Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2019

Punya Siapa?

Di satu waktu, rasanya sebegitu ingin bebas. Melangkahkan kaki sesuai keinginan, melakukan apapun sesuai kemauan diri sendiri, tanpa perlu merasa bergantung atau tak enak hati kepada orang lain. Karena apapunnya, sesuai mauku. Tentu masih dalam batasan-batasan. Aku tak sebebas itu kamu tahu.

Tetapi di lain waktu, rasanya sebegitu ingin terikat. Melakukan sesuatunya karena menurut pertimbangan yang lain, melangkahkan kaki bukan lagi hanya atas kehendak diri sendiri. Inginnya didampingi, ditemani, bukan lagi semauku.

Lantas timbul pertanyaan di dalam diri, sebenarnya dirimu punya siapa?

dok. pribadi
------
ditulis pada13 Maret 2016, ditambahkan pada 22 Mei 2019.
Atika Widiastuti

Menjadi 24

Menjadi 24 ternyata hanyalah sebuah angka. Dulu, waktu usiaku masih angka 1 di depannya, memandang orang yang usianya 20-an itu terlihat keren, bijak, dia sudah tahu dirinya siapa.

Membuat aku rasanya ingin cepat-cepat berada pada usia itu. Terbayang mimpi-mimpi usia belasan yang satu persatu terwujud di usia 20-an.

Nyatanya, ke sana butuh proses. Perjalanan. Yang tak bisa hanya sekedar dibayangkan. Tetapi juga diusahakan.

Dan memang hanya sebuah angka. Karena 24 yang sekarang, rasanya tak beda jauh dengan belasan yang dulu.

try to let it go.
It is okay not to be okay.
--- semangat, kamu!

Rabu, 29 Agustus 2018

BROMO MALANG BATU - Sebuah Cerita Perjalanan

Hai!
Aku memutuskan untuk posting tentang ini agar membantu teman-teman yang mau vakansi ke destinasi serupa, juga untuk mengabadikan perjalanan kali ini ke dalam bentuk tulisan, agar terekam terus. Di akhir tulisan nanti akan ada uraian bugdet selama perjalanan, jadi untuk teman-teman yang ingin pergi ke sana bisa memperkirakan keuangan, ya. Ini trip ekonomis bin irit budget, memanfaatkan yang bisa dimanfaatkan.

Perjalanan dimulai pada tanggal 10 Agustus 2018. hari Jum'at. Tiket keberangkatan adalah pukul 15.10 WIB sore hari dari St. Pasar Senen, sehingga setelah dikalkulasi, Aku harus berangkat setidaknya setelah Zuhur dari Depok. Adikku, yang paginya sekolah, langsung ku buru-buru untuk bergegas setelah ia pulang sekolah. Takut tertinggal kereta masalahnya, ia pundung, tapi tetap ikut terburu-buru juga.

Dari Jakarta kami pergi berlima, Aku, Adikku, Nisa, Adiknya Nisa (Arinda) dan Ibunya Nisa. Ibunya Nisa berhenti di beberapa stasiun sebelumnya untuk mudik ke Nganjuk. Jadi perjalanan sampai stasiun Malang hanya dilanjutkan oleh kami ber-empat.

10 Agustus 2018
Hari pertama, 16 jam dilalui dengan berkegiatan di kereta, makan, tidur, main, ngobrol, bersih-bersih, ibadah dll sampai esok paginya.

11 Agustus 2018
Di Stasiun Malang sudah menunggu kami, ada Fajar, sepupunya Nisa dan Arinda juga Joko, kenalanannya Nisa yang bisa dibilang jadi tour guide perjalanan ini. Joko ramah, baru pertama kali ketemu langsung menunjukkan aura akrab gitu. Fajar lebih banyak diam, belakangan aku tahu karena Fajar besar dan tinggal di Jawa, ia mengerti bahasa Indonesia yang kami ucapkan tapi bingung untuk meresponnya, makanya ia lebih banyak diam.
Mungkin rasanya seperti saat ada bule atau english speaker yang lagi berbicara, kita paham maksud dia, tapi kita sendiri bingung untuk merespon, bingung kosakata, grammar, dll-nya. Gitu.

Joko langsung mencari mobil sewa-an kami di sekitaran stasiun, kami mengikutinya. Oh iya, ini penting. Saat persiapan sebelum berangkat, dipastikan dulu selama di sana  akan menggunakan transportasi apa. Angkutan umum sih ada, ojek online juga kabarnya sudah masuk Malang. Tapi agar lebih mudah menjelajah Malang-Batu, kami menyewa sebuah mobil. 350 ribu untuk 12 jam, muat sampai 7 penumpang, harga itu adalah untuk mobil dan supir, belum termasuk bensin. Pilihan sewa mobilnya ada banyak di internet, kamipun menemukannya dari sana, dan cari yang termurah; 350 ribu.

