Tampilkan postingan dengan label #collegelife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #collegelife. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 April 2017

How I Deal With #Bureaucracy

Hallo!

Sudah lama rasanya saya gak menulis disini, awalnya mau ditulis ketika sudah selesai presentasinya, tapi saya udah gak sabar untuk 'cerita' disini..


Here is it...
Salah satu matkul yang saya ambil di semester 8 ini adalah mata kuliah Kontaminasi dan Remediasi, mata kuliah S2 yang jadi makupil S1, dimana untuk tugas akhirnya, kami diperintahkan untuk membahas satu kasus kontaminasi yang terjadi di Indonesia dan teknologi remediasi seperti apa yang digunakan untuk prosesnya.

Singkat cerita, dibuatlah kelompok beranggotakan enam orang, dan setelah mengajukan beberapa usulan kasus kontaminasi, akhirnya kelompok kami memilih kasus kontaminasi timbal (Pb) di Desa Cinangka, Ciampea, Jawa Barat.

Belum. Tugasnya belum dipresentasikan. Kalau sesuai jadwal, maka presentasinya adalah tanggal 9 Mei 2017. Dan sekarang sudah dapat data apa saja? Belum dapet apa-apa.
Bukan. Bukannya gak dikerjain. Karena terus terang sebulan lebih terakhir ini, yang kami lakukan cuma bolak-balik urus surat izinnya. S U R A T  I Z I N.

Kasus ini, adalah tentang urusan administrasi di Depok dan Kabupaten Bogor. Saya gak berani menggeneralisir bagaimana daerah-daerah lain.

Yap! Maka postingan ini, semoga memberi pencerahan bagi yang membaca dan ingin mengurus hal serupa dengan saya. Bagaimana ribetnya cara menghadapi administrasi dan birokrasi dalam hal mengurus perizinan penelitian.

1. Pertama-tama, buat dahulu surat pengantar dari kampus. Kalau saya, buat dahulu surat pengantar dari Departemen Teknik Sipil. Di Dept. Teknik Sipil, surat pengantar ada dua macam, yang tulis tangan atau yang di ketik. Waktu menunggu yang tulis tangan lebih cepat dari yang diketik memang, tapi agar supaya lebih rapih, maka kelompok kami membuat yang diketik. Lalu tunggu beberapa hari untuk diambil surat pengantarnya.

Oh iya! Karena tujuan kami adalah kasus di Kabupaten Bogor, maka surat pengantar dari Departemen-nya dibuat dua; satu untuk di bawa ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, satu lagi untuk ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Depok. Surat ke Kesbangpol Depok dibuat karena Kesbangpol Kab. Bogor baru mau menerima surat ketika sudah ada rekomendasi dari kesbangpol daerah asal, yang mana karena kampus UI ada di Depok, maka surat harus berasal dari Kesbangpol Depok.

Sampai sini paham ya?

Surat pengantar nya yang ada dua, dibawa ke masing-masing instansi tujuan :
2a. Bawa surat pengantar dari Departemen ke Kesbangpol Depok, yang letaknya ada di Balaikota Depok. Sampai disana, ditanya keperluannya apa dan diminta menyerahkan satu buah fotokopi KTP. Prosesnya cepat. Surat izin dari Kesbangpol Depok bisa ditunggu di saat yang sama.

2b. Bawa surat pengantar dari Departemen ke Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bogor. Sampai disana, ditanya keperluannya apa?, ingin bertemu siapa?, apa sudah membuat janji? Lalu surat diberi stampel DLH, tanda sudah mendapatkan izin.

3. Surat rekomendasi dari Kesbangpol Depok dan surat izin berstempel dari DLH Kab. Bogor dibawa ke Kesbangpol Kab. Bogor untuk diganti dengan surat izin penelitian (padahal ya saya bukan mau meneliti). Sama seperti Kesbangpol Depok, surat izinnya bisa ditunggu selesai pada saat yang sama.

4. Bawa / kirim surat izin dari Kesbangpol Kab. Bogor itu ke DLH untuk di disposisi dan diberi izin, lalu tunggu kabar selanjutnya, kapan kamu diizinkan untuk wawancara dan minta data.

5. Selesai! Dengan mengikuti 4 langkah diatas. Kamu sudah mendapat izin untuk melakukan kunjungan ke Desa tujuan, atau untuk mewawancarai DLH, untuk meminta dokumen / data terkait kasus kontaminasi, atau melakukan apapun untuk tugas kuliahmu, selama kamu mematuhi tata tertib yang tertera pada surat.
^-^

---Bagi yang ingin mendapat info tentang tata cara mengurus perizinan, maka sudah selesai sampai disini. Tapi kalau mau membaca keseluruhan postingan saya, dipersilahkan---
***

Loh?! Gampang banget! Kok ampe sebulan lebih?
Lebay! Ini sih emang gak dikerjain.
Males aja kali lo nya~~


Jadi, postingan di atas adalah tata cara Y A N G  B E N A R dan R U N U T dalam membuat perizinan, kalau dihitung waktu mengurus plus waktu menunggu, seminggu juga selesai, kok. R U N U T gitu ya.

Tapi kok lo lama banget ngurusnya?
Pertama. Kami ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk bertanya-tanya tentang kasus kontaminasi di Desa Cinangka. Tapi KLHK engga memberikan data karena 'diluar kuasanya', kami disarankan untuk ke DLH Kab. Bogor-nya langsung dan bertemu dengan seorang kepala lapangan yang menangani kasus tersebut.
Okaylah~
Lalu, selang beberapa hari, jalanlah kami ke DLH kab. Bogor berbekal alamat yang ada di google. Naik kereta, sambung ojek mobil online. Lumayan sih, ada di Cibinong. Eh taunya U D A H  P I N D A H  K A N T O R. Mbok ya, diupdate gitu di website kalau udah pindah dan punya alamat baru :"). Setelah dapat alamat baru, kami bergegas kesana. Sampai sana, dilayani dengan ramah dan ditanya ada keperluan apa, kami jelaskan. Tapi kami tidak berhasil untuk bertemu dengan kepala lapangan yang dimaksud, tapi kami diberi nomer beliau agar bisa berhubungan dan membuat janji.
Okay okay~
Singkat cerita, chatingan-lah saya dengan sang kepala lapangan ini, sang Ibu memberi pengarahan untuk membuat surat dari departemen yang ditujukan ke kepala DLH. Jika kepala DLH memberi izin, maka boleh kami wawancara tentang kasus itu. Oke surat dibuat. Karena keterbatasan waktu, akhirnya kami meminta izin, apakah boleh di email saja? Sang Ibu membolehkan.

Lalu dibuatlah surat pengantar dari Departemen, tunggu beberapa hari, dan surat jadi. Lalu di-scan dan dikirim via email. Beberapa hari kemudian kami mendapat jawaban, "Mbak. Kita ga bisa kasih izin, mbak bawa suratnya dulu ke kesbangpol Kab. Bogor, harus dapat izin dulu dari sana, alamat ada di lalalala.."

"Suratnya belum saya sampaikan ke kepala Dinas. Nunggu izin dulu dari kesbangpol"

"Oh gitu, baik bu."

