Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

Cerita pada Senja

sumber : mediaequalizer.com

Jingga yang teduh.
Pada senja, ia menceritakan kisah hidupnya. Ia berkata, hanya senja lah tempat mengadunya.
Wanita itu duduk di depan teras rumah, setiap sore hari, menunggu matahari menenggelamkan diri, untuk berharap kisah sedihnya juga ikut tenggelam.
Suatu waktu pernah ia bercerita tentang ayahnya,
di waktu yang berlainan ia bercerita tentang ibunya,
tak lupa juga ia bercerita tentang adik perempuan satu-satunya.

Pada senja ia berkata ; Aku tak punya teman selain kamu. Aku tau kamu fana, Penciptamu yang abadi. Tapi Aku juga fana. Jadi bolehkah Aku bersamamu? mungkin memang Kau tak akan menjawab, tapi setidaknya aku punya tempat untuk pulang dan berbagi cerita.

Sore itu ia bercerita tentang sesuatu yang baru pernah senja mendengarnya,
tentang kunci, dan seseorang.
Tiap sore ia rajin mengunci pintu rumahnya, walau ia tau takkan pernah ada yang datang, jadi sebenarnya tak apa jika rumahnya terbuka tanpa dikunci.

Sampai suatu hari seseorang datang dengan sangat sopan, mengetuk pintu dan mengucap salam.
ia intip lewat jendela dan bergumam ; orang asing. mau apa?
Ragu-ragu ia buka kunci pintu rumahnya, mempersilakan orang asing itu masuk dan bercengkrama sebentar, tak pula ia sajikan teh hangat di sore itu.
Sore pertama, yang ia habiskan bukan bersama senja.
Namun senja tau. Senja mengintipnya lewat daun pintu, sambil tersipu.

Keesokannya, seseorang itu datang lagi, bercengkrama lagi. Kali ini, ia juga ikut bercerita pada senja. Tentang masa kecilnya, juga tentang dirinya. Pintu yang dulu selalu terkunci kini tak pernah dikunci lagi, selalu terbuka, sederhana tujuannya ; agar seseorang ini bisa mudah menemuinya kapanpun.

Hingga tepat di hari ketiga puluh, tak ada yang mengetuk pintu, tak ada yang mengucap salam, ia menunggu sampai larut, sampai bulan menggantikan matahari untuk menerangi bumi. Mungkin sedang ada urusan lain, pikirnya mencoba menemukan kemungkinan-kemungkinan yang menenangkan hati dan pikirannya sendiri.

Hari berikutnya masih tetap tidak ada kabar, senja pun mendengar keluhnya, kali ini mereka berdua saja. Senja ikut khawatir, senja kasian padanya.
Kemana?
Kenapa tak kembali?
Mulai saat itu, ditutup rapat kembali pintu rumahnya.
"Lain kali harus lebih hati-hati", batinnya memberitahu.
Pintu rumahnya, memang sudah dikunci rapat.
Tapi sayang ia lupa,
bahwa kunci pintu hatinya, sudah dibawa pergi..........................

Minggu, 11 Mei 2014

Belum berjudul #1

Pagi ini adalah pagi yang berbeda dari biasanya, kau tahu? Kemarin ayahku membelikanku sepeda. Memang bukan hal yang ajaib di usiaku yang sudah 19 ini. Zaman di mana orangtua teman-temanku lebih memilih memberikan sepeda motor untuk anaknya.

Hari ini hari Minggu, sudah kuniatkan untuk bersepeda menggunakan sepeda baruku ini. Aku sudah mempunyai rute sendiri di otakku. Mulai bersepeda dari sini, lalu ke sini, setelah itu ke sana dan seterusnya.
Baru saja mengeluarkan sepedaku ini dari dalam rumah, nampak satu rombongan anak-anak berlari-lari kecil mengelilingi kampung, menyapaku dengan senyum khas anak-anak, “pagi Kak Shilaa ..” Aku menjawab satu persatu, “pagi Ido, pagi Adel, pagi Silvi, pagi Adi. Semangat ya lari paginya..”

Aku memacu sepedaku keluar, mengelilingi jalan sesuai ruteku itu. Dipersimpangan jalan ku lihat seorang pemuda asing yang aku belum pernah lihat sebelumnya, ku taksir umurnya sebaya denganku, mungkin lebih tua dia beberapa bulan, batinku.
Dari kejauhan ku lihat ia sedang menatap ke arahku, tatapan pertemanan, seperti ingin mengajak berkenalan lalu bersepedah bersama. Tapi aku alihkan pandanganku darinya, ku lajukan lagi sepedaku, menuju suatu taman di kampungku ini.