Setelahnya, Joko mengajak kami makan di sekitaran stasiun Malang, makan rawon, untuk pertama kalinya untukku, jelas. Makan pagi kali ini ditraktir Nisa, baik banget emang dia tuh. Tau gitu, nambah ya :p

Lalu kami beranjak ke Taman Tugu, disana berfoto-foto sebentar lalu pergi lagi. Taman Tugu indah kalau malam hari, karena lampu bunga-bunga nya menyala. Aku hanya sempat melintas ketika malam, melihat dari dalam mobil. Joko juga sempat bercerita bahwa di bawah Taman Tugu, dulunya ada lorong yang menghubungkan beberapa tempat di Malang. Tapi entahlah... jadi legenda.
Atika dan Frida, kesilau-an
Fajar, Nisa, Frida, Arinda, Joko
kalau malam, bunga lampunya menyala


TAMAN SELECTA
Waktu sebelum berangkat, aku beberapa kali sempat searching di internet, destinasi apa yang harus dikunjungi ketika di Malang, munculah "Taman Selecta", sebuah taman yang terletak di Kota Batu, tiket masuknya lumayan mahal, di web saat itu 25 ribu per-orang, tapi karena melihat foto-foto tempatnya yang bagus, maka saat disana kami memasukkan Taman Selecta sebagai salah satu tempat destinasi. Perjalanan lumayan jauh, satu jam lebih mungkin. Tapi jalanannya gak macet sama sekali, padat lancar. Cuacanya adem, hawanya sejuk. Ah betah!

Sampai disana, ternyata harga tiketnya 35 ribu per-orang. Waw mahal juga. Tapi ya gapapalah, udah terlajur sampai di sini. Akhirnya kami masuk, dan ya.... agak sedikit melenceng dari ekspektasi kami saat melihat foto-foto di internet. Taman ini lebih kecil dari Taman Bunga Nusantara, tapi di dalamnya cukup lengkap, ada berbagai macam wahana, yang tiketnya harus beli lagi terpisah dari tiket masuk. Mungkin untuk warga sekitaran Batu Malang tempat ini worth it banget untuk dikujungi karena di dalam taman ini juga ada kolom renangnya. Jadi bisa setelah puas berenang, lalu foto-foto di taman, dan satu dua kali naik wahana permainan di sana. Tapi untuk pelancong seperti kami, tidak ada yang bisa dilakukan selain foto-foto dengan backgound bunga -dan naik wahana jika memang ada budget-nya.




Serasa tak ingin sekali meyia-nyiakan tiket 35 ribu tersebut, maka aku, memuaskan diri dengan memotret apapun yang bisa dipotret! Ini beberapa hasilnya, lumayan.. bisa dijadiin wallpaper laptop dan Hp, hehehe





Setelah 'puas' berkeliling taman dan foto-foto. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Coban Talun, OYOT. Coban itu berarti Curug dalam bahasa Jawa. Medan ke Coba Talun lumayan bikin capek sih. Naik-turun, jalurnya tanah, halus, berdebu, dan belum ada pijakan untuk kakinya. Tapi sampai sana, cukup puas untuk sekedar merendam kaki dalam air. Padahal biasanya Aku akan langsung 'nyebur' main air kalau itu curug di daerah Jawa Barat, ada pakaian ganti dan memang itu tujuannya, kan. Tapi di Coban Talun ini ku tahan..... cukup merendam kaki dan berfoto-foto saja. Foto pakai HP karena mau irit batere kamera, hehe.





Selesai main air di Coban Talun, kami melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun Kota Batu. Ah, Alun-alun seperti ini, yang kenapa tidak ada di kota Depok T.T rasanya seru, duduk-duduk mengobrol di bangku taman, sembari makan jajanan gerobak, yang banyak macam dan harganya murah. Menghabiskan sore. Beli susu dan sempol, sesederhana itu.




Puas duduk-duduk disana, dan untuk mengejar waktu juga, karena jam 7 malam, mobil sewa-an harus kembali ke asalnya, ternyata dihitungnya dari jam 7 pagi ya, padahal kami mulai pakai jam 10. Perjalanan kembali ke Malang lumayan padat, enggak macet. Di perjalanan kami mampir dulu ke tempat oleh-oleh, Lancar Jaya namanya, sepertinya sangat terkenal di Malang. Kami membeli makanan khas Malang, kripik tempe, juga makanan oleh-oleh lainnya. Belanja di sini, jika di atas 75 ribu akan diberikan kardus tenteng, jadi gak ribet dan repot bawa belanjaannya.

Curhat sedikit, sampe sekarang masih nyesel kenapa cuma beli enam bungkus kripik tempe, karena rasanya enak banget :( pas cek di shopee ada yang jual tapi satuannya harga 9.000. Padahal aslinya 6.500, dan 1 kg cuma muat 5 plastik. Kayak sayang diongkir dan selisih harganya gak sih, hehehe... Oh iya, entah ini mbaknya lupa masukin atau kardusnya gak muat, pas dicek di rumah, sari buah yang adalah salah satu oleh-oleh yang kubeli gak masuk kardus ternyata. Hmmm....

Mampir ke sebuah masjid di daerah perumahan dalam, kami solat dan bersih-bersih diri. Selesai itu lanjut menuju Alun-Alun Kota Malang. Lagi-lagi, kenapa tidak ada tempat seperti ini di Depok T.T ditempat itu kami berpisah dengan pak supir dan mobil sewa-an kami.