Beberapa hari kemudian...
Lalu, jalanlah kami ke Kesbangpol Kab. Bogor dengan surat pengantar dari Departemen yang ditujukan ke kepala DLH tadi. Sampai disana, dihampiri dan ditanya oleh satpam, "mbak ada perlu apa?", saya jelaskan bla bla bla bla
"boleh lihat suratnya, mbak?"saya kasih suratnya.
"Oh, maaf mbak, ini suratnya salah. (W H A T?) harusnya ditujukan ke Kesbangpol Kabupaten Bogor bukan ke Dinas Lingkungan Hidup. Masuk dulu sini mbak, biar dijelaskan."

Masuklah saya ke dalam sebuah ruangan, disana ada pegawai yang menjelaskan pada saya tata cara mengurus suratnya.
"Mbak, ini ditujukannya salah, harusnya ke Kesbangpol Kab. Bogor, bukan ke DLH."
"Iya bu, ini surat awalnya mau ditujukan ke DLH, tapi katanya disuruh bawa dulu ke Kesbangpol Kab. Bogor buat minta izin, makanya suratnya saya bawa ke sini."

"Tetap salah, mbak."
Yaudeeh... dibikin ulang deh~

"Mbak urus surat izin dulu ke Kesbangpol Depok, ya. Karena kampus Mbak kan ada di Depok. Kita lintas administrasi."
Oh, okay ntar dibikin~

"Sama ini surat yang ditujukan ke DLH, dibawa lagi ke DLH buat diminta stampel, tanda sudah diberi izin. Karena kami (kesbangpol) gak bisa memberi izin kalau dari instansi yang terkait (DLH) tidak memberi izin."
Disini saya 'ngotot-ngotot-an' ama mbak pegawainya.

"LOH GIMANA. KATA KESBANGPOL DISURUH BAWA KE DLH. KATA DLH DISURUH BAWA KE KESBANGPOL?"

kata DLH, bawa ke kesbangpol untuk minta izin, kalau Kesbangpol izinin, DLH P A S T I izinin.
kata Kesbangpol, bawa ke DLH minta stampel izin, kalau DLH izinin, Kesbangpol P A S T I izinin.

Ini yang bener yang manaaa ya Allah???
Terus aja begitu ampe cibinong-ui jadi deket dan gak ada macet.
Pulanglah saya tanpa mendapat izin apa-apa.

di-chat saya menjelaskan kenapa ibu kepala lapangan kasus Desa Cinangka tentang apa yang dijelaskan oleh pegawai kesbangpol Kab. Bogor. Terutama bagian stampel dari DLH. Dibalesnya cuma "ok"
waduww, ibu salah kasih info cuma jawab "ok"

saya masih legowo aja, sembari 
mengurus surat dari Departemen lagi, nunggu lagi. lalu dibawa ke Kesbangpol Depok.

UDAAH, SURAT UDAH JADII. KESBANGPOL DEPOK UDAH IZININ. TINGGAL MINTA STAMPEL DLH DAN DIBAWA KE KESBANGPOL. Lalu dichat lah sama sang ibu, "Assalamualaykum Atika. punten ini mengenai suratnya dibuat lebih terperinci, izin wawancara dan permohonan datanya tentang apa saja? tolong lebih detail supaya diarahkan oleh bagian umum dan kepegawaian."

waduuuwwww, ibu. kenapa gak dibilang dari awal.......ini surat ketiga yang dibuat ke departemen untuk tujuan yang sama, bosen kali mbak Dian di administrasi Dept. Sipil bikin suratnya :(

Lalu sang ibu memberikan nomer seorang bapak yang adalah bagian umum dan kepegawaian. Chat lah dengan si bapak, dan diakhiri dengan meminta kita datang langsung ke DLH untuk distampel.

Jalanlah ke DLH, surat distampel. Disuruh pulang._.
Esok harinya, jalanlah ke Kesbangpol Kab. Bogor, dengan membawa surat berstempel dari DLH dan surat rekomendasi dari Kesbangpol Depok.

Selesai. Rabu, 26 April 2017. Hari itu juga, surat izin jadi. Akhirnya yak wawancara juga!
Lalu chat ke Bapak bagian umum dan kepegawaian tersebut, bahwa Kamis besok kita mau wawancara, bolehkah?

Bapaknya berkata, "surat harus sampai dulu disini, nanti didisposisi, dibawa ke kepala. baru diberi izin boleh atau tidaknya wawancara."

Karena rasanya S U D A H  L E L A H  B O L A K - B A L I K Cibinong-UI-Cibinong-UI, akhirnya minta keringanan, "pak, diemail saja boleh?"

"jangan email, fax aja. kirim ke nomer ini."

Atuhlah nyari tukang fax sekarang dimana? haha
Akhirnya dapat kabar kalau di Kantor Pos Indonesia di FISIP bisa kirim fax.
Tapi karena lumayan jauh dari Kutek, akhirnya saya ke Kantor Pos di belakang kutek, dengan asumsi, 'kalau kantor pos fisip bisa, pasti semua kantor pos bisa kan?'

Jalanlah saya, bersama satu orang teman sekelompok. Dari kita berdua, belum ada yang pernah kirim fax. LOL.

"Bang. Bisa kirim fax?"
"apa, mbak?"
"fax. faximilie."
"oh, bisa."
Alhamdulillah...


"tulis nama sama alamat ya mbak?"
"eh?" saya plongo banget, emang gak ngerti tentang fax, ya ikutin aja perintah mas-nya.
"sama tulis nomer telepon, mbak."
yang saya tulis adalah nomer fax tujuan. Lalu dia bertanya lagi, "mau yang sehari sampai atau tiga hari?"
"LOH? Bukannya langsung sampe?"
"oh engga ada yang langsung mbak."
"oh gitu... kalau yang kirim sehari, besok sampai? jam berapa kira-kira?"
"ya gak nentu mbak.. tapi sampainya besok."
"yaudah deh, yang sehari sampai."


terus suratnya ditimbang (lah kok ditimbang?) dan si mas-nya ngetik-ngetik sesuatu di komputer, kirain dia kirim fax kan, terus keluar resi warna pink. Sumpah, ini gue curiga banget. kok tulisannya, "dokumen" terus nomer fax tujuannya ada di bagian pengirim.



"15.500 mbak"
oke, bayar, terus pulang. Tapi akhirnya kita balik lagi untuk memastikan "mas, ini bener kan kirim fax?"
"iya bener kok mbak."
okay~

sembari jalan pulang, ngobrol-ngobrol sama Nia, "ni, kok jaman udah maju banget. udah ada email, tapi ngirim fax aja seharian ya? aneh."


akhirnya chat ke bapaknya kalau surat udah di-fax, tapi sampenya besok. bapaknya bilang, "kirim apaan seharian? fax mah cepat, 5 menit juga sampai. ke wartel dulu ya, kirim ke nomer yang tadi saya kasih."

waduuuwww itu rasanya kesel udah diubun-ubun banget, "ini antara kitanya gaptek, abang posnya gak paham, apa gimana sih? tapi tadi dia bilang bisa kirim fax?"

