Minggu, 11 Mei 2014

Belum berjudul #1

Pagi ini adalah pagi yang berbeda dari biasanya, kau tahu? Kemarin ayahku membelikanku sepeda. Memang bukan hal yang ajaib di usiaku yang sudah 19 ini. Zaman di mana orangtua teman-temanku lebih memilih memberikan sepeda motor untuk anaknya.

Hari ini hari Minggu, sudah kuniatkan untuk bersepeda menggunakan sepeda baruku ini. Aku sudah mempunyai rute sendiri di otakku. Mulai bersepeda dari sini, lalu ke sini, setelah itu ke sana dan seterusnya.
Baru saja mengeluarkan sepedaku ini dari dalam rumah, nampak satu rombongan anak-anak berlari-lari kecil mengelilingi kampung, menyapaku dengan senyum khas anak-anak, “pagi Kak Shilaa ..” Aku menjawab satu persatu, “pagi Ido, pagi Adel, pagi Silvi, pagi Adi. Semangat ya lari paginya..”

Aku memacu sepedaku keluar, mengelilingi jalan sesuai ruteku itu. Dipersimpangan jalan ku lihat seorang pemuda asing yang aku belum pernah lihat sebelumnya, ku taksir umurnya sebaya denganku, mungkin lebih tua dia beberapa bulan, batinku.
Dari kejauhan ku lihat ia sedang menatap ke arahku, tatapan pertemanan, seperti ingin mengajak berkenalan lalu bersepedah bersama. Tapi aku alihkan pandanganku darinya, ku lajukan lagi sepedaku, menuju suatu taman di kampungku ini.

Cerita sedikit bahwa Taman ini dulunya kebun kosong, yang lebih sering digunakan warganya untuk membuang sampah, maka akupun menyembutnya “taman sampah" namun beberapa bulan yang lalu sekelompok orang dari LSM Cinta Lingkungan datang kesini, memberi penyuluhan tentang pentingnya taman bagi kehidupan, mereka juga memberikan bantuan yang lengkap, mulai dari dana hingga tenaga pekerja, hingga tempat itu disulap menjadi taman nan asri dengan banyak pepohonan seperti sekarang ini.

Sedang asyik bersepeda, tiba tiba aku jatuh. Ah. Rantainya putus. Ku coba membetulkan tapi tidak bisa, keadaan rantainya putus, benar-benar putus, ada sambungan rantai yang terlepas, bukannya kendur. Pemuda itu menghampiri bermaksud memberikan bantuan,
“kenapa sepedanya?”, tanyanya padaku
“rantainya putus.”, jawabku lirih.
“tolong pegang ini bentaran, gue coba benerin”, kataya seraya memberikan botol minuman padaku, “minum aja kalo lo  haus.”, tambahnya
“ini mah mesti diganti rantainya, musti taro dibengkel” katanya memberitahu
“tuh didepan situ ada bengkel, bisa nanti deh aku tuntun kesana. Thanks ya.” Kataku sembari menyerahkan botol minumnya dan mengambil alih sepedaku darinya.

Bengkelnya masih tutup, mungkin karna hari libur. Namun dari rumahnya -yg bersebelahan dengan bengkelnya-, si pemilik bengkel berkata untuk ku meninggalkan saja sepedaku didepan bengkelnya, sebentar lagi ia baru akan membuka bengkel. “2 dari lagi datang lagi kesini ya neng.” Katanya. “Loh kan cuma rantai pak, kok lama banget?”
“iya, banyak sepeda juga didalam belum sempet ta' pegang, kemarin istri melahirkan jadi gak sempat pegang kerjaan.” Aku hanya ber-oh panjang dan meninggalkan sepeda ku itu, padahal sepeda baru, tapi kenapa sudah rusak saja. Tanyaku sedih.

“Hei. Sekarang mau kemana?”
“Pulang. Mau sepedahan, sepedanya kan rusak. Tuh.” Kataku manyun sambil menunjuk ke arah sepedaku itu
“Sini bonceng sama gue. Ntar gue anterin pulang. Kayaknya rumah lo deket rumah gue. Oh iya, nama gue Maron. Tadi belom sempet kenalin nama.” Katanya seraya mengulurkan tangan.
“Shilaa.. double A dibelakangnya ya, jadi agak dipanjangin kalo panggil nama gue.” Kataku meraih salaman tangannya.
“Sepeda gue gak ada jalu nya, jadi gak mungkin lo diri dibelakang. Sini duduk di depan.”
“Ah gausah deh, jalan aja.”
“Yee.. takut gue macem-macemin apa? Yaudah gue jalan juga aja deh.”