Untuk menuju Bromo, kami akan dijemput pukul 12 malam. Saat itu masih pukul 7 malam, lalu sekarang kita akan kemana? Beruntung Fajar ingat bahwa ia punya sodara (yang berarti adalah saudara Nisa dan Arinda juga) di sekitaran alun-alun Malang. Maka kami memesan grabcar menuju kesana.

Kami di rumah Saudaranya Fajar sampai pukul 23.30 malam kemudian dijemput mobil dari travel agent tempat kami mendaftar trip.  Di sini bergabung Malfin, teman kuliahnya Joko.

12 AGUSTUS 2018
Sampai di basecamp sekitar pukul 01.00 pagi, menunggu jeep sebentar lalu berangkat. Niat awal di dalam jeep ingin tidur, tapi ternyata 'jeep' dan 'tidur' tidak bisa berjalan beriringan, sepanjang jalan berlubang-lubang, goyang kanan goyang kiri, saling kepentok kepala dll, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati saja perjalanannya. Salut banget sama bapak driver-nya, hebat banget bisa aman bawa jeep di jalan begitu.

Travel agent kami ini namanya Wisata Ngalam, @wisatangalam username-nya di IG, untuk trip Bromo ini, satu orang kami membayar 250 ribu. Sudah termasuk mobil untuk penjemputan di manapun selama masih di daerah Malang (kami dijemput di tempat saudaranya Fajar), mobil jeep dari basecamp travel menuju ke Bromo, juga diantar kembali untuk pulangnya ke lokasi penjemputan awal. Cukup murah dan terjangkau sih menurutku.

Sampai Bukit Kingkong pukul 03.00 pagi, suhu di sana jangan tanya deh, dingiiiiiiiiiin banget. 4 derajat! Pakai jaket dan sarung tangan pun rasanya gak ngaruh. Sampai sana di jam 3 pagi sudah ramai, turis lokal juga bule dari berbagai negara kumpul jadi satu. Padahal sunrise juga baru muncul pukul 05.00-an lewat, kan. 2 jam menunggu, kami berjibaku dengan dingin sembari mencari spot yang kira-kira bagus untuk difoto ketika nanti sunrise nya sudah muncul. Ah ternyata dimanapun sama rame-nya.

Tapi satu yang pasti adalah, bintang-bintang di sana, sedekat itu. Berasa kayak lagi ada di Planetarium, tapi bedanya, yang ini bintangnya asli, nyata, di depan mata. Untuk sesaat dingin tak terasa, yang ada adalah rasa syukur, karena mataku, bisa sebegitu hebatnya menangkap gambaran ini. MasyaAllah! gak bisa difoto pakai kamera yang kubawa, apalagi pakai HP. Tapi mataku, ia jelas merekam semuanya.

Dan sepertinya untuk sesaat, aku sempat tertidur, di waktu kedinginan itu, saat teman-teman yang lain antri untuk wudhu dan buang air kecil. Karena antrian cukup panjang dan kamar mandi hanya dua.

Sedikit dokumentasi suasana Bromo dari Bukit Kingkong :
gak ada spot yang kosong

Frida si hidung minimalis

Ini bromo udah agak pagi, file asli belum diedit, bagus ya...

Frida ber-background bromo

Atika (udah enggak) kedinginan

Udah mirip poster-poster buat quotes motivasi belum?
Akur sekali adik kakak ini
Pukul 06.00 pagi kami turun dari Bukit Kingkong, dan ternyata bapak supirnya menunggu sejak kami naik pukul 03.00 tadi. Kami langsung diajak berkeliling Taman Nasional Bromo ; Bukit Savana Telletubies, Pasir Berbisik, Kawah Bromo, satu lagi aku lupa namanya. Cukup lama kami berfoto dengan jeep ber-background Gunung Bromo, karena tidak ingin menyia-nyiakan momen. Cukup banyak sampai sempat satu persatu naik ke atas jeep untuk difoto bergantian.







Lanjut ke kawah Bromo, disana lagi-lagi kami hanya berfoto saja, karena dari kejauhan sudah terlihat antrian manusia di tangga menuju kawah, berjejer seperti semut, maka kami urungkan untuk ikut serta ke dalam kerumunan itu.





Lanjut ke Pasir Berbisik, di sana cuma sebentar karena mengejar waktu kepulangan, juga karena bau pasirnya menyengat sekali, jadi gak kuat lama-lama, bau belerang mungkin, ya..
Disana kami hanya mengambil foto bersama, melompat, mandatory photo kalau trip rame-rame. Pakai timer.

timer adalah penyelamat
Kami tidak diberi waktu batasan, hanya saja kami membatasi diri sendiri, agar tak tertinggal kereta pulang. Meski kereta menuju Jakarta-ku berangkat pukul 17.50 sore, tapi kami sepakat mengakhiri sesi keliling Taman Bromo ini pada pukul 10.00 karena kereta Nisa, Arinda dan Fajar berangkat pukul 14.50 sore. Hanya aku dan adikku yang pulang ke Jakarta sedangkan Nisa dkk menuju ke Nganjuk untuk mudik.