Akhirnya googling juga tata cara mengirim fax dan nanya sama beberapa teman, seberapa lama surat yang dikirim fax sampe. "yaelah ngirim apaan sehari? ga ampe lima menit juga sampe" 

balik lagi ke kantor pos tersebut, udah gak ada senyum-senyumnya muka gue waktu itu :(
"mas, ini tuh tadi ngirim dokumen ya?"
"iya"
"Loh kan tadi saya bilang kirim fax......................."
"iya. Fax itu dokumen, kan?"
, dia pasang wajah cengengesan. Subhanallah.


Mbak pegawai disampingnya (yang ketika pertama tadi kami datang, dia belum ada), akhirnya bilang, "disini mah gak bisa fax. Udah itu, balikin duitnya."

si mas-mas ini masih gak paham kalo saat itu saya lagi komplain, sampe akhirnya mbak-mbak nya bilang, "itu ambil resinya, batalkan pengirimannya, balikin dokumen ama duitnya."

"tapi udah begini mbak, gimana? hehehe", cengengesan sambil nunjukin amplop surat saya yang udah distempel pos indonesia.

"yaudah gapapa."

Surat saya terima, saya balik, gapake bilang makasih lagi, melengos aja. Karena udah.....gimana ya rasanya :") K
alau kita mau ngeprint tapi gak paham caranya, gak perlu kan googling-googling tata cara ngeprint? abangnya pasti paham dan mau bantu. Saya beranggapan yang sama terhadap pegawai pos indonesia.

Duh ya kalau gak paham fax tuh apa, tanya balik gitu. Ini main bisa-bisa aja taunya dijadiin pengiriman dokumen :(

akhirnya jalan kaki dari kutek menyusuri kukel, cari tukang fotokopian yang bisa fax. Dapatlah di Omega. masuk dan kirim, tau ga berapa lama? C U M A  E M P A T  P U L U H  D E T I K. atauhlah apaan itu jadi sehari? :(

Chat bapaknya buat mengabari kalau kita dah kirim fax. surat udah masuk dan beliau bilang bahwa besok (Jumat pagi) akan mengabari kita diberi izin atau tidak untuk wawancara.

Jumat pagi (28 April 2017). Bapaknya memberi kabar kalau kita diberi izin. Maka Jumat siang, sehabis waktu solat Jumat, kami berangkat ke DLH Kab. Bogor. Bawa dua kamera, tripod, mikrofon. Siap untuk wawancara.

Sampe sana, ketemu si Bapak ini. Diarahkan ke lantai tiga, tempat sang ibu kepala lapangan yang menangani kasus Desa Cinangka. Sampe sana wawancara? oh! belum!
T E R N Y A T A  B E L I A U  U D A H  P U L A N G.

U  D  A  H   P  U  L  A  N  G karena beliau sakit.
karena ternyata ada miskom di internalnya. Bagian umum dan kepegawaian BELUM MENGABARI kalau HARI ITU kita mau wawancara.
Gak dapet apa-apa.
cuma dikasih penjelasan yang kayaknya lebih terasa kayak pembelaan.

"iya suratnya baru jadi tadi pagi." (lol orang gue kirim kemarin)
"belum di disposisi ke atasan"

"bapak kepengawaian belum bilang ke ibu kepala lapangan kalau hari ini ada yang mau wawancara."
"coba mbaknya janjian dulu ama ibu, mungkin ibunya masih nunggu dan ada di kantor jam saat ini."



"ini data aja kita gabisa dapet gitu mbak? biar gak sia-sia jauh-jauh kita dateng kesini? seengaknya dapet hasil buat nyicil tugas?, gue yang udah gada kontrol ngomong gitu, ya Allah haha
"gak bisa mbak. semua dokumen dipegang Ibu."
"staff nya gak ada yang bisa kita wawancarain?"

"yang paham ibu, mbak"
"kepala dinasnya aja deh mbak kita wawancara?"
"gak bisa, prosedurnya kalau ada yang mau wawancara, bagian yang bertanggungjawab yang diwawancarai."


BYAR! Gakuat lagi rasanya. Ini masih di dalam satu kantor. Butuh berapa lama sih ngurusin gituan? ribet banget Subhanallah....

Tiba-tiba kebayang semuanya dari awal....
Ini kita BOLAK BALIK Departemen - DLH - Kesbangpol Kab. Bogor - Departemen - Kebangpol Depok - Departemen - DLH - Kesbangpol Kab Bogor - DLH.
dikira tinggal cling langsung sampe :" bolos-bolos matkul lain demi antar surat, lalu terbayang abang pos yang kemarin begitu. Gak kuat lagi rasanya. Nangis sesegukan.

Ending-nya, kita dijanjikan buat dihubungin, kalau ibunya sudah ada dikantor dan bersedia hadir. Kita minta tanggal 2 Mei 2017, tapi pihak sana ga berani janji. "nanti kami kabari ya."
Terus tugasnya dipresentasiin tanggal 9 Mei 2017. TAUDEH GIMANA NASIBNYA.
***

Bapak, Ibu, mohon maaf. Ini saya yang emang gak paham birokrasi atau gimana ya?
Pertama. Bolak balik antar instansi karena miskom info.
Kedua. Ternyata di internal sendiri juga miskom.

Saya bukannya menuntut atau gimana-gimana, tugas kami juga bukan cuma bolak-balik di jalan aja. Saya paham mungkin sibuk, tapi...................

Semoga bisa berbenah ya birokrasi di negeri-ku. :")
kesimpulannya gimana? diserahkan aja ke masing-masing yang baca.

Atika W
29 April 2017

Rabu, 25 Januari 2017

Setengah Sarjana Teknik

Well! Mungkin judulnya engga menggambarkan sungguh-sungguh bahwa ini adalah cerita tentang setengah sarjana teknik karena menurut beberapa dosen, pengerjaan skripsi bukanlah penentu seorang mahasiswa fakultas teknik bisa menjadi sarjana bilamana matkul-matkul lainnya tetap saja ada yang tidak lulus, berbeda jika itu adalah tugas akhir. Tapi yah, pengerjaan skripsi engga bisa dibilang 'cuma' sih, karena tetap aja butuh effort dalam pengerjaannya. Hehehehehe

Jadi disini gue mau cerita tentang suka-suka-duka-suka-suka-suka pengerjaan bab 1, bab 2, dan bab 3 skripsi alias seminar, atau beberapa kampus lain menyebutnya proposal.
Bukan proposal untuk melamarmu, bukan. Gausah baper.

Jadi, di waktu-waktu pelaksanaan Kerja Praktek, disaat gue cuma fokus ke Kerja Praktek (karena meski KP bertiga tapi berasa berdua hehe), beberapa teman yang memang rajin sudah sering bolak-balik ke dosen untuk diskusi topik skripsi mereka, mengajukan beberapa masalah yang berkaitan dengan ke-teknik-lingkungan-an dan meminta saran serta pertimbangan dari sang dosen. Dosen pembimbing ini salah satu yang krusial banget memang, karena akan menentukan tingkat kesuksesan pengerjaan skripsimu nantinya. Sering kan baca meme-meme kalau skripsi itu susah karena dosen susah ditemui? Itu fakta loh, bukan cuma gurauan meme aja.

Ini dia tips pertama dalam pengerjaan skripsi : PDKT-in dosen incaranmu dari jauh-jauh hari. Atur waktu pertemuan untuk berdiskusi. Ibarat cinta datang karena terbiasa, begitupula dosenmu, kemungkinan besar ia akan mengingatmu dan memilihmu menjadi salah satu mahasiswa bimbingannya kalau kamu sering nongol dan berdiskusi dengannya. Buat impression yang baik dengannya.