Maron pun menuntun sepedanya, menyamai langkahnya denganku. Padahal baru saja berkenalan, tapi aku sudah merasa akrab dengannya.


To be continued………

Rabu, 07 Mei 2014

Caraku dalam Diam

Ada sesuatu didiamku,
menyimpan rindu yang menderu,
yang ingin kusampaikan padamu yang ku tuju,
Bukan sekarang, tapi nanti di batas waktu.

Diamku, tak berani menyebutmu langsung di depan lainnya
Hanya berani menyebutmu dalam do'aku pada-Nya
Meminta-Nya menyatukanku denganmu,
Menjadikanmu halal bagiku

Menatapmu, hanya ku lakukan dari belakang,
Tak berani ku tatap mata itu dari depan.
Hanya punggung.
Punggung yang sama dengan yang ku tatap sejak pertama.

Dalam diam, ku sampaikan semua itu pada-Nya.
Dapatkah kau tangkap insyaratnya?

Tak mengapa jika tidak, karena memang seperti itulah tujuanku.

Diam. Caraku menyampaikan itu padamu.
Agar hanya Dia yang tau, bukan kamu."



Rabu. 07 Mei 2014
Pukul 23:40 WIB

Sabtu, 19 April 2014

Semangat itu...kemana perginya?

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t1.0-9/p403x403/983597_670558916313297_535864092_n.jpg
Semangat itu.. kemana perginya?
Ingatkah dulu awal-awal bermimpi? Kau tulis semuanya di buku itu. Yap, buku yang kau buat dengan hati yang riang, yang dengan bangga kau beritahu pada semua orang bahwa INI LOH BUKU MIMPI SAYA. Semua yang ada disini adalah apa-apa yang saya inginkan untuk beberapa tahun kedepan.

ketika satu per satu terwujud, kau pun riang bukan main. kau mencoretnya, tanda mimpi itu telah berhasil kau gapai, kau tambah mimpi yang lain sehingga mimpimu tetap banyak dan kau tak berhenti bermimpi.
Kau suka memotivasi orang dengan kata-kata mimpi, mimpi, mimpi, dream! karena kau ingin, hidup orang tersebut akan lebih berharga jika mereka mempunyai mimpi serta visi dalam hidupnya. Bahkan kau buat tulisan di dinding kamarmu : DREAM. BELIEVE. ACT. PRAY. karena kau yakin, mimpi lah yang menjadikanmu seperti sekarang ini.

Tapi suatu ketika, salah satu mimpimu tidak bisa kau coret, bukan, bukan karena tintamu habis, tapi karena mimpi itu tidak bisa kau gapai. Semangatmu menurun, serasa efek domino, seakan mimpimu yang lain ikut "gagal digapai" karena satu mimpi mu yang gagal itu. Tak lagi kau bawa-bawa buku kecilmu itu, buku yang berisi mimpi-mimpi mu, yang setiap hari ada di tasmu. Bahkan kau letakkan dia di bawah buku-buku lain hingga kau pun lupa kau meletakkannya dimana.

Kemana semangat yang dulu....kemana?
Mungkin ketika bermimpi, kau lupa satu hal.
Menyiapkan "matras empuk" untuk dijadikan alasmu ketika kau terjatuh.
Agar ketika kau jatuh, bukan aspal keras yang kau dapati tapi bantal empuk.
Sehingga kau merasa bahwa "jatuh", Seberapapun banyaknya itu, kau tidak akan merasa sakit.

Hal itu yang kau lupa persiapkan. Satu kalimat dengan penerapannya yang belum bisa kau wujudkan. MENTAL JIKA SATU MIMPIMU KANDAS.

Sabtu, 19 April 2014
Atika Widiastuti

Mending tau, atau enggak?

bisa gak sih orang galau tapi gak ada alasannya? hmm...
sekarang lagi ngalamin nih, gak tau ini disebabkan sama yang mana. tapi daritadi "hal ini" bikin seharian jadi gak mood :( *padahal udah gede, tapi masih aja uring-uringan gak jelas.

Kayaknya sih sama kasusnya kayak post-post-an sebelumnya, apalagi kalau bukan tentang uhuk itu. Akibat stalker, jadi mengetahui sesuatu. tapi setelahnya jadi kepikiran, dan nyesel karena udah stalking. Jadi, mendingan tau, apa enggak tau?