Di bukit Telletubies saat itu sedang gersang, disaat yang sama, Aku dan Nisa singgah di sana hanya untuk buang air kecil. Setelah selesai dengan urusan kami dan kembali ke rombongan ternyata teman-teman yang lain sedang makan bakso dan sudah selesai. Bisa dibayangkan seberapa lama kami mengantri toilet?



Pukul 10 pagi kami selesai berkeliling, kembali naik jeep, jam 1 siang sampai di basecamp, kemudian diantar lagi menuju rumah saudaranya Fajar, sampai di sana pukul 2 siang. Beres-beres barang juga bersih-bersih, kami diberikan makan siang pula. Baik sekali.

Pesan Grabcar untuk menuju stasiun kereta Malang, begitu sampai, Nisa dkk langsung masuk karena kereta lokalnya sudah tersedia, sedangkan aku dan adikku baru bisa masuk pukul 4 sore. Jadilah kami, 2 jam menunggu di luar. Karena bosan akhirnya kami berjalan-jalan sebentar, ke sebuah taman di depan stasiun kereta Malang, Taman Trunojoyo, sambil makan sempol (lagi).


Pukul 16.30-an, Aku kembali ke stasiun Malang dan masuk ke gerbong, akhirnya. Beli beberapa cemilan dan makanan berat dulu sebelum masuk kereta. Ajaibnya, atau mungkin naluri kakak ya, saat itu yang terpenting adalah adikku bisa ada makanan, urusan aku gimana itu gampang. Tapi Alhamdulillah, Allah Maha Baik, kami bisa beli dua porsi makan dengan uang yang tersisa saat itu, enggak usah tanya uangnya berapa, karena sampai Stasiun Senen yang pertama kali kucari adalah ATM! Haha

Di kereta, 16 jam berkegiatan di dalam, berdua. Berasa dewasanya gitu, pergi jauh jagain adek hahaha

13 AGUSTUS 2018
Kereta sampai di Jakarta pukul 10.00 pagi, lalu Aku langsung mencari ATM untuk ambil uang dan beli makanan. Selesai makan kira-kira pukul 11.00 baru kami masuk ke gerbong KRL, cukup lama perjalanan KRL dari St. Ps. Senen- St. Depok, sekitar 2 jam. Sampai rumah sekitar pukul 2 siang, lalu langsung bersih-bersih, maklum selama trip kan gak bersih-bersih diri dengan proper :p

Dan berikut adalah list pengeluaran selama 4 hari 3 malam trip ke Bromo Malang-Batu :
- Ojek Online PP Rumah-St. Depok
   Rp.     22.000
- Open trip Bromo
   Rp.  250.000*
- Tiket Kereta Matarmaja PP
   Rp.  218.000*
- Tiket KRL PP St. Depok-Ps. Senen
   Rp.     14.000
- Oleh-oleh 
   Rp.  163.000
- Tiket masuk Taman Selecta
   Rp.    35.000
- Patungan bensin dan sewa mobil
   Rp.    70.000*
- Tiket Coban Talun, OYOT
   Rp.    10.000
- Makanan dan cemilan selama trip
   Rp. 333.000
- Toilet dan kebersihan
   Rp.    10.000
- Patungan Grabcar selama trip
   Rp.    15.000

Karena aku mengajak adik, maka seluruh pengeluaran di atas dikali dua, kecuali untuk oleh-oleh dan makanan. Yang aku beri tanda bintang adalah pengeluaran inti untuk trip ini, sedangkan yang lain itu menyesuaikan keinginan masing-masing aja. Bagaimana? untuk ukuran 4 hari 3 malam, tanpa penginapan (karena kita tidur di kereta), cukup ekonomis, kan?

Sekian cerita perjalanan yang panjang dan banyak fotonya ini.

Terimakasih Tim Bromo terkhusus Frida, adikku yang setelah lihat rincian biaya, gamau ikut lagi jalan-jalan (katanya :p), Joko sang tour guide, Nisa yang ngajakin ikut trip, Arinda dan Fajar, yang bikin rombongan ini tambah rame, juga Malfin sang fotografer, yang membuatkan video perjalanan yang saaaangat apik (Ada di postingan instagram profilku @atika_widi, tapi kepotong durasi, atau bisa dilihat di IGTV nya Malfin untuk versi lengkapnya, @malfin.nugraha).

Terimakasih sekali lagi, Terimakasih.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang ingin melakukan trip serupa.
Sampai jumpa ditulisan jalan-jalan selanjutnya! Yeay!


Atika Widiastuti,
Depok, 29 Agustus 2018



Rabu, 21 Maret 2018

Renungan, Paska Kelulusan

Meski bukan 100% pengangguran, tapi nyatanya sampai saat ini memang belum ada rasa ingin untuk mencari kerja di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliahku. Sebagian orang berkata, "masa udah kuliah capek-capek 4 tahun, pas cari kerja gak sesuai jurusan. capek doang?!" dan sebagiannya lagi berkata, "gakpapa kerja di bidang yang gak sesuai dengan jurusan. Ingat, hidupmu gak ditentuin cuma dari 4 tahun masa kuliah." Dan ternyata, aku setuju kedua-duanya.