Cerita sedikit bahwa Taman ini dulunya kebun kosong, yang lebih sering digunakan warganya untuk membuang sampah, maka akupun menyembutnya “taman sampah" namun beberapa bulan yang lalu sekelompok orang dari LSM Cinta Lingkungan datang kesini, memberi penyuluhan tentang pentingnya taman bagi kehidupan, mereka juga memberikan bantuan yang lengkap, mulai dari dana hingga tenaga pekerja, hingga tempat itu disulap menjadi taman nan asri dengan banyak pepohonan seperti sekarang ini.

Sedang asyik bersepeda, tiba tiba aku jatuh. Ah. Rantainya putus. Ku coba membetulkan tapi tidak bisa, keadaan rantainya putus, benar-benar putus, ada sambungan rantai yang terlepas, bukannya kendur. Pemuda itu menghampiri bermaksud memberikan bantuan,
“kenapa sepedanya?”, tanyanya padaku
“rantainya putus.”, jawabku lirih.
“tolong pegang ini bentaran, gue coba benerin”, kataya seraya memberikan botol minuman padaku, “minum aja kalo lo  haus.”, tambahnya
“ini mah mesti diganti rantainya, musti taro dibengkel” katanya memberitahu
“tuh didepan situ ada bengkel, bisa nanti deh aku tuntun kesana. Thanks ya.” Kataku sembari menyerahkan botol minumnya dan mengambil alih sepedaku darinya.

Bengkelnya masih tutup, mungkin karna hari libur. Namun dari rumahnya -yg bersebelahan dengan bengkelnya-, si pemilik bengkel berkata untuk ku meninggalkan saja sepedaku didepan bengkelnya, sebentar lagi ia baru akan membuka bengkel. “2 dari lagi datang lagi kesini ya neng.” Katanya. “Loh kan cuma rantai pak, kok lama banget?”
“iya, banyak sepeda juga didalam belum sempet ta' pegang, kemarin istri melahirkan jadi gak sempat pegang kerjaan.” Aku hanya ber-oh panjang dan meninggalkan sepeda ku itu, padahal sepeda baru, tapi kenapa sudah rusak saja. Tanyaku sedih.

“Hei. Sekarang mau kemana?”
“Pulang. Mau sepedahan, sepedanya kan rusak. Tuh.” Kataku manyun sambil menunjuk ke arah sepedaku itu
“Sini bonceng sama gue. Ntar gue anterin pulang. Kayaknya rumah lo deket rumah gue. Oh iya, nama gue Maron. Tadi belom sempet kenalin nama.” Katanya seraya mengulurkan tangan.
“Shilaa.. double A dibelakangnya ya, jadi agak dipanjangin kalo panggil nama gue.” Kataku meraih salaman tangannya.
“Sepeda gue gak ada jalu nya, jadi gak mungkin lo diri dibelakang. Sini duduk di depan.”
“Ah gausah deh, jalan aja.”
“Yee.. takut gue macem-macemin apa? Yaudah gue jalan juga aja deh.”

Maron pun menuntun sepedanya, menyamai langkahnya denganku. Padahal baru saja berkenalan, tapi aku sudah merasa akrab dengannya.


To be continued………

Jumat, 27 Juli 2012

what's LOVE?


           Minggu, 11 Juli 2011. Pagi itu cerah sekali. Burung-burung berkicau seolah menyambut sesuatu yang penting terjadi di pagi itu. Tidak seperti biasanya, pagi itu adalah hari keberangkatan Nasya ke sekolah barunya. Walaupun berat untuk menerimanya, namun itulah kenyataan yang harus dia terima. Selama 3 tahun, ia akan menjalani masa SMA di sebuah SMA yang berbentuk asrama di daerah Bogor.
          Nasya termasuk anak yang aktif di lingkungannya. Ia mengajar pada sebuah TPA, Harapan Insani namanya. Penampilan Nasya pun sangat agamis, dengan jilbab panjang yang menutupi dadanya. Tak heran jika kepergiaanya membuat sedih banyak orang. Termasuk kakak-kakak senior di tempat ia mengajar, Kak Sofi dan Kak Adin. Bicara urusan pacaran, Nasya tak terlalu memikirkannya, Ia berprinsip bahwa pacaran itu hanya membuang waktu. Kasih sayang dari keluarga dan teman-temannya sudah lebih dari cukup baginya. Namun, kehidupan di asrama ternyata lain dan ia pun melanggar prinsip hidupnya itu.
                “Membayangkannya saja aku sudah malas. Apa enaknya tinggal di asrama? Tapi.. mau gimana lagi?” Batinnya mengatakan. Pagi itu, semua perlengkapan ia persiapkan, semua sudah siap namun tetap masih ada yang mengganjal hatinya. Ia tidak mau meninggalkan kehidupannya disini.
                “Sudah siap?” Tanya Ibunya
                “Sudah. Ayo berangkat bu. Pendaftarannya Cuma sampai jam 12 siang kan? Nanti kita telat lho.” Kata Nasya.
                Perjalanan ke asrama memakan waktu 2 jam. Sampai disana, ia langsung menuju meja registrasi setelah ssebelumnya berpamitan pada kedua orangtua yang mengantarnya.
                                                                                ###################
             