Sekitaran bulan Oktober 2016, keluar pengumuman dosen pembimbing, dan Alhamdulilah....gue gak dapet dosbing siapa-siapa. Mana topik usulan ditolak pula, hehe. Gak sampe nangis sih, karena emang effort gue kurang waktu itu. Diskusi sama dosen manapun engga pernah, nyari topik skripsi yang 'banyak' dikerjakan senior tahun sebelumnya, alih-alih jadi banyak referensi, pas hari H tau-tau submit sinopsis, ya ditolak lah. Waktu itu ambil topik tentang kompos sebagai adsorben penghilangan warna.

Akibat topik (yang tanpa diskusi dengan dosen manapun) itu ditolak, mau gak mau jadi putar otak buat cari topik skripsi lain. beruntung Alhamdulillah waktu itu gue ke bagian administrasi bareng Eki, yang sepanjang pengerjaan seminar jadi teman berbagi, heu :p

Eki skripsinya tentang Air Lindi dan pengaruhnya ke kali/sungai, cuma karena metodenya belum jelas, maka ia diminta untuk menghadap Prof. Djoko untuk berdiskusi lebih lanjut, alih-alih bingung topiknya apa, akhirnya 'cari' yang agak 'nyerempet' sama Eki, pikirnya waktu itu semoga dapet Prof. Djoko sebagai pembimbing, karena memang setelah melihat daftar dosbing skripsi yang diberikan pihak Administasi, Prof Djoko baru membimbing 2 Mahasiswa S1 saat itu, Tian dan Acil, plus Eki yang masih dibintangi namanya.

Bingung...bingung...galau...ada banyak permasalahan lingkungan, kenapa satu aja engga ada yang nyangkut ke fikiran barang sejenak gitu? Kesel sendiri. Setelah cukup lama 'bermeditasi sendiri', maka terpilihlah topik tentang Air Lindi dan pengaruhnya ke air tanah, he he he gak kreatif yha? biarin.

Setelah nanya-nanya ke grup angkatan, jeng jeng! ternyata topik itu udah ada yang pake, adalah Dul, yang bernama asli Alfandi. Tapi karena satu dan lain hal, topik itu gak jadi dia pake, Dul ganti judul. Alhamdulillah.


 Sungai Pesanggrahan Tercemar Limbah Sampah Cipayung
ini dia dul, dan iya, dia masuk berita tentang air lindi yang mencemari kali pesanggrahan, yang hitam itu air lindi, aliran air di depan dul itu kali pesanggrahan. Beritanya bisa baca di korantempo

Akhirnya bikin sinopsis berlandaskan beberapa jurnal dan berita-berita online tentang pengaruh air lindi, di TPA Cipayung dan pengaruhnya ke air tanah. Pas Eki menghadap Prof Djoko, gue pun ikut. Dan Alhamdulillah, keesokan harinya pas menghadap lagi ke bagian administrasi, diberi tahu kalau Prof Djoko udah dateng sendiri ke bagian administrasi dan bilang kalau Eki dan Atika jadi anak bimbingannya. Alhamdulillah. Lega beberapa saat setelah itu.

Mungkin karena mahasiswa bimbingannya banyak (selain S1, ada S2 dan S3 juga) dan mungkin supaya si mahasiswa yang aktif, bisa dibilang Prof. Djoko gak banyak minta. dan karena gak banyak minta, gue menganggap itu 'gampang'. Yaa emang gak boleh dibilang susah sih, nanti jadi gak bisa-bisa, tapi gak boleh dibilang gampang juga, nanti jadi menyepelekan. Ya gitu deh, intinya, setelah asistensi pertama (waktu itu masih di kertas hijau), gue gak nongol-nongol lagi buat asistensi.

Untuk menjadikan TPA Cipayung sebagai lokasi penelitian, kita harus urus surat-surat dulu, dari Departemen, kasih surat pengantar ke Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik),antar suratnya ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan Depok (DKP), dapat surat izinnya, terus diantar lagi ke TPA Cipayung. Rentang Oktober-Desember, beberapa kali berdua sama Eki, gue ke TPA Cipayung buat minta data awal, cuma gak dapet-dapet melulu, karena pimpinannya sedang dinas atau sedang tidak ada di tempat setiap kita ke sana. Pegawainya ada, tapi gak berani kasih data kalau belum mendapat persetujuan dari pimpinan di TPA Cipayung. Yaa tiap pengerjaan skripsi pasti ada ceritanya masing-masing kan.

Di pertengahan Desember pas ambil surat ke DKP Depok, ngobrol sama Eki sambil nunggu angkot, "Ki, kalo seminar gak kita kerjain semester ini ngaruh gak ke IP IPK di SIAK? Kan kita udah ambil matkulnya di semester ini, tapi gak kita kerjain gitu."
Eki jawab, "enggak ngaruh lah, kan ini matkul spesial, ngaruh kalo nilainya udah keluar aja, dan nilai bakal keluar kalo kita udah sidang."

Serasa dapet pencerahan, hingga akhirnya obrolan kita bermuara pada keputusan, Kita sidang semester delapan aja deh yu, Februari atau Maret. Gak keburu kayaknya kalau sekarang, Desember gini aja kita masih bolak-balik cari data.

Fiks. Eki emang pengertian banget.
Desember. Status saat itu baru dua dari delapan tanda tangan asistensi.
Ditinggal lagi pengerjaan seminarnya.

Lalu..secara tiba-tiba, dari pihak administasi udah ngeplot tanggal sidang semua mahasiswa yang ambil seminar di semester 7. Waduw, panik. Lebih-lebih ngeliat nama penguji, tambah paniqq. Gue dijadwalkan sidang tanggal 13 Januari 2017. Hari terakhir dan rangkaian persidangan seminar di semester ini. Ditambah Eki yang akhirnya berkata, "Yaudah, kita kerjain aja yuk tik. Sayang-sayang. Udah dikasih kesempatan."

Fiks. Eki emang pengertian banget._.
Desember. Status saat itu baru dua dari delapan tanda tangan asistensi.
Dilanjut lagi pengerjaan seminarnya.

Ngerjain...asistensi...ngerjain...assitensi...
Sampai akhirnya jadwal sidangnya jadi maju sehari, 12 Januari 2017. H-8 pengumpulan draft seminar, hari asistensi kelima (lima dari delapan), Prof. Djoko minta aliran air tanahnya ditampilkan, supaya tau, aliran air tanahnya ke arah mana, dari aliran tanah ini nantinya bakal dijadiin titik sampel pengujian dan bla bla bla bla gitu.

Bingung lagi. H-8. Besok H-7 udah harus kumpulin draft-nya. Akhirnya Eki bilang, "coba lihat skripsi anak geo yang kemarin tika bilang mirip-mirip, pake datanya aja"
WAH IYA GA KEPIKIRAN!

