It is really, exactly, happened a week ago. My very first conference!!
Kalimat pembukanya rada norak tapi ya gapapalah, tulisan pribadi ini.
(Terbengkalai sejak ditulis terakhir pada Desember 2017, ada di draft, makanya 'happened a week ago'. pffftt.....)
Mungkin temen-temen banyak yang udah sering ikut konferensi, Singapura mungkin cuma bagaikan Jakarta ke Bogor.. Tapi bagi gue, ini bener-bener pengalaman sebenar-benarnya pengalaman! Dan daripada menghilang dimakan waktu, lebih baik dibekukan di tulisan ini, kan? So here's my story....
Beda waktu antara Jakarta dan Singapore itu satu jam, jadi kalau di Jakarta jam 8 pagi, di Singapore jam 9 pagi.
Sampai di Changi Airport, rasa kagumnya tuh mulai tumbuh nih ceritanya. Terasa banyak aktivitas, tapi tetap lenggang, gak membingungkan, meski tempatnya se-luas itu.
Dan, kerennya penataan pelayanan publik di Singapore, termasuk urusan transportasinya. Semua penunjuk jalan, jam kedatangan bus, rute MRT, itu jelas dan rinci banget! Jadi gak perlu takut nyasar meski sendirian di sana.
Inginnya sih awal kedatangan langsung cobain
public transport-nya, tapi ribet bawa-bawa koper, akhirnya pesan Grab, dan ajaibnya ya disana itu gak ada Grab-bike! gak ada option-nya yang Grab pake motor. Ternyata, motor yang ada di jalan pun bisa dihitung jari, dan lebih banyak memang dikendarai driver penyedia layanan antar makanan gitu. Jalanan Singapore lenggang banget saat itu, karena waktu itu jam 10 pagi, dan itu bukan
rush hours. Ongkos grab / taxi disana mahal banget! ibarat dari FT sampe Margo City lewat Margonda tuh kena SGD 21. Murah sih 21 dolar, tapi coba dirupiahin? dua ratus sepuluh ribu, wkwkwkwk
Kalau lagi gak buru-buru atau banyak bawa barang bawaan, mending naik
public transport deh.
Oh iya, selama di Singapore ini, gue tetap pake provider Tri, beli paket Overseas Singapore 7 hari (harga 75 ribu, perhari dapat 93 MB, dikit sih, tapi cukup karena selama di penginapan pakai wifi, paket ini cuma untuk selama di luar aja). Sebenarnya di Changi juga ada
counter penyedia provider telekomunikasi gitu, tapi yang paling murah aja 15 SGD (yang kalau dirupiahkan kurang lebih 150ribuan, masih lebih terjangkau paket dari Tri). Penginapan gue waktu itu cari di AirBNB dan worth it, tempatnya dekat sama stasiun MRT, ada dapur, ada wifi, ada tv, kamar mandi dua, lengkap deh.
cek disini.
 |
Di jalan deket Apartemen, kemana-mana tinggal jalan kaki tapi gak capek.
In frame : Eki dan Bu Upik.
Atika yang moto-in. |
Hari pertama sampai di sana, cuma ke NTU untuk lapor diri daftar ulang gitu. Berkeliling NTU sebentar dan penyesuaian diri. Setelah itu kita ke penginapan dan persiapan diri untuk presentasi besok. Dan tibalah, hari H presentasi, aaaa se-deg-degan itu gue.
Pertama, kita mengikuti tiga kelas umum di satu kelas besar, pemateri pertama itu Professor dari USA, yang kedua dari Korsel, yang ketiga dari Singapura. Setelah itu, kita dibagi ke beberapa subtema dan pindah kelas sesuai dengan subtema tersebut. Tibalah, giliran gue, yang maju dua kali lebih cepat dari yang seharusnya karena dua orang sebelumnya gak hadir.
Sepanjang presentasi jujur aja deg-degan banget,
all I can do is baca slide PPT :" tiba-tiba di tengah penjelasan gue, sang moderator, yang adalah Prof dari Korsel yang ngisi materi di kelas umum tadi memotong dan bertanya,
"why the mercury parameters index has that number? which method that you used?" kalau gak salah begitu inggrisnya, pokoknya intinya dia nanya, kenapa kok angka indeks merkurinya segitu? emang kamu uji nya pake metode apa?
WAAAAWAAAAA.... selupa itu aku sama teori huhu :"
se-enggak percaya itu yang bakal ditanyakan adalah teori ; metode pengecekannya pake apa?