Hari-hariku disibukan dengan menekuni hobi yang baru dikuketahui beberapa bulan belakangan ini, yaitu fotografi. Beruntungnya aku, dikelilingi oleh orang-orang baik, alat-alat penunjang hobiku ini, insyaAllah lengkap semua. Tinggal aku nya, mau atau tidak mengasah skill.

Tapi bukan berarti aku akan terus-terusan begini sih, karena aku pun masih sangat ingin bekerja sesuai dengan jurusan kuliahku, teknik lingkungan. Tapi nanti.

Aku gak mau rasanya diburu-buru waktu, melihat teman daftar kerja disini, lalu latah. Lihat teman ikut tes ini, kepingin juga. Diburu waktu dan dikekang pandangan publik, capek kan. Jadi untuk sekarang, aku nikmati dulu saja yang ini.

Aku juga coba apply-apply short course / ekskursi / conference gitu. Khusunya yang temanya di bidang sosial. Membawa "Program Kakak Asuh"-ku dikenal lebih jauh lagi. Yaaa siapa tau kan, jodoh? hehe selagi gratis yaa coba aja~

********
Meski nyatanya aku menikmati hidupku yang saat ini, namun tetap aja rasanya, selain di waktu-waktu sibuk dan memang ada kerjaan, rasanya hampa, semacam, "hidup gue kok gini amat, ya?" Rasanya rindu dikejar deadline, karena sekarang, karena 'sedikitnya' kerjaan yang dipunya, jadi begitu ada kerjaan, jadi langsung dikerjakan. Rindu membuat diri sendiri sibuk. Rindu yang tiap saat berjibaku dengan banyaknya tugas kuliah, bertemu orang, lalu saling berbagi cerita dan keluh kesah pengerjaan tugas, haha. Disaat kehampaan itu datang (cailah), akhirnya pegang HP dan buka medsos, Scrolling~ Stalking~

Gak memungkiri memang media sosial saat ini udah jadi semacam kebutuhan banget, atau hanya Aku? Tapi sebenarnya enggak juga. Meski kamu gak selalu posting foto beserta captionnya, pasti dalam sehari ada update story di IG-mu, atau minimal kamu membuka dan scrolling timeline, kan?

Mungkin tanpa disadari, serasa memamerkan pada dunia, gue lagi ngelakuin ini loh, gue tadi makan / beli ini loh, ini lagi hits, dan gue udah punya loh. Iya, apa iya? Meski positifnya aku jadi tahu, apa kesibukan teman-temanku saat itu. Tapi gak memungkiri sih, scrolling timeline itu bikin rasa iri dalam hati muncul. Misalnya, lihat teman upload foto komputer kantor dan memperlihatkan deadline pekerjaannya, wah asik yaa udah kerja. Atau lihat teman upload menara landmark suatu daerah, oh ternyata lagi jalan-jalan. Atau lihat teman lagi ngobrol-ngobrol di kafe, oh dia temannya banyak ya. TERUS AKU GIMANA? KOK AKU GAK BISA KAYAK DIA? Ujung-ujungnya insecure.

Sebenarnya, wajar gak sih ngerasa kayak gitu?

Maka buat kamu, yang sudah berada di posisi dari beberapa yang kusebutkan diatas, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan, bersyukurlah. Posisi sibuk dan lelahmu yang sekarang, adalah posisi yang banyak orang menginginkannya.

Dan buat kamu, yang belum ada di posisi itu, yang masih berjuang, yang merasa masih ragu dan belum mengetahui tujuan hidupnya apa, terus semangat, ya! Tiap orang miliki waktunya masing-masing, ia tepat. Tak terlambat atau terlalu cepat datangnya. Asal jangan lupa, ia tak datang sendiri, ia perlu diusahakan. :)

*****
kang balon~



Kamis, 01 Februari 2018

Hobi, yang (baiknya) dihargai.

Sebuah foto dikirim ke sebuah grup di WhatsApp, berisikan quotes penyemangat seperti ini :

Alih-alih memuji hasil karya atau sekedar meresapi makna kalimat quotes penyemangat itu, seseorang merespon, "kayak simbol yang sekarang lagi booming (one eye), hehe" ditambahkannya lagi, "kenapa kamera cuma dikasih satu lobang untuk melihat? kenapa gak dua-duanya biar puas dan ga pegel? apa ini konspirasi? *ceritanya lebay"

Lalu sang empunya gambar merespon, yang buatku menyunggingkan senyum asimetris di bibir.
"Lebay aja itu, biar gak mainstream. Intinya mah quotes-nya. Maksud gambarnya adalah, ada seorang fotografer profesional (yang adalah sebuah profesi), lalu ada setengah pantulan ring light di mata kanan si fotografer (penanda satu jenis fotografi ; beauty model).