Akhirnya hari itu juga, ngontak si kakak geo ini, namanya Ka Yuli. Dengan memanfaatkan beberapa koneksi teman di geografi, akhirnya dapet juga nomer Ka Yuli, dapetnya darimana? dari suaminya, he he he he
Akhirnya ka Yuli kirimin data skripsinya, dan data itu yang jadi acuan gue buat nentuin aliran air tanah. Ka Yuli penyelemat banget :" Gak pelit data pula.

Karena pengerjaannya harus pake ArcGIS, akhirnya ngontak ka Anjas, kakak master ArcGIS. Minta tolongnya nodong banget lagi, kirim data jam 11 malem, besokannya harus udah jadi. Alhamdulillah ka Anjas baik, jam 8 pagi keesokan harinya udah mendarat dengan selamat gambar aliran tanahnya di email gue. Makasih Ka Anjas :")
Allah Maha Baik. Gue selalu dikelilingi orang-orang baik.


kontur muka air tanah
Berbekal data itu, akhirnya mantap dan yakin assitensi terakhir ke Prof. Djoko dan alhamdulillah di-approve. Urus-urus pemberkasan administasi dan tinggal bikin ppt untuk sidang minggu depannya. Seminggu menuju sidang, lebih banyak leyeh-leyeh, berasa udah selesai bertempur padahal masih harus mempersiapkan sidang.

Skip.
Skip.
Skip.
Akhirnya hari H sidang datang juga.

Di ruang sidang........
Assalamualaykum wr. wb. saya Atika.....
.....
......
.......
ya, sekian presentasi dari saya. kurang lebihnya saya mohon maaf, wassalamualaykum wr.wb.

Deg-degan
sumpah gak ketulungan
cengengesan buat ilangin nervous. Sampe akhirnya, ternyata respon dari dosen penguji positif, mesti memang masih banyak revisi, tapi bayangan dosen killer, di ruang sidang bakal di bantai, dll gak kejadian. Gue aja amaze sendiri. Dosbing dan dospem di ruang sidang lebih banyak diskusi sendiri, meski tujuannya bisik-bisik, tapi tetep aja gue bisa denger suaranya hehe.
Ada satu pertanyaan yang bahkan nada ngomongnya masih gue ingat sampai sekarang,
"Kenapa parameternya cuma empat? Bokek ya?"
dan gue dengan polosnya menjawab, "iya Pak. Gak punya duit."

duit, instead of uang.
aseli, polos banget lagi sejujur itu.
Padahal katanya ngomongin biaya skripsi itu 'haram', "Karena mahalnya suatu penelitian itu adalah kewajaran, dan justru itu yang bikin menarik dalam dunia skripsi dan bakal dikenang suka dan dukanya". (Sharfan, 2017)

Total presentasi dan tanya jawab semuanya 34 menit, seengak nyangka itu. Di saat sidang itu, dosbing dan dospem menawari kemungkinan-kemungkinan baik buat pengerjaan skripsi nantinya. Apapun itu, yang pasti mohon diaminkan saja hehe karena gak berani sesumbar untuk hal yang belum pasti.



ini dia yang namanya Eki


ini instalasi pengolah air lindi TPA Cipayung

Sekian tulisan panjang banget tentang setengah sarjana teknik,
sampai bertemu lagi di tulisan sarjana teknik, dan paska sarjana teknik (err..ini krusial banget sih) haha

Depok, 25 Januari 2017
Atika Widiastuti

Selasa, 27 September 2016

Lakukan Saja

Selasa, 20 September 2016
ketika saya sedang berjalan dari kost menuju kampus, tak sengaja bertemu dengan seorang Ibu, yang kemudian saya ketahui bernama Ibu Rina. Sembari menggendong anaknya yang berusia 2 tahun, bu Rina berusaha menjual kerudung-kerudung bergo bekas miliknya, lima ribu rupiah perpotongnya. Keringatnya bercucuran, padahal saat itu belum siang, jam tangan saya belum genap menunjuk angka 10. Saya sempat hampir saja menghiraukan dagangannya, karena terburu-buru, takut tertinggal kelas yang dimulai pukul 10 dan sama sekali ga boleh telat.

Maha Baik Allah, atau mungkin memang sudah ditakdirkan, sang Ibu lantas bercerita tentang alasan mengapa ia berjualan kerudung-kerudung miliknya. Sembari mengeluarkan surat tagihan pembayaran sekolah anaknya, yang jumlahnya memang tidak sedikit. ia berkata : “Untuk bayaran sekolah anak saya, Neng. Senin dia ujian, tapi khawatir gak boleh ikut karena belum bayaran.” Alasan yang membuat saya sejenak mendengarkan ceritanya dan menjadi terdiam, tiba-tiba saya teringat akan ibu saya.

Dengan perantara surat tagihan itu, ia bercerita ringkas tentang kehidupannya, dimana lokasi tempat tinggalnya, dimana sekolah anaknya, dan hal mendasar lainnya. “Ibu, saya balik ke kost-an sebentar, ibu tunggu sini ya.”
Saya izin pamit sebentar kembali ke kost-an, mengambil sejumlah uang, karena memang tidak membawa uang lebih dari sepuluh ribu rupiah di dompet saat itu (sebenarnya untuk meredam keinginan jajan-jajan yang gak perlu, maklum anak kosan hehe), tetapi belum cukup untuk meng-cover semua tagihan sekolah anaknya itu.

Saya meminta kontak sang Ibu, untuk ‘kemungkinan-kemungkinan baik’ ke depannya. Namun ia berkata bahwa tak hapal nomer telepon anaknya, maka saya memberikan kontak saya, agar dihubungi setibanya ia dirumah.

 “Ibu, saya ada kelas jam 10, jadi mau langsung ke kampus, Ibu juga langsung pulang ke rumah ya. Gak usah keliling-keliling lagi.”
“Iya. Terimakasih banyak ya Neng… Ya Allah bersyukur banget ketemu Eneng. Yang pinter ya sekolahnya, iya, saya langsung pulang, nanti anak saya hubungin Eneng ya.”
Selalu terharu kalau didoain kayak gitu, emang baper parah ini anaknya. Dan entah, nama saya tiba-tiba berubah jadi Eneng, padahal saya udah memperkenalkan diri, hehe

Sekitar habis Zuhur selesai kelas, ada telepon masuk, ternyata dari sang Ibu. Lagi-lagi berterima kasih tanpa henti.

Hari ini, Sabtu, 24 September 2015
Saya dan beberapa teman dari Yayasan Rumah Iqro Insani, datang bersilaturahim ke rumah beliau, melanjutkan ‘kemungkinan-kemungkinan baik’ yang saya kemukakan di awal.  Di sebuah kontrakan petak, ibu Rina, Pak Agus, dan lima orang anaknya tinggal. Sehari-hari bapak bekerja sebagai ojek pangkalan dengan status kendaraan milik temannya, jadi bagi hasil. Sementara sang Ibu merupakan ibu rumah tangga yang mengurus 5 orang anak, Ibu juga bekerja, namun tidak tetap, hanya jika ada tetangga yang memerlukan bantuan tenaganya saja, untuk mencuci, menyetrika pakaian, dan lain-lain.

Selesai bersilaturahim dari kediaman Ibu Rina, saya dan teman-teman menuju sekolah sang anak, di bilangan Srengseng Sawah untuk menemuinya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

Kami bertanya beberapa hal mendasar pada Hilmi, nama sang Anak, apa kebutuhan untuk pendidikannya? bagaimana biasanya ia berangkat sekolah? pembayaran untuk ujian-ujian yang sebelumnya bagaimana? juga mencicil tagihan-tagihan pembayaran sebagian, belum semua.