                “Selamat pagi para siswa baru angkatan 2014, selamat dating di Dji Sam Soe Academy. Pukul 13.00 siang, harap semuanya berkumpul di aula asrama.” Terdengar suara lantang wanita dewasa di speaker asrama.
                “Hai, namamu siapa? Asal mana?” sapa seorang gadis sebaya dengannya.
                “Hai, namaku Nasya. Aku dari Depok. Kamu?” Tanya Nasya
                “Aku Zahrantiara, panggil aja Tiara.”
                “Oke.”

Mereka berteman sejak itu, dan bersama  berjalan menuju aula asrama.
                “Yey! Senangnya. Ternyata kita satu grup. Satu kamar tidur pula.” Kata Tiara sumringah.
                “Iya, aku juga senang banget.” Jawab Nasya.

Hari pertamanya ia lewati dengan cukup santai. Esok sudah mulai belajar. Ia bersyukur mempunyai room mate seperti Tiara. Gadis itu ceria, apa adanya dan dapat mencairkan suasana.
####################
                “Pagi anak-anak, Nama saya Andi Prasetya. Umur saya 26 tahun. Saya biasa dipanggil Pak Andi, saya mengajar Matematika. Ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Saya Pak! Bapak sudah menikah belum?” Tanya Tiara diikuti sorakan dari teman-teman sekelasnya.
“Haha.. Kamu maunya bagaimana? Hmm.. Kebetulan, saya masih sendiri kok.” Jawab Pak Andi. Tepuk tangan dan sorak kebahagiaan terdengar dari seluruh murid perempuan dikelas itu, kecuali Nasya.
“Ada yang mau ditanyakan lagi? Kalau tidak, kita langsung belajar. Buka buku paketnya halaman 7, pagi ini kita belajar Trigonometri.”  Perkenalan singkat namun membuat Nasya bersemangat. . Entah mengapa ia merasa tertarik pada Pak Andi dan ternyata ia pun kagum pada Pak Andi, namun tidak seperti teman-temannya yang menunjukkan secara terang-terangan, Nasya lebih memilih menyembunyikannya. Pak Andi tampan, wajahnya sekilas mirip Dude Harlino, bintang sinetron itu. Pembawaannya santai, tidak seperti guru lainnya. Cara mengajarnya asik, bahkan rumus trigonometri yang susah itu dapat dengan mudah masuk ke otaknya. Namun saying, 2 jam pelajaran Pak Andi terasa sangat singkat. Ia ingin belajar Matematika setiap hari dengan Pak Andi. Dan ternyata, Pak Andi pun merasakan hal yang sama. Ia kagum pada Nasya.
                6 bulan berlalu dan sampailah pada liburan akhir semester I. Nasya menyambutnya dengan semangat. Ia sudah tidak sabar untuk kembali ke Depok, menemui keluarganya dan teman-temannya di tempat ia mengajar. 2 minggu masa liburan itu manfaatkan dengan sebaik mungkin.
################
“Fi, hari ini Nasya pulang. Bagaimana reaksimu?” Tanya Kak Adin pada Kak Sofi.
“Biasa aja sih kak. Sejak saya mengetahui kabar itu, penilaianku terhadapnya berubah.” Jawab Kak Sofi.
“Iya. Saya juga. Tapi di depan Nasya, kita bersikap sewajarnya saja ya.” Pinta Kak Adin.
“Akan aku usahakan.”