Iri. memang ini sifat jelek dalam diri yang pasti dimiliki dalam diri semua orang (mungkin kadarnya berbeda). iri emang faktor dari dalam, bisa dosa kalau kita iri lalu jadi berbuat "aneh-aneh.", karena itu, iri dilarang kecuali iri dengan ilmu dan ibadahnya seseorang.
Tapi...kalau kita gak boleh iri sama orang dengan alasan di atas. Gimana sama orang yang bikin kita iri? mungkin dia gak sadar, kalau sikap atau sifatnya bikin kita iri. Tapi ini sering banget kejadian, entah mau nasehatin jadi gak enak karena beliau lebih tua dari saya atau beliau adalah teman main saya. gaaak, ini gak mengacu ke satu orang, tapi general.

Emang apa sih yang di-iri-in?
Nah ini, gak etis rasanya kalau ditulis disini, tapi ini media buat saya cerita, gak plong rasanya kalau gak dituangin. tapi gimana ya...... *nentuin gini aja galau :p

Ah yasudah. yang penting sudah ada yang dituangkan, walaupun tersirat dan tak bermakna apapun. Mungkin si dia yang membaca juga gak mengerti maksud tulisan ini *itupun kalau dia baca.
Tapi.... Terimakasih, blogger!

Minggu, 30 Maret 2014

Nge-Batik time :)



Assalamu'alaykum Warrahamatullahi Wabarakatuh.
Apa kabar mbak dan mas blogger? semoga dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang suatu apapun kecuali keburukan yang berkurang. aamiin.

Kali ini, saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman hari ini. Apa tebak? Yap, membatik. Yuhuu.. I am very excited to share this moment to you. #SokInggris

Hari ini adalah pengambilan nilai MPK Seni Batik di meseum tekstil, Jakarta Pusat. Jujur ini adalah kali pertama saya mendarat ke sana. #waduh selama ini terbang maksudnya?

Jadi, saya kesana bersama 2 orang teman, Nisa dan Dwita dengan menggunakan kereta. saya, yang gak pernah naik kereta sendiri sebelumnya, ngerasa parno sendiri. takut-takut nyasar atau salah beli tiket haha.. Mau beli tiket aja ragu, ini jadi beli atau ntar aja nunggu temen dateng, wkwk. Gimana ntar mau hidup sendiri di negara orang? Gak sendiri deng, kan sama pasangan #Eaa :P

Perjalanan menggunakan kereta kira-kira 1 jam, kami berangkat pukul 08.30 dan sampai di stasiun tanah abang pukul 09.30 WIB. langsung kami menuju ke museum tekstil, nanya ke pedagang-pedagang disana dan sampailah kami disana.. Taraa... ini dia penampakan museumnya :
sumber : google images
Sekilas gedungnya mirip sama rumah-rumah betawi gitu ukiran di pinggirnya. pertama-tama, kami masuk ke ruang utama, mengambil foto beberapa batik untuk bahan makalah UAS nanti. Satu kata yang terlintas saat itu : KEREN! pantes batik tulis tangan harganya mahal, ternyata bikinnya mendetail banget. Salut. Keren. Amazing lah pokoknya *prokprok

Setelah mengambil beberapa foto, kami menuju ke ruang membatik, letaknya agak ke dalam, lalu kami dibagikan piranti penahan kain, celemek dan ditempatkan duduk berlima-lima mengitari kompor yang diatasnya ada malam, nah malam ini adalah lilin, bahan dasar buat membatik, malam ini yang nantinya bakal ngebentuk pola di kain batik kita.

hmm.. panjang kalau diceritain, langsung aja, ini dia beberapa hasil fotonyaa :D
1. Kita menggambar pola di kain batik yang sebelumnya udah kita gambar pakai pensil dengan malam dan canting.



tara.... jadi :D tapi ada yang bercecer kesana kemari malamnya, gak rapi :(

2. Kain yang sudah digambar pola, diberi warna. Disini, selama proses pewarnaan, dilakukan oleh petugas dari museum tekstil, karena menggunakan bahan kimia, jadi takut membahayakan.
kurang merah apalagi coba? beeh

3. Setelah itu, kain direbus untuk menghilangkan malamnya, dibilas dengan air keran, lalu dijemur di bawah sinar matahari. ini jadinya, not bad tapi.......

Dwita-Atika-Nisa

4. Setelah kering, kami menuju ke galeri batik untuk mengambil kembali beberapa foto sampel untuk UAS, dan di galeri ini, tambah takjub aja saya. Batiknya keren keren ngetzz.. kebanyakan Batik Tulis! dan kerennya lagi, gak ada yang bercecer gitu malamnya :') Hebat banget hebaaatt.. ini beberapa fotonya...
 