----Social Project Bidikmisi dan Program Kakak Asuh Rumah Iqro----

Pada salah satu Seminar Bidikmisi untuk angkatan 2013, diputar video tentang Pak Budi Soehardi, CNN Hero of the Year 2009, Captain Pilot Singapore Airlines, yang mendedikasikan harta bahkan hidupnya untuk banyak anak asuhnya di Panti Roslin, NTT. Juga pembicara pada Seminar Bidikmisi di semester selanjutnya dengan program "Sedekah Air". Menjadi bahagia dengan cara membahagikan orang lain.

Maka kami, para penerima manfaat beasiswa diarahkan untuk melakukan hal serupa, melalukan sebuah proyek sosial di jangka waktu Juli sampai September 2016. Alih-alih mengerjakan ‘tugas’, saya berfikir untuk membuat social project yang berkelanjutan, tidak terbatas pada periode Juli sampai September saja.

Maka saya, dan beberapa teman dari Yayasan Rumah Iqro Insani menggagas sebuah program penyaluran beadidik dan pembinaan bagi pelajar dan mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam hal  finansial namun memiliki semangat yang tinggi dalam pendidikan. Program yang diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga dengan membantu dalam hal pembiayaan biaya sekolah atau kuliah agar semakin banyak generasi muda yang dapat menikmati pendidikan tinggi hingga sarjana atau sederajat, mampu keluar dari  himpitan  ekonomi  dengan  adanya  peningkatan tingkat pendidikan dalam keluarga dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga di masa depan. Berangkat dari hal itu, maka pada Agustus 2016, diluncurkan sebuah program yayasan dengan nama Program Kakak Asuh dengan jargonnya “Sarjana di tiap Keluarga.”.

Alhamdulillah, sudah ada sekitar 23 adik asuh yang terdaftar saat ini, dengan Hilmi, anak pertama Bu Rina, salah satunya penerimanya, insyaAllah.

Kita memang tidak pernah tahu akan dipertemukan dengan siapa dan dalam kondisi yang bagaimana. Namun, kita bisa mencipta kesan apa yang ingin dapatkan setelah kita dipertemukan.

Hujan deras sore tadi, mungkin pertanda bagi kita untuk senantiasa bersyukur dengan hidup. Juga, katanya berbagi itu salah satu kunci kebahagiaan, maka lakukan saja. Just do it. Selama kamu yakin dengan tujuanmu, Allah pasti beri kemudahan.

Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi menjadi Kakak Asuh dalam Program Kakak Asuh dan membantu Hilmi-Hilmi lainnya, dalam bentuk apapun, dapat menghubungi saya di atikawidi11@gmail.com. Sesuatu itu, mungkin kecil bagi kita, namun di tangan orang yang memerlukan, nilainya akan sangat berbeda.

Terimakasih telah sabar dan menyempatkan diri membaca cerita panjang pada laman blog saya.

Atika Widiastuti
Teknik Lingkungan 2013
Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Poster Program Kakak Asuh
Silaturahim ke kediaman ibu Rina


Sabtu, 30 Juli 2016

How my Holiday Passed : KERJA PRAKTEK

Hello again! Wha akhirnya setelah kurang lebih satu bulan setengah dari tulisan random terakhir diposting, saya belum menuliskan apa-apa lagi di sini. Yha baiklah, so today I want to post about my KP.

Kerja Praktek atau yang biasa disingkat KP, adalah mata kuliah wajib Departemen Teknik Sipil FTUI, dimana tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengenal proses-proses pekerjaan di dalam proyek di lapangan beserta kendala-kendala yang dihadapinya. Matkul ini berbobot 3 SKS dan berada di semester 7, namun karena harus dikerjakan dalam kurun waktu 2 bulan mencakup 160 jam kerja, maka pelaksanaan KP adalah di waktu liburan antara semester 6 ke semester 7. So this is the point of this post, how my holiday passed away with KP stuff in the daily activity nya. haha

Tempat KP untuk mahasiswa Dept. Teknik Sipil diwajibkan diharuskan dimestikan di-kudu-kan di proyek konstruksi, rata-rata bertempat di Jakarta, karena seperti yang kita tahu, pembangunan gedung-gedung tinggi banyaknya di Jakarta. Satu kelompok KP terdiri dari 2 mahasiswa Teknik Sipil dan satu mahasiswa Teknik Lingkungan, dengan harapan, menjadi 'paket lengkap', dapat ilmu sipil, juga mengetahui penerapan ilmu lingkungan di lapangan. Harapan.

Kami memulai KP tanggal 20 Juni 2016 dan jika sesuai rencana, KP kami akan selesai pada tanggal 20 Agustus 2016.

Proyek KP kami masih seputaran Pondasi, jadi yang dipelajari berpusat pada dua hal ; Bored Pile dan Diafragma Wall. Itu apa tik? coba googling sendiri, hehe

Terlepas dari tentang apanya KP saya, yang saya mau ceritakan adalah kehidupan selama KP nya, jadi seperti ini :
1. Kamu akan bertemu banyak karakter baru, dan makin memahami apa perbedaan antara bos dan leader in real life, yang selama ini cuma diketahui dari  struktur di organisasi kampus aja. Beda banget.
Gak cocok deh orang baper kerja di proyek, haha

2. Laki-laki all around you
Mulai dari bapak satpam sampai bapak kuli proyek. Semuanya laki-laki. Ah ini. Kalau jalan di cuit-cuitin, sesekali diceletuki, "ngapain cewek mondar-mandir lapangan, mending di kantor aja adem." disenyumi aja, sembari jawab, "ya biar ilmunya menyeluruh dong pak. tau di perencanaan dan action di lapangan seperti apa." padahal dalam hati ya kepengen banget jawab, "YA NAMANYA PRAKTEK LAPANGAN, PAK. KALO BOLEH JUGA MAUNYA DI KANTOR AJA." he he he

"Di lapangan kok pake rok. Mau ke mall apa gimana?" dengan senyum saya jawab, "gak ada larangan kan ya? gapapa dong? hehe" Diem.
Don't take it serious. Hiburan.

3. Kereta
jadi tempat KP saya ada di daerah Karet Kuningan, jadi untuk menuju ke sana, saya naik kereta sampai St.Tebet dilanjut dengan angkot 44. Awal mula KP, sampai hari kedua, hari tepat dimana HP saya hilang di kereta hiks, saya masih memilih naik gerbong campuran, bukan yang dikhususkan untuk perempuan. Karena isinya lebih manusiawi. Mungkin karena sifat dasarnya laki-laki suka mendahuluan orang lain, kadang tuh serasa wanita diberi space di dalam gerbong campuran itu, meski berdesak-desakan. Saya berpikir, selama pakaian saya tertutup dan tidak bersentuhan langsung tidak mengapa.