Alih-alih menjawab (yang emang padahal lupa banget), gue cuma bisa,
"hmm? what? pardon?" padahal jelas-jelas gue ngerti dia nanya apa. Sampe beberapa peserta konferensi (yang adalah para ekspert, S2, S3, ahli di bidang lingkungan) ikut membantu menterjemahkan pertanyaan sang Prof moderator dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, karena takutnya gue yang gak paham apa yang ditanyain. Tapi lagi-lagi gue cuma,
"hmm? what? ah?"
KELU BANGET LIDAH RASANYA MAU JAWAB. Di meja peserta, Eki udah ngode-ngode jawabannya, tapi gue terlanjur gugup akhirnya bilang,
"I'm so sorry because someone who do that at laboratorium is not me." Hahahaha lemes! badan rasanya mencair :"
Sampe akhirnya Profnya mungkin kasian sama gue, dia bilang, "
ok. that's enough. besok-besok meskipun bukan kamu yang meneliti, kamu mesti tau apa yang kamu bicarakan di presentasi. Oke, silakan kembali ke tempat duduk kamu." Dia ngomong pake bahasa indonesia? tentu tidak, itu gue translate yang intinya begitu, deh. Sedih, ya...
first experience gue malah begitu.
Sesi presentasi selesai, saatnya pengumuman
the best speaker. Tebak siapa yang dapat
title itu? Ya jelas bukan gue, lah. Tapi seorang mahasiswa S3 dari Jepang, yang umur penelitiannya udah 10 tahun (turun temurun diteruskan gitu), slide presentasinya aja udah kayak materi kuliah. Apalah dibanding penelitian gue yang cuma dua bulan. Hiks.
 |
| candid ini, aseli :p |
 |
| Foto ceria bersama Eki. Gue yang kerudung biru. |
 |
| Waktu giliran diriku presentasi |
 |
| foto bersama seluruh peserta konferensi |
Selesai itu, acara bebas dan akan ada acara makan malam bersama, tapi berhubung rasanya kepala gue pening banget. Pening yang....pusing, malu, pengen nangis, campur aduk gitu rasanya, akhirnya pulang aja dan gak ikut makan malamnya itu.
Tapi karena gak ikut makan malamnya itu, gue sama Eki jadi pergi ke Chineese and Japannese Park di deket MRT. Pertama kalinya naik MRT sini. teratur banget. setiap dua menit, MRT nya datang, gak desak-desakan. Tapi tetep aja sih, ada sisi gak bagusnya.
Sekali dua kali gue lihat, di eskalator, muda-mudi ciu*an, sesantai itu, terus orang-orang di sekitarnya juga, se-biasa-aja-itu. Gue yang liat malah tutup mata. Sekali lagi mendapati hal demikian di dalam MRT, sepasang cewek-cowok mojok terus ciu*an. Gak kebayang, kalau di Indonesia pasti udah masuk akun-akun viral di IG terus seorang netizen menemukan akun IG si pelaku itu, biasanya sih yang ceweknya. Terus dihujat sama netizen di kolom komentar. Cerita selanjutnya tinggal dua, si pelaku itu tutup akun karena gak kuat dibully netizen, atau dia malah memanfaatkan 'ketenaran sesaat'-nya itu untuk jadi selebgram! Wkwk hafal banget gue gak ngerti lagi.
Dan lagi, dua kali waktu seorang nenek masuk MRT dan sekali waktu naik bus, gue mempersilakan tempat duduk gue buat dia. Dan tau, gak? dia seterima kasih itu, sampe gue turun terus-terusan bilang,
"thank you thank you..." sembari senyum. Tentu aja gue gak langsung dapet duduk pas pertama kali naik. Nah pas gue lagi naik dan dalam posisi berdiri, ada kejadian yang sama, tapi gak ada tuh gue lihat orang muda yang berdiri dan memberikan duduk.
Tapi tentu, kita gak bisa menggeneralisir semuanya begitu kan, karena di Indo aja banyak yang sebodo itu padahal tempat duduk prioritas. Tapi ngeliat respon si nenek yang terus bilang,
"thank you.. thank you.." itu kok gue ngerasa sesuatu, ya.
Ada lagi cerita, di malam terakhir kita di Singapore, Eki mau ke tempat tantenya di daerah Ang Mo Kio, itu daerah pemukiman kalau di Singapore. Selesai Eki ke tempat tantenya itu, tantenya anterin kita ke halte bus sambil nunggu bus-nya datang. Gak sengaja kita nemuin HP yang tergeletak di halte itu, posisinya layarnya menghadap ke bawah, kebiasaan kita kan kalau ngeliat HP jatuh langsung dipungut dong ya, terus kebetulan layarnya gak
di-lock, langsung ke
log recent call, rencananya mau nelepon orang yang terakhir dihubungi, biasa
kan, emang normalnya juga gitu, kalau di Indo. Eh sama tantenya Eki di larang, tebak kita malah kemana?