Lalu ada triger di atas kamera (pertanda pemotretan dilakukan di dalam studio), ada lensa yang masih pake kode hyperfocal distance (tandanya lensa pro / fullframe).

LCD adanya di atas kamera tandanya kamera itu udah semipro ke atas, merk kameranya Nikon, kamera yang biasa dipake profesional.

Inti dari gambar tersebut adalah tuh fotografer lagi kerja, cuma sambil menikmati pekerjaan, karena dia difoto juga, enjoy sama kerjaannya, gak dibuat stress.

Sorry gak niat sombong yaa (ini kalimat yang buatku menyunggingkan senyum asimetris di bibir), jadi fokus aja sama quotes-nya, atau kalau mau exif data gambar boleh japri, siapa tau ada yang mau belajar biar bisa moto begitu. Diambil pake lensa 35 mm, f 2.0)."

Lalu seseorang itu tak merespon lagi, sampai saat ini.
***
Mungkin maksudnya bercanda, tapi kok ya gimana... Rasa 'nyelekit' di hati yang buat pasti ada, loh. "Gue bikin niatnya mau share semangat malah orang-orang komentarinnya apa."
Tapi Alhamdulillah jawabannya cerdas. hehe.

Itu hobi, emang dasarnya senang aja melakukannya, dilakukan kala senggang, kalau ada waktu luang. Lain dengan hobi yang satu ini.

Hobi yang dijadikan pekerjaan, memang terkesan seru untuk dijalankan. Kita melalukan itu, karena suka, karena memang kegemaran kita, ditambah kita mendapatkan uang dari situ. Tapi kayaknya, dalam kenyataan, masih banyak sekali orang-orang, yang menganggap ini bukan suatu karya yang patut untuk diapresiasi, dia beri komentar, "ah dia mah emang seneng aja lakuin itu. Udah biasa." Heu.

Seringnya, hobi yang dijadikan sebuah jasa ; design grafis, fotografi, hand lettering dan sebagainya.
Alih-alih menanyakan, "Kalau untuk foto / design ini, biaya nya berapa ya?" justru malah, "Bisa minta tolong ga buat ini?"

Lalu dijawab, "wah, kalau bikin / moto kayak gitu, belum bisa nih, hehe"
Dia-nya membalas, "kan cuma ambil gambar, geser-geser tambahin tulisan." atau "kan cuma tinggal jepret aja."

Ingin rasanya teriak di kuping kanannya, tapi kuping kirinya ku tutup, biar gak masuk kuping kanan, keluar kuping kiri : "Ya kalau gitu bikin sendiri aja sana, he he he he he he."
sengaja hehehehe-nya panjang, biar menyebalkan.

Misal udah dibikin, udah dibuat, komentarnya mengalahkan dosen pembimbing, "Kayaknya gambarnya gak cocok deh, yang itu font-nya bisa diganti gak? Kalau tulisannya ditambahin ini bisa?"
Mending cuma sekali, berkali-kali. Dia mungkin lupa kalau akadnya minta tolong.

Apalagi kalau ada yang minta tolongnya abstrak banget, cuma kasih tulisan aja, gak jelasin konsep, bilangnya, "ya kamu lebih pahamlah," kita mikir, ini gimana yang bagus ya? Eh tapi pas udah jadi katanya ga sesuai ekspektasi dia, dikira kita cenayang.

Udah jadi, hasil dari revisi ke-5 mungkin, dijawab, "kirim email ya." dan satu lagi kalau inget, "makasih"

Gak ada basa-basi, gak ada penghargaan, gak ada apa-apa.
Bukan, bukan maksudnya jadi pelit atau tidak mau memberi pertolongan,
Bukan juga niat untuk diminta imbalan, tolong dibedakan.
Ini cuma tulisan singkat tentang memberi penghargaan, dan sedikit tentang, "tau diri". Kalau dari awalnya mau minta tolong, ya tolonglah jangan merepotkan, tau gak, dia tuh menyisihkan waktu dan tenaga-nya untuk mengerjakan itu, sesuatu yang kamu mintakan tolong padanya, secara gratis.

Katanya teman, harusnya tau dong, gimana perasaan si temannya itu? :)
***
Ah, prolog sama tulisannya jadi dua hal yang berbeda ya, iya gapapa lah.
***
ditulis hanya karena ingin menulis, ditambah bumbu-bumbu gemes yang daripada kadaluarsa, lebih baik diracik disini. Tidak ada niatan menyinggung siapapun, terimakasih pemaklumannya.


Jumat, 12 Januari 2018

Rumah Kedua




"Tika, kok rame sendiri si?", sebuah kalimat terlontar tadi sore dari seorang kakak karena melihat diriku yang... entah, menurutnya terlalu 'rame', dalam artian heboh sendiri.

Aku diam sejenak, berpikir, "iya, kenapa ya?" lanas terontar jawaban, "Aku seneng banget kaaaaak. Biasanya sendirian bolak-balik ke sini. Sekarang rame. Pake banget!"

Definisi bahagia menurut Atika, sesederhana itu.