Hingga saat hari kedua, hari dimana HP saya hilang itu, saya memutuskan untuk lebih baik naik di gerbong wanita, meski lebih mirip arena hunger games, setidaknya diri ini aman.
Setiap naik, di St. UI, yang awalnya saya gak berani nge-dorong orang, sekarang udah mulai berani dikit-dikit, yang penting saya masuk, meski mepet banget sama pintu. Eh, pas masuk St. Tanjung Barat, yang masuk 'lebih ganas', hasil dari dorongan-dorongannya, ternyata masih muat banyak! Haha the power of emak-emak emang paling-paling lah yha
Kaki setengah jinjit, gak pegangan, percaya aja sama orang di kanan-kiri-depan-belakang, gak bakal jatoh, paling kalo jatoh, jatoh rame-rame.
Berangkat di jam orang berangkat kerja, pulang di jam orang pulang kerja. Pepes.

4. Belajar Sipil Banget
Seperti yang tadi saya bilang di atas, proyeknya masih pondasi, jadi berfokus pada bored pile dan d-wall. Sementara lingkungannya masuk ke pembahasan K3L, seriously man, it's not environmental that I want to learn about at this project._.
konsep green building, site treatment plant, waste water management, dll-nya belum ada di proyek ini. Jadi diriku membahas apa? belum tau nih, hehe di-ada-adain yang bisa ada aja, hehe :(
Kadang manggut-manggut aja kalau di Kost-an, anak-anak Lingki (Teknik Lingkungan-red) ngebahas tentang aspek lingkungan di proyeknya masing-masing.
Tapi ya, kita gak boleh membatasi ilmu toh? Alhamdulillah, dengan adanya KP ini, Atika jadi tau ilmu sipil secepat itu, hehe
semua ada hikmahnya,
semua akan indah pada...hal mah enggak waktunya.
he he


So, this is several documentation at this project :
Persiapan pengelasan sambungan section tulangan bored pile

Tulangan diafragrma wall beserta ground anchor dan starterbar-nya

Pengecekan viskositas slurry, kayak di Lab-lab gituya

Proses grabing tanah di lubang d-wall dengan mesin grab



Section pertama tulangan diafragma wall yang siap dimasukan ke dalam lubang
Nah, ini dia yang nulis postingan curhatan ini, hehe. Cie
Atika Widiastuti
30 Juli 2016
at Home, finally

Kamis, 07 April 2016

Semut dan Paldom

Sebulan terakhir entah mengapa di kosan saya jadi banyak semutnya. Apa karena faktor penghuninya? Bukan, maksudnya bukan penghuninya yang manis, tapi penghuninya sering bawa makanan/minuman yang berbau-bau manis lalu berceceran. Sepertinya memang begitu, deh.

Tadi pagi, selagi gambar jaringan Paldom di kertas kalkir (keseruan paldom ini nanti saya ceritakan di postingan lain, ya) mereka jalan-jalan berbaris di depan pintu kamar saya, padahal jelas saya gak lagi minum minuman berasa, apalagi makan. Terus saya baru makan malam ini, masa iya mereka nungguin saya sampai makan malam? ah, ini sih fix saya kepedean. Tuh kan, sama semut aja baper.

Nah, saking banyaknya mereka, ya. Bosan saya dengan kalkir, saya ajak main aja mereka. Saya kasih angin tornado di barisan mereka, iya, saya tengkurap terus tiup-tiupin mereka.

Reaksinya lucu, deh. Meski jalan di lantai yang koefisien geseknya kecil (dibanding jalanan kutek), mereka gak 'terbang' gitu aja ketika ditiup, seakan tangan dan kakinya(?) mencengkeram erat ubin lantai, mereka diam dan tetap pada kondisi itu. Sampai saya biarkan mereka berjalan-jalan lagi, ketika agak rapi barisannya, saya tiup-tiup lagi, kali ini agak keras, beberapa terpental juga. Ya Allah maaf, ini rasanya jahat banget kalau dibayangin sekarang, ya :(

Selesai (atau lebih tepatnya selesai seadanya) gambar di kalkir, saya berangkat ke kampus. Dengan hati riang dan senang karena pikir saya, 'beban' sudah hilang karena kalkir-kalkir ini akan segera dikumpul. 30 menit terlewat dari jadwal aselinya, karena takut diusir sebelum ikut belajar, maka tas saya titip di kelas sebelah, kelasnya anak sipil. Saya masuk bener-bener bawa badan (dan HP) aja. Kertas minta, pun pulpen minjam.

Ah iya. Sebelum berangkat kampus, saya bawa 5 kalkir A0 dalam tabung, juga CD hasil burning tugas besar kelompok. Saya berangkat duluan dari kosan, dengan maksud setidaknya tugas sudah aman sampai di kampus, meski orang dalam kelompok yang hadir baru saya, tiga teman saya yang lain menyusul ; ada yang mandi terlebih dahulu, ada yang bersiap-siap dulu.
Oh iya, ceritanya semalam kami ngumpul di kosan sampai pagi, sampai 15 menit sebelum kelas dimulai. Bukan kok, bukan nugas, yaaa kepingin kumpul ajaa (bohong deng).

Pikir saya lagi, oh yasudah gapapa, toh nanti mereka datang juga. Lagian hari ini di kelas, dosennya menyampaikan materi kok, bukan presentasi atau apapun yang melibatkan kelompok. Materinya paling teori, kan. Disuruh baca buku referensi, khas dosen perancangan gituh. Ah, tenyata pikir-pikir saya diawal itu salah.

Di 30 menit kedatangan saya yang terlambat, materi sudah separuh jalan, karena teman-teman saya tidak kunjung datang juga, saya mau tidak mau memperhatikan penjelasan dengan serius. Siapa yang akan ditanya kalau nanti dipengerjaan tugas kami ada yang kami gak paham? Padahal biasanya saya tidur di kelas, jelek banget ini jangan dicontoh :(
Satu jam kelas berjalan, ternyata memang cuma saya yang datang kelas, tiga lainnya berguguran hahaha :(

Ternyata bukan sekedar teori, kali ini hitung-hitung langsung. Beberapa kelompok maju menuliskan data perhitungan masing-masing, diajarin perhitungannya, per-step-step secara umum tapi mendetail. Yaa pokoknya gitudeh, si Bapak yang satu ini, sebut saja Pak Setyo, memang jadi idola dalam urusan menjelaskan materi. Kami jadi se-ngerti-itu. 

Saya kalap. Takut-takut disuruh maju juga. Sendirian. Mau nulis apa? Lah pulpen aja minjam, kertas boleh minta. Debit kelompok kita berapa? berapaaaa? tidaak~ HP mati pula. Alih-alih duduk di paling belakang, padahal ngumpet gitu, sok-sok-an sibuk mencatat kalau ada yang lagi disuruh maju. Orang 'kejepit' emang jadi banyak akalnya, ya. Sa ae.

Hingga akhir jam kuliah, setidaknya ada tiga tugas yang diberi deadline hari Senin besok untuk diasistensikan kepada si Bapak.
Terus si Paldom merasa menang, ia berteriak seketika setelah di Bapak menutup pintu keluar "Lo kira dengan lo ngumpulin kalkir, kita bakalan udahan? Hahahahahaha belom lah yaw."

Selesai kelas, saatnya mengumpulkan 5 lembar kalkir beserta CD ini. Tak semulus itu ternyata. Hingga karena saking gak kuatnya lagi, saya titip aja kalkir dan CD kelompok saya ke kelompok lain ; saya lapar, mau makan. Setelah diingat, loh iya belum makan dari kemarin siang, lah kuat.