Siang itu, Nasya sampai dirumahnya. Rasa lelahnya terkalahkan oleh rasa bahagianya. Sorenya, ia langsung menuju TPA Harapan Insani dan bertemu dengan santri-santrinya disana.
                “Kak Nasyaaaaa, kangen. Kemana aja sih?” Kata Dita manja. Dita adalah salah satu santrinya di TPA itu. Mendengar suara Dita, santri-santri lain yang berada di dalam kelas pun berhamburan keluar kelas. Mereka berebut untuk menjadi orang pertama yang memeluk Nasya. Baginya, bahagia itu sederhana, seperti ini.
                “Kakak enggak pergi kemana-mana kok, Dita saying. Ini, ada kakak kan disini?” Jawabnya sambil memeluk Dita.
                “Jangan pergi lama-lama lagi ya, Kak.” Pinta Dita.Nasya pun mengangguk.
##########
                “Nasya, apa kabar?”
                “Eh, Kak Sofi. Alhamdulillah baik Kak.”
                “Bagaimana keadaan disana? Ada yang mengganggumu tidak?”
                “Haha.. ganggu gimana maksudnya? Enggak ada kok kak.”
                “Yakin enggak ada yang mau kamu ceritakan pada kakak?”
                “Apa yang mau diceritain? Kan gak ada apa-apa. Eh, udah dulu ya kak. Nasya mau mengajar dulu. Dadah, Assalamu’alaikum.” Jawabnya kaku lalu berlalu meninggalkan Kak Sofi.
“Maksud Kak Sofi apa sih? Jangan-jangan.. Ah, gak mungkin.” Dalam hati Nasya menduga-duga.

From     : Kak Sofi (+6285678783456)
To           : Nasya
Assalamu’alaikum, Nasya. Besok kamu ditunggu Kak Adin di TPA jam 3 sore. Penting. Datang ya, Terimakasih.