Rumah Iqro,
menjadi rumah kedua sejak Aku kelas 6 SD, Dimulai dari jadi santri TPA waktu itu, karena mungkin dirasa sudah cukup pantas, ketika SMP, seorang Aku ini 'naik tingkat' jadi pengajar TPA-nya. Saat SMA, Aku jadi bagian dari pengurus TPA-nya. TPA yang meski tiap santrinya diberi kartu bayaran bulanan, tapi jaraaaang sekali ada yang membayar. Membuat kami yang saat itu menjadi pengurusnya serting banget ngelus dada, "ini uang listrik dari mana? uang kebersihan? alat tulis KBM? uang lelah pengajar?" Hingga akhirnya terlontar kalimat, "jadikan ini sebagai ladang amal kita ya, insyaAllah berkah."

Lalu kuliah, tiba-tiba Aku ini masuk 'ring utama' pengurus. Dari TPA yang adalah unit kegiatan yayasan, aku diamanahkan menjadi bendahara yayasan, yang isinya semua pendiri yayasan. Jiper. Berasa anak bawang.

Di dua tahun waktu kuliah, aku dipindahtugaskan lagi ke bagian ain. Marketing and Communication. Apa itu? Ya gitu. Singkatnya jadi Mimin. Karena katanya, Atika is always with her handphone, jadi cocok. Haha. Jarkoman. Bikin poster. Bikin segala macam tentang branding dan penginfoan gitu.

Hingga saat ini, ditambah beberapa tugas sampingan, side project dari sesepuh Ri, satu dari tiga kakak terbaik saya, kak Jayadin, yang selalu bilang, "saya mau yang ini diurus adek-adek kamu. Nah kita bikin kegiatan lain yang lebih hebat lagi dek. Nanti kalau itu udah settle, regenerasi-in ke adek-adek kamu yang lain lagi. Kita handle project yang lebih besar lagi. Biar jadi pembelajaran bersama.

yang selalu, "Tika bisa handle ini?" "Kamu kerjain itu, saya ini ya." "Nah. Ayo dong idenya!" Kalau ada yang gak sesuai ekspektasinya, beliau berkata "Gapapa. Biar saya ada bahan buat ngomelin."

Demi itu semua. Kurang lebih 10 tahun saya tumbuh bersama Rumah Iqro. Selama itu pula, banyak yang datang, tapi lebih banyak yang pergi.

Saya selalu senang setiap dapat kabar bahwa kakak-kakak saya akan segera menikah, karena artinya, saya bakal punya satu kakak baru. Tapi lain harapan, lain kenyataan. Justru setelah menikah, para kakak saya ini banyak amanah baru tambahan, membuat yang hampir tiap hari batang hidungnya saya lihat, berkurang jadi seminggu sekali, sebulan sekali, hingga akhirnya benar-benar kita hanya bersapa lewat media.
Meski tidak semua, tapi ya... anggaplah ini curhatan seorang Adik, ya kak. ^^

Makanya saya termasuk yang getol banget untuk memprovokasi seorang kakak, "kapan nikah, kak? "kapan kenalin calonnya?" Tapi giliran beneran dapat undangan nikah, jadi galau sendiri. Bukan iri. Ya you know, berarti kemungkinan terburuknya, saya harus rela tambah jarang bertemu dengan kakak itu.

Beigtu juga teman-teman sebaya. Kami angkatan ketiga, dulu kami ramai, mendominasi pada masanya. Satu persatu pergi, ada kesibukan di tempat lain. Hingga tingga aku, seorang perempuan sendiri di angkatan ini. Berdua sama Irul, yang masih setia mendengarkan kak Jayadin curhat.

Maka ketika hari ini, suasana Rumah Iqro menjadi sebegitu ramainnya. Saya merasa haru sendiri. Ini nyata, kan?

Bukan. Bukan menyalahkan teman-teman. Karena pertemuan dan perpisahan adalah keniscayaan. Apapun kegiatan dan dimanapun kita berada sekarang, itu mutlak keputusan masing-masing. Pun saya yang berkeputusan untuk tetap disini.

Tapi, boleh kan Aku sejenak rindu suasana dulu?

***







Jumat, 29 Desember 2017

Self thought

Kalau kamu bisa lihat laman blogger ini, banyak sekali tulisan yang masih save as draft. Belum selesai satu, rasanya mau tulis kegelisahan-kegelisahan lain. Tapi gak pernah ada yang selesai. Karena sembari menulis itu, saat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan sudah dituangkan, rasanya kegelisahannya menjadi runut dan sudah terselesaikan, hehe. Maka gak dilanjut lagi. Gitu. Alhamdulillah ya..

