminggu sekali, sebulan sekali, hingga akhirnya benar-benar kita hanya bersapa lewat media.
Meski tidak semua, tapi ya... anggaplah ini curhatan seorang Adik, ya kak. ^^

Makanya saya termasuk yang getol banget untuk memprovokasi seorang kakak, "kapan nikah, kak? "kapan kenalin calonnya?" Tapi giliran beneran dapat undangan nikah, jadi galau sendiri. Bukan iri. Ya you know, berarti kemungkinan terburuknya, saya harus rela tambah jarang bertemu dengan kakak itu.

Beigtu juga teman-teman sebaya. Kami angkatan ketiga, dulu kami ramai, mendominasi pada masanya. Satu persatu pergi, ada kesibukan di tempat lain. Hingga tingga aku, seorang perempuan sendiri di angkatan ini. Berdua sama Irul, yang masih setia mendengarkan kak Jayadin curhat.

Maka ketika hari ini, suasana Rumah Iqro menjadi sebegitu ramainnya. Saya merasa haru sendiri. Ini nyata, kan?

Bukan. Bukan menyalahkan teman-teman. Karena pertemuan dan perpisahan adalah keniscayaan. Apapun kegiatan dan dimanapun kita berada sekarang, itu mutlak keputusan masing-masing. Pun saya yang berkeputusan untuk tetap disini.

Tapi, boleh kan Aku sejenak rindu suasana dulu?

***







Jumat, 29 Desember 2017

Self thought

Kalau kamu bisa lihat laman blogger ini, banyak sekali tulisan yang masih save as draft. Belum selesai satu, rasanya mau tulis kegelisahan-kegelisahan lain. Tapi gak pernah ada yang selesai. Karena sembari menulis itu, saat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan sudah dituangkan, rasanya kegelisahannya menjadi runut dan sudah terselesaikan, hehe. Maka gak dilanjut lagi. Gitu. Alhamdulillah ya..

Kamu yang bukan penggemar k-pop, pun pasti tahu kan berita kematian Kim Jong Hyun Shinee baru-baru ini? Aku gak ikutin banget beritanya, tapi sebagian besar berkata kalau penyebab Jong Hyun bunuh diri itu adalah karena depresi. Depresi tuh seram banget, ya. Kita gak bisa dan gak boleh sih men-justifikasi Jong Hyun gimana-gimana, karena kita gak pernah ada di posisi dia.. Nah jadi maksudku disini adalah, menulis ini bisa jadi sarana merunutkan pikiran loh, biar gak terpendam sendiri. Kalau nantinya tulisan ini kamu baca (yang artinya gak berakhir sebagai draft aja), berarti kegelisahanku tentang hal ini belum berakhir alias masih terus terfikirkan, hehe

***
Gimana ya?
Dulu saat masih kuliah, idealnya adalah setelah lulus langsung dapat pekerjaan yang enak (yang diamini oleh sebagian besar orang) karena merupakan lulus salah satu lulusan universitas ternama. "Enak" disini juga artinya hampir sama bagi sebagian orang, "jabatan tinggi", "gaji stabil", singkatnya, hidupnya bakal stabil. Padahal, kehidupan engga semulus itu. Ntah, mau dibilang tulisan ini pemakluman, pembenaran atau sebagainya, tapi ya... ternyata banyak variable-variable lain yang baru muncul setelah hal itu teralami, pendek kata, gak terbayangkan saat hal-hal itu masih jadi rencana-rencana kita dahulu. Bingung? coba baca lagi.

Desember 2017, tepat 4 bulan masa-masa setelah lulus, pengangguran, atau bahasa halusnya "masa liburan sejenak" gak terasa udah terlewati. Akunya sih santai aja, pun ibu, maksudnya ibu gak memaksa untuk segera cari pekerjaan, karena bagi beliau, hidupku adalah aku yang jalani, baik buruknya aku yang tanggung. Tapi yaa gak bisa dipungkiri sih ibu menaruh banyak banyaaak banget harapan, agar anak pertamanya ini segera dapat kerja. Terlebih tetangga-tetangga yang omongannya gak bisa dikontrol huhu, kadang jahat-jahat banget. Kenapa sih :(

Seringnya aku kasih pengertian ke ibu, "Bu, Tika bukannya gakmau cari kerja.. Pasti nanti Tika cari koko. tapi untuk saat ini rasanya belum siap untuk desak-desakan di kereta, berjibaku dengan jalanan ibu kota. Ketemu pewawancara dan jawab pertanyaan.." Ibu memaklumi, dan kembali mejelaskan bahwa yaa ini hidupnya Tika, Tika yang paling tahu cara menjalani nya.

Hari-hari-hari terlewati, Aku jadi sering berpikir gini, "sebenarnya, apa yang mau dicapai Atika dalam hidup?" Kalau untuk membahagiakan Ibu, emang tau parameternya apa? Emang dengan mendapat pekerjaan yang seperti dibayangan ibu (di kantor, depan komputer) itu disebut membahagiakan ibu? Gimana kalau kamunya sendiri gak bahagia dengan itu?
Kadang jadi ada tambahan pikiran, "Apa kebahagiaan ibu dan kebahagiaan Tika emang pasti bertolak belakang, ya? Apa kalau mau bikin ibu bahagia, Tika nya harus merelakan kebahagiaan sendiri? Dan adakah cara supaya kebahagiaan kita bisa selaras? Ibu bahagia, Tika juga bahagia jalanin pekerjaan itu." 