Nasya penasaran dengan sms itu dan akhirnya, Ia pun memutuskan untuk menemui Kak Adin keesokkan harinya.
##########
“Assalamu’alaikum, Kak Adin. Kakak memanggil saya? Ada perlu apa ya?”
“Iya, Nas. Ayo masuk. Silahkan duduk.”
“Oke, saya enggak mau basa-basi. Saya to the point aja. Siapa itu Pak Andi?”
“Oh, itu guru Matematika saya kak di asrama. Kenapa memangnya? Kakak mengenal beliau?”
“Tidak. Tapi menurut kabar yang masuk ke saya, kamu ada hubungan dengan dia?”
Nasya agak gugup menjawabnya, dari bahasa tubuhnya dapat dengan mudah ditebak bahwa Ia  sangat gelisah. Untuk menutupinya, ia lebih memilih menunduk ketika menjawab pertanyaan Kak Adin.
“Ya benar. Kita ada hubungan. Hubungan guru dengan muridnya. Ada yang salah Kak?”
“Tidak. Tapi saya anggap kamu sudah mengertilah tentang hal yang satu ini. Kalau kamu enggak mau cerita ke saya tidak apa-apa. Tapi, besok enggak usah dating ke sini lagi. Saya gak mau punya Adik yang gak nurut kalau dinasehati.” Jelas Kak Adin.
“Oke kalau mau kakak seperti itu. Saya gak bakal datang ke sini lagi. Saya juga merasa orang-orang disini berubah. Bukan seperti yang saya kenal sebelumnya. Gak ada yang mengerti keadaan saya disana. Bagaimana kesepiannya saya di asrama. Jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru lagi.Saya kira, kakak mengerti keadaan saya. Ternyata enggak.”
“Bukannya saya enggak mengerti keadaan kamu. Saya cuma takut belajar kamu terganggu. Tujuan awal kamu masuk Dji Sam Soe Academy untuk mencari ilmu kan? Bukan untuk pacaran.”
“Untuk hal itu, kakak enggak perlu khawatir. Justru saya jadi semangat dalam belajar. Dia bisa memotivasi saya. Untuk masalah pacaran? Kakak dapat info dari mana? Saya enggak pacaran sama Pak Andi. Dia bersedia untuk menikahi saya jika saya sudah lulus nanti. Yaudah kak, sudah selesaikan? Saya pamit. Wassalamu’alaikum.” Nasya keluar sambil menahan air mata. Dalam hatinya sesak. Rasanya ia ingin meninju apapun yang ada didepannya.
##############
Sejak kejadian itu. Nasya tidak pernah tampak di TPA Harapan Insani. Dita dan santri-santri yang lain bertanya kepada Kak Sofi. Namun jawaban Kak Sofi tidak ada yang membuat Dita puas.
“Halo, Assalamualaikum Nas. Ini Kak Adin. Saya mau minta maaf atas kejadian tempo hari. Saya yang salah.” Kata Kak Adin kepada Nasya ditelepon.
“Oh itu. Gak apa-apa Kak. Saya juga punya andil kesalahan di situ. Oh iya, sekalian saya mau pamit. Saya mau ke Bandung, ke rumah Tiara, salah satu teman saya di asrama selama seminggu, setelah itu saya langsung ke asrama. ”
“Kenapa mendadak Nas?”
“Enggak mendadak kok, Kak. Saya rasa saat ini saya perlu waktu untuk menyendiri. Yasudah. Wassalamu’alaikum.” Nasya pun mengakhiri percakapan tersebut.
####################
Liburan semester I sudah berakhir, saatnya Nasya kembali ke asrama. Hubungannya dengan Pak Andi merenggang sejak kejadian tempo hari itu. Pak Andi merasa heran dan memutuskan untuk bertanya kepadanya secara langsung.
“Kamu kenapa Nasya? Saya punya salah sama kamu?”
“Enggak kok. Kamu gak salah apa-apa. Hanya saja, mereka sudah mengetahui hubungan ini.” Kata Nasya lesu.
Pak Andi pun diam dan berfikir sejenak. Akhirnya ia memegang pundak Nasya dan berkata, “Dengarkan Aku. Aku beneran sayang sama kamu. Bukan rasa sayang guru kepada muridnya, tapi rasa sayang seorang lelaki kepada wanita. Kalau kamu mau, lulus SMA ini, aku ingin menemui kedua orangtua kamu, aku ingin melamar kamu. Bersediakah kamu jadi istriku? Jadi seorang Ibu dari anak-anakku kelak?” Kata Pak Andi.
Dari kejauhan, Tiara melihat kejadian itu. Memang percakapan mereka tidak terdengar olehnya. Tapi dari cara Pak Andi memegang pundak Nasya dan menatap mata Nasya, Tiara menyimpulkan bahwa diantara mereka ada hubungan yang lebih. Bukan sebatas antara guru dan murid. Tapi Tiara lebih memilih menyembunyikan hal ini. “Kalau benar mereka ada hubungan, aku harusnya ikut bahagia.” Kata Tiara dalam hati.
###########
3 tahun berlalu dan sampailah pada malam pelepasan. 3 tahun berada di asrama ini, rasanya banyak sekali pengalaman yang Nasya rasakan. Malam itu, kedua orangtuanya hadir.Nasya tampak cantik dengan kebaya yang ia kenakan. Polesan make up tipis dan jilbab yang ia kenakan tampak serasi. Cantik sekali.
“Hadirin, mari kita sambut, siswi yang lulus dengan nilai terbaik di tahun ini. Nasya Amanda.” Kata seorang MC yang tidak lain adalah Pak Andi.
                Nasya berjalan menuju podium diiringi tepuk tangan dari seluruh tamu undangan yang hadir. “Selamat! Kamu berhasil.” Kata Pak Andi kepada Nasya. “Terimakasih.” Jawabnya.
                Nasya pun memberikan pidato didepan podium. Nampak orangtuanya sangat bangga terhadap Nasya. Di kursinya, mereka menagis. Menangis bahagia melihat anaknya.
###########
                Keesokkan harinya, satu per satu murid meninggalkan asrama menuju rumah mereka masing-masing. Tiara dan Nasya pun demikian, mereka berpelukan, cukup lama. “Jangan lupa, undang Aku di pesta pernikahanmu nanti.” Bisik Tiara. Nasya bingung namun hanya tersenyum dan menjawab, “pasti,Tiara.”
                Nasya dan kedua orangtuanya pulang dengan diantar mobil Pak Andi. Orangtua Nasya sudah mengetahui hubungan putrinya tersebut dan mereka merestui.
                Hubungan Nasya dengan Kak Adin membaik. Seminggu setelah kepulangan Nasya. Pak Andi memenuhi janjinya. Ia datang ke kediaman Nasya dan melamarnya. Prosesi lamaran itu berjalan dengan lancar. 2 bulan setelah itu, mereka melangsungkan pernikahan. Mereka berdua tampak serasi dan terlihat bahagia. Seperti banyak orang bilang. Bahagia itu, sederhana.