Kamu yang bukan penggemar k-pop, pun pasti tahu kan berita kematian Kim Jong Hyun Shinee baru-baru ini? Aku gak ikutin banget beritanya, tapi sebagian besar berkata kalau penyebab Jong Hyun bunuh diri itu adalah karena depresi. Depresi tuh seram banget, ya. Kita gak bisa dan gak boleh sih men-justifikasi Jong Hyun gimana-gimana, karena kita gak pernah ada di posisi dia.. Nah jadi maksudku disini adalah, menulis ini bisa jadi sarana merunutkan pikiran loh, biar gak terpendam sendiri. Kalau nantinya tulisan ini kamu baca (yang artinya gak berakhir sebagai draft aja), berarti kegelisahanku tentang hal ini belum berakhir alias masih terus terfikirkan, hehe

***
Gimana ya?
Dulu saat masih kuliah, idealnya adalah setelah lulus langsung dapat pekerjaan yang enak (yang diamini oleh sebagian besar orang) karena merupakan lulus salah satu lulusan universitas ternama. "Enak" disini juga artinya hampir sama bagi sebagian orang, "jabatan tinggi", "gaji stabil", singkatnya, hidupnya bakal stabil. Padahal, kehidupan engga semulus itu. Ntah, mau dibilang tulisan ini pemakluman, pembenaran atau sebagainya, tapi ya... ternyata banyak variable-variable lain yang baru muncul setelah hal itu teralami, pendek kata, gak terbayangkan saat hal-hal itu masih jadi rencana-rencana kita dahulu. Bingung? coba baca lagi.

Desember 2017, tepat 4 bulan masa-masa setelah lulus, pengangguran, atau bahasa halusnya "masa liburan sejenak" gak terasa udah terlewati. Akunya sih santai aja, pun ibu, maksudnya ibu gak memaksa untuk segera cari pekerjaan, karena bagi beliau, hidupku adalah aku yang jalani, baik buruknya aku yang tanggung. Tapi yaa gak bisa dipungkiri sih ibu menaruh banyak banyaaak banget harapan, agar anak pertamanya ini segera dapat kerja. Terlebih tetangga-tetangga yang omongannya gak bisa dikontrol huhu, kadang jahat-jahat banget. Kenapa sih :(

Seringnya aku kasih pengertian ke ibu, "Bu, Tika bukannya gakmau cari kerja.. Pasti nanti Tika cari koko. tapi untuk saat ini rasanya belum siap untuk desak-desakan di kereta, berjibaku dengan jalanan ibu kota. Ketemu pewawancara dan jawab pertanyaan.." Ibu memaklumi, dan kembali mejelaskan bahwa yaa ini hidupnya Tika, Tika yang paling tahu cara menjalani nya.

Hari-hari-hari terlewati, Aku jadi sering berpikir gini, "sebenarnya, apa yang mau dicapai Atika dalam hidup?" Kalau untuk membahagiakan Ibu, emang tau parameternya apa? Emang dengan mendapat pekerjaan yang seperti dibayangan ibu (di kantor, depan komputer) itu disebut membahagiakan ibu? Gimana kalau kamunya sendiri gak bahagia dengan itu?
Kadang jadi ada tambahan pikiran, "Apa kebahagiaan ibu dan kebahagiaan Tika emang pasti bertolak belakang, ya? Apa kalau mau bikin ibu bahagia, Tika nya harus merelakan kebahagiaan sendiri? Dan adakah cara supaya kebahagiaan kita bisa selaras? Ibu bahagia, Tika juga bahagia jalanin pekerjaan itu." 

Yaa.. Aku gak pengangguran-pengangguran amat sih, ada pekerjaan yang sebenarnya hobi, Aku enjoy aja jalaninnya, jadi masih ada penghasilan, tapi gak tetap, akhir-akhir ini aku sering dapat job foto wedding, prewedding atau event gitu. Mungkin karena merasa gak enak sama ibu, belum bisa bekerja sesuai apa yang ibu ekspektasikan, hasil fee-nya seringnya 100% dikasih ke ibu. Ibu gak minta, sama sekali, tapi anaknya ini gak enakan. Kayak semacam mau membuktikan, "Bu, ini loh Aku. Gak perlu harus udah ada pekerjaan settle kan untuk bisa kasih ibu uang? Rezeki Allah gak bakal tertukar." tapi yaa gak berani diucapkan dengan kata-kata. Terlalu takut mendengar jawaban Ibu.

Ditambah lagi omongan tetangga, sebenarnya gak mau mikirin sih, karena denganku nya sih gak langsung berdampak, tapi ke Ibu, ke adik. Aku gak kepikiran sebelumnya. Kalau ke warung, "Da, Atika udah kerja?" mereka tanya ke adik, "Gimana mpok Mur, Tika kerja dimana?" tanya mereka ke ibu.
Duh. Kenapa sih pertanyaannya gitu amat? Sini langsung tanya ke orangnya biar gak desas-desus.
Mereka mana tahu kan kalau sebenarnya, bukan Tika-nya yang gak dipanggil-panggil interview kerja. Tapi eamg Tika-nya yang belum melamar pekerjaan di satu tempatpun!
yaa gimana mau dipanggil interview, kirim surat lamaran aja belum.
Tapi mereka tahu gak? Enggak.. Ya karena cuma berani omongin di belakang doang.
Sedih deh aku tuh sama orang-orang..

Ya makanya lamar kerja atuuh, Tik.
Nah itu dia, alasan kenapa sampai sekarang belum lamar-lamar kerja ; keseluruhan tulisan di atas.
***