Yaa.. Aku gak pengangguran-pengangguran amat sih, ada pekerjaan yang sebenarnya hobi, Aku enjoy aja jalaninnya, jadi masih ada penghasilan, tapi gak tetap, akhir-akhir ini aku sering dapat job foto wedding, prewedding atau event gitu. Mungkin karena merasa gak enak sama ibu, belum bisa bekerja sesuai apa yang ibu ekspektasikan, hasil fee-nya seringnya 100% dikasih ke ibu. Ibu gak minta, sama sekali, tapi anaknya ini gak enakan. Kayak semacam mau membuktikan, "Bu, ini loh Aku. Gak perlu harus udah ada pekerjaan settle kan untuk bisa kasih ibu uang? Rezeki Allah gak bakal tertukar." tapi yaa gak berani diucapkan dengan kata-kata. Terlalu takut mendengar jawaban Ibu.

Ditambah lagi omongan tetangga, sebenarnya gak mau mikirin sih, karena denganku nya sih gak langsung berdampak, tapi ke Ibu, ke adik. Aku gak kepikiran sebelumnya. Kalau ke warung, "Da, Atika udah kerja?" mereka tanya ke adik, "Gimana mpok Mur, Tika kerja dimana?" tanya mereka ke ibu.
Duh. Kenapa sih pertanyaannya gitu amat? Sini langsung tanya ke orangnya biar gak desas-desus.
Mereka mana tahu kan kalau sebenarnya, bukan Tika-nya yang gak dipanggil-panggil interview kerja. Tapi eamg Tika-nya yang belum melamar pekerjaan di satu tempatpun!
yaa gimana mau dipanggil interview, kirim surat lamaran aja belum.
Tapi mereka tahu gak? Enggak.. Ya karena cuma berani omongin di belakang doang.
Sedih deh aku tuh sama orang-orang..

Ya makanya lamar kerja atuuh, Tik.
Nah itu dia, alasan kenapa sampai sekarang belum lamar-lamar kerja ; keseluruhan tulisan di atas.
***

Rabu, 30 Agustus 2017

Senyum

Suatu hari ku ajak kamu bertamasya
Duduk berdua, sembari kau melagu.
Sang senja berbisik padaku,
ia berkata bahwa ada bagian dariku yang adalah kamu.

Aku berkaca,
melihat jauh ke dalam hati.
Ternyata ia terpatri disitu,
Tak bisa ku lupa walau sebentar waktu,
Indah merekah dan selalu begitu,
senyummu.

Selesai melagu, ku ajak kamu berlari.
menikmati hembusan angin yang datang menghampiri.
mentari tengelam mengantarkan bulan bertemu malamnya.
Menyisakan Aku, kamu,
dan senyummu.

Cukup lama Aku terpaku,
berucap pelan seraya bersyukur.

"Pada hal yang mana yang indahnya dapat menyaingi,
rupamu yang tersenyum,
di balik senja kala itu, kepadaku?
Dok. Pribadi, Akad Nikah Adiba & Sumardiansyah, Agustus 2017

Rabu, 12 Juli 2017

Tanah Merah, Cipayung ( Foto Cerita #1)

Deciding to update my blog after a long time.
Sedihnya, template blog-nya berubah, dari awalnya pink-kiyowo jadi mature begini.

***
Menyegarkan pikiran, katanya.
Biasanya diwujudkan dalam bentuk jalan-jalan, bepergian.
Padahal sebenarnya yang kamu butuhkan hanyalah merapikan pikiran dan (ehem) perasaan.

Ada percakapan di sebuah drama korea yang baru-baru ini aku tonton, kurang lebih begini :
"Memangnya kenapa kamu butuh uang banyak?"
"Aku ingin punya uang banyak agar bahagia."
"Haha. Manusia kadang lucu. Itu artinya, yang kamu butuhkan itu kebahagiaan, bukan uang."

Karena gak memungkinkan yang jauh, jadi yang disekitaran Depok aja.
Chalenging myself... Bukan terletak pada di bagus atau tidak lokasinya, tapi bagaimana objek di sekitar kita, yang kelihatannya biasa aja, bisa jadi 'bernyawa', bisa jadi ada 'cerita' di dalamnya.

Alhamdulillah, kalau boleh aku mengutip terjemahan ayat ; dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Di tengah terik siang hari, panas, dan nyasar, tak sengaja menemukan lokasi ini. Waktu itu salah input koordinat buat sampling skripsi. Meski di timeline Instagram udah berseliweran foto-foto di lokasi ini, bahkan pertemuan instagrammer Depok juga di tempat ini, tapi gak pernah ada niatan untuk benar-benar mencari tahu lokasinya, sekalipun lokasinya di Depok, daerah tempat tinggalku.

****

Menikmati kesendirian....

Berjalan, mengikuti ke arah mana kakimu menuntunmu....

Tapi selalulah menjadi seperti pohon
meski berdiri sendiri, ia tetap memberi manfaat.


Coba sesekali perhatikan sekelilingmu...

Selalu ada orang yang berusaha menghadirkan senyum diwajahmu.
Kau memanggilnya dengan banyak sebutan ; ibu, ayah, kakak, adik, teman, sahabat.

Maka, nikmatilah...

Tertawalah.... Berbahagialah...


Depok, 12 Juli 2017
Atika Widiastuti