Beli siomay abang-abang lalu pulang ke kosan. Muka udah kucel banget, hati udah gak karuan aja. Yang ada di pikiran saat itu cuma es krim.

Sampai di kosan, engga ada komunikasi yang terjadi di antara saya dan teman-teman saya itu. Tapi saya tau, sikap saya itu salah. Tapi di satu sisi, gak baik juga kalau saya langsung mulai obrolan. Janji saya, nanti saya bakal minta maaf. Saya takut 'meledak' kalau ngobrol saat itu juga. Biasa, orang melankolis O, kalau udah begini, suka ngerasa jadi makhluk paling merana, yang ditinggal sendiri setelah dibersamai sepanjang waktu. Jadi biarinlah, saya 'ademin' diri saya dulu. Ademin secara harfiah ; mandi. Haha. Tugas tetap saya share di grup kelompok. Cuman katanya gak ada senyum-senyumnya saya di grup. Bahasa chat hebat ya. Padahal tulisan doang, tapi orang bisa 'ngebaca rasa' gitu.
Duh ngebaca rasa. hahaha

Udah ngerasa adem, saya cari es krim, beli deng. Deket sih, di Cijantung, hehehehehe
Lalu saya kembali lagi ke kosan. Jam lima sore. Langsung masuk kamar, masih belum ada obrolan juga. Padahal saya janji, malam ini bakal jelasin tugasnya ke tiga orang teman saya itu.

Sampai akhirnya,
beberapa menit lepas Isya, mereka masuk ke kamar saya. Bertiga. Bawa ketan duren. Duh, sa ae emang dah ah.
Karena dikiranya saya ngambek, karena sejak pulang kampus engga ngobrol, pun di grup nongol seadanya.

Padahal bukan ngambek, cuma memang sayanya aja yang sifatnya seperti ini. Tapi saya ingat janji saya tadi siang. Saat itu juga, selesai jelasin tugas yang diberikan si Bapak, sambil saya ceritain di kelas tadi gimana. Saya minta maaf ke mereka. Minta maaf atas sikap saya yang nyebelin dan ngebetein dan menjadikan mereka membelikan ketan duren buat saya, hahaha.

Mereka bertiga, hampir berbarengan jawab, "Aaaaaa~ harusnya kita yang minta maaf~ " Dasar. Cewek. Lucu bin awkward banget kita jadinya.

Terus duren ketannya kita makan bareng-bareng. Aseli, enak. Gratis soalnya. Duren pula. Siapa yang nolak? hehe

Lalu kita makan malam bareng di kosan, pesen lele kremes Cak Mul. Pesen, delivery ke kosan. Males banget emang padahal tinggal keluar, ckck Si ketan duren ini saya tinggal di meja belajar. Tempatnya kan tinggi, diplastikin juga, amanlah yaa~ Kami makan bareng dulu di ruang TV. Setengah jam kemudian, balik ke kamar. Duh.

Ketan durennya dikerubuti semut.
Mana item-item lagi, gede-gede.
Ini saya mikir, jangan-jangan saya kualat.
Tadi pagi saya tiup-tiup mereka.
Sekarang lagi balas dendam ceritanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi, kenapa harus di ketan duren? :"
no pict = hoax ,gitu katanya

--------------------------------------
tulisan malam gak jelas, didedikasikan untuk tiga orang teman hidup di semester enam.
Terimakasih yaa :*


Rabu, 23 Maret 2016

Five Blessing in My Life ( Writing Challenge #Day12 )

Mungkin ini agak gak nyambung sama judulnya sih. Tapi, ini sama-sama tentang blessing in my life kok :)

Kamu...pernah gak dalam hidup tuh rasanya keseeeeeel banget? Kayak ngelakuin apa aja tuh rasanya gak pas di hati. Paling enak bikin orang lain tersinggung dan kesel. Iya, se-keluar gitu aja kata-kata menyakitkan dari mulut ini. Pasang muka bete seharian, supaya dikira makhluk paling banyak beban sedunia, sedangkan yang lain gak punya beban. Sambil terus-terusan memikirkan ulang, "apa arti kebahagiaan?" Kalau pernah, gak papa, wajar kok, manusiawi.
Karena percaya atau tidak, di semester enam ini, yang baru berjalan sampe menjelang UTS ini. Aku udah mengalami hal-hal diatas empat kali. Haha lemah! ya memang~

Keberkahan, kebahagiaan, sebenarnya kan bukan ditunggu ya. Tapi di buat sendiri. Semacam "Jangan nunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah maka kamu akan bahagia." Nah, pola berpikir kalau udah lagi ngerasain hal diatas tuh suka kebalik-balik. Emang kita tau yang benar itu gimana, tapi gak ada keinginan untuk menjalaninya, kayak pasrah aja sama keadaan, menyalahkan keadaan, kalah sama ego. 

Tiap pekan sebenarnya ada wadah untuk me-recharge semangat, tapi sudah beberapa kali secara berturut-turut aku lewatkan ; waktunya dipakai untuk mencari-cari tempat kerja praktek. Iya, se-enggak bisa itu cari proyek di weekdays. Lantas mengorbankan waktu melingkar. Hilang satu media me-recharge.

Kumpul, dan teman berkumpul. Lebih sering berkumpul dengan teman-teman untuk mengerjakan tugas, bukan lagi kumpul untuk mendapat asupan-asupan hati, tapi sepenuhnya berkumpul untuk menyelesaikan suatu deadline. Entahlah, memang sebegitunya tugas-tugas ini, atau Aku (kami) saja yang tidak pandai mengatur waktu? Hilang lagi satu media me-recharge.

Di kost-an pun, ibadah yaumiyah seadanya, bukan semaksimalnya diri. Tilawah? yang penting hari ini udah baca. Solat? yang penting 5 waktunya ontime. Tahajud? ah, itu sunnah. Dhuha? besok deh, targetan minggu ini kan 2x doang. Baca buku? Ah mana sempet. Hafalan? Gak kepengen nyetor kok.
Berasa dewa ngatur-ngatur takaran ibadah, ckck
Hilang banyak media me-recharge.

Tapi pasti ada, satu kejadian yang menjadi titik balik itu semua. Akupun. Di pertemuan melingkar yang entah setelah berapa kali aku lewatkan, Aku mendapat sebuah tamparan. Keras sekali rasanya.
"Kumpul melingkar kayak gini, sebenarnya bukan perkara transfer ilmu, kita semua mungkin lebih banyak dapat ilmu di tempat lain. Pun mungkin ilmu antum lebih banyak daripada murrobi antum disini. Tapi ini perkara transfer semangat. Trasfer ilmu tanpa transfer semangat, buat apa?"

maka selesai itu, sepulangnya dari situ. Aku tulis lagi targetan-targetan untuk menghadirkan lagi ruh-ruh semangat itu. Memanggil kembali bahagia yang diawal aku pertanyakan. Kan kamu sudah tau kalau kamu salah cara berpikir, kenapa tak di luruskan?
Jangan tunggu bahagia baru tersenyum. Tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.


----
di sela pengerjaan PALDOM
23 Maret 2016
Kukusan Teknik