Kita ke kantor polisi terdekat teman-teman, untuk melaporkan kalau kita baru saja menemukan sebuah HP yang jatuh. Bayangan gue, ya se-enggaknya kita dapat ucapan terimakasih gitu kan dari polisinya, eh ini malah ditanya macam-macam, seolah kita yang nyuri itu HP wkwk woylah kalau nyuri ngapain kita ke kantor polisi??
Ditanya, "ini nemu dimana? kronologinya gimana? ini kamu siapa? urusan apa datang ke Singapore?" Gue se-deg-deg-an itu,
culture shock tuh gini rasanya mungkin, ya. Ini baru Singapore, yang se-dekat itu sama Indonesia.
Selesai itu, tantenya Eki bilang, "kalau disini (Singapore), nemuin apa-apa, gak usah diambil. Dibiarkan saja. Bahasa kasarnya, kalau ada orang jatoh, jangan dibantu, takutnya kamu yang dikira dorong dia sampai jatuh. Karena nanti urusannya bakal panjang."
Waduh! Pulanglah kita dengan perasaan gak enak yang sangat mendalam, karena tantenya Eki sampe harus pulang dan nunjukin surat izin tinggal-nya sebagai bukti ke kantor polisi.
***
Hari ketiga di Singapore diisi dengan
academic trip,
one day visit. Ini trip gak wajib buat peserta konferensi, bagi yang mau saja. Dan gue sama Eki ikut, bayar 50 SGD masing-masing, sekitar 500 ribu kalau dirupiahin. Kita ke Merlion Park, St. Andrew's Cathedral, Chinatown, Garden by the Bay, Little India.
Merlion Park tu bisa dibilang kayak Monas-nya Jakarta kalau di Indonesia kali ya, ikon ibu kota, bahkan ikon negara kalau di Singapore. Dan itu, seramai itu. susah untuk nemu spot foto yang 'bersih tanpa ada bocor orang-orang di belakang'.
Tapi susah bukan berarti gak bisa. Malah gue nemu spot yang selama ini belum pernah gue lihat fotonya di google, sampe baru tahu kalau air mancur dari mulut merlion-nya itu keluar pake paralon. Lah emang pake apa? ya iyasih paralon, tapi kan selama ini gak pernah kepikiran gitu.
 |
| capture by me |
 |
| from the other side. Tuh lihat lautan manusia deket merlionnya. |
 |
| castle and the blue sky, capture by me |
 |
| the building in front of merlion, aesthetic :p |
Di Chinatown lumayan lama, karena sekalian istirahat makan siang. Disana barang-barang mureh-mureh deh (ya meski kalo dirupiahin tetep mahal) gue banyak beli oleh-oleh disana. Chinatown kayaknya di mana-mana sama aja ya, rasanya udah kayak ke Glodok deh. cuma hati-hati kalau makan, pastikan halal.
setelah itu, kita pergi ke Garden by the Bay, dan diberi pilihan, mau masuk ke macam-macam garden-nya atau mau keliling aja. Karena kita gak punya duit, akhirnya kita gak ikut masuk dan cuma keliling-keliling aja. Terus beli es krim mekdi karena penasaran, variannya belum ada di Indo saat itu, ini dia penampakannya, harganya 3.5 SGD, 35 ribu untuk sebuah es krim. wkwk
Meski rencana awal masih ada destinasi Little India, tapi ternyata hujan turun dengan derasnya. Akhirnya kita sepakat untuk hanya berkeliling little india menggunakan bus tour, gak menjelajah kayak waktu di Chinatown. Lalu pulanglah kita ke tujuan masing-masing. Waktu itu gue sama Eki bawa-bawa koper yang dititip di bus tour, karena kita mau pindah penginapan, yang selama dua hari kemarin di Jurong deket NTU, pindah ke pusat di Orchard Road.
Sepanjang turun dari bus, koper gue yang gede dibantu bawain sama seorang peserta konferensi yang mau pulang ke penginapannya dan naik MRT juga. Bayangin deh naik turun eskalator terus tiap ada satpam, tuh koper mesti dibuka untuk dicek, Alhamdulillah ada yang bantu bawain.
Malam harinya, kita ke tempat tante-nya Eki, kayak yang gue ceritain di beberapa paragraf itu, sepulang dari tempat tante-nya Eki itu kita pergi ke Garden by the Bay lagi, tapi via jalur lain, lupa waktu itu jalur apa, pokoknya naik MRT. Singapore, lampu, dan malam hari. Duh, susah digambarin deh pokoknya manjain mata banget.