Sekian cerita hari ini.. ketemu lagi di postingan selanjutnya. mari cintai Budaya Indonesia :)
Wassalamu'alaykum


Minggu, 30 Maret 2014
Atika Widiastuti
Lagi sama Alin dan Kaljut

Sabtu, 22 Maret 2014

#AtikaMenjawab


CeTek (Cewek Teknik)
Akhir-akhir ini, gue sering banget diledekin “cewek teknik”, enggak salah sih, kan emang bener kalo gue cewek yang kuliah di jurusan teknik. Cuma alasan dibalik ledekannya itu yang sedikit bikin sebal. Iseng, gue pernah voting kecil-kecilan, bener-bener kecil, respondennya cuma 3 hehe, dua cowok dan satu cewek.

Pertanyaannya sama, yaitu : “Apa yang ada di pikiran kamu ketika mendengar kata cewek teknik?
Jawabannya beragam tapi intinya sama. Menurut mereka, cewek teknik itu, yang pertama agak tomboy, agak kecowok-cowokan, terus kuat, jarang mandi, gak suka dandan, jomblo, bawaannya ransel besar dll dkk dsb yang begitu begitu-_-

Pernah baca di kaskus percakapan begini… percakapan antara cowok dan cewek yang belum saling kenal, terus mereka chatting :
"Cowok : hai..

Cewek : hai juga..

Cowok : boleh kenalan gak? Anak mana?

Cewek : Boleh. Anak Universitas X.

Cowok : Wih, keren! Ambil jurusan apa?

Cewek : Gue teknik

Cowok : ……………… *tiba-tiba end chat"

MAKSUDNYA APAAN??? Iya, itu cowok udah keburu ngebayangin cewek teknik itu begitu, gak bakal “bagus” dijadiin pacar (Alhamdulillah sih). Dan disini, gue cuma mau mengutarakan (utara-_- selatan-_-) tanggapan dan jawaban dari diri pribadi selaku ekhem cewek teknik ekhem yang mengalami dan melihat langsung gimana kehidupan di teknik (walau belum genap satu tahun). Maaf kalo hasil kacamata gue nanti agak subjektif karena gue cuma tau kehidupan teknik di UI.
 
Sebelumnya, kenalan dulu. Gue cewek, jurusan Teknik Lingkungan UI. Teknik yang menurut orang-orang “paling gampang” daripada teknik-teknik lain. (gue termasuk yang berpikir kayak gini sebelum masuk teknik lingkungan, hiks) padahal aslinya, ini teknik yang lumayan berat bro.. kita juga pelajarin tentang teknik sipil disini (ini Teknik Lingkungan versi UI, tiap universitas beda-beda) dan jangan ngeluh kalo nanti kerjaannya tiap hari milah sampah, emang itu matkul nya-_-v

Tuduhan pertama : Cewek teknik itu tomboy
Sumpah ini orang yang ngomong asal persepsi aja wkwk, kalau bahasa MPKT A-nya ini sesat pikir karena menstereotype-kan sesuatu, bingung ya? Udah jangan dipikirin. Orang yang ngomong gini, coba sekali-kali ke Teknik UI. Banyak akhwat-akhwat dengan rok dan kerudung panjang berlalu lalang menuju kelas, kantin, musholla dll. Setomboy-tomboy nya cewek teknik, enggak ada yang sampe rambutnya cepak dan menyerupai laki-laki, banyak juga yang pake jeans masih membentuk kaki (ini maksudnya masih mencirikan perempuan yang fashionnya tetap fashion perempuan-_-v hehe).
Jadi, mungkin kesimpulannya : kita bukannya tomboy, cuma kita gak neko-neko. Dan yang bilang cewek teknik tomboy secara tampilan, anda salah besar, bung.HAHA
FYI, Jadi di teknik UI itu, ospeknya satu tahun bro. semester pertama ospek yang istilahnya ditentuin jenisnya, dan semester dua itu disebutnya inisiasi, jadi bagaimana sikap kita jika ingin “diterima” dan masuk jadi keluarga teknik UI. Dan yang kayak gini, selalu bikin kita pulang malem. Mungkin kalau dilihat malem-malem, cuma di teknik yang jam 21.00 motor baru masuk, fakultas lain mah udah sepi, ini kehidupannya baru mulai. Jadi kalau maksudnya tomboy secara sikap. Mungkin ada benernya. Tapi bukan tomboy sih, mungkin disebutnya mandiri. Jadi kita mah udah biasa sering pulang malem, naik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Malah sering ada jartelan ngadain pertemuan baru dimulai jam 21.00. Strong, (wo)men! Hehe, tapi kalau gue, kalau dari rumah gak ada yang jemput, gue balik sore atau minimal nginep di asrama temen hehe kagak berani pulang naik kendaraan umum sendiri, apalagi di terminal depok. Beh, itu ntar jadi bahasan sendiri deh kenapa gue parno di terminal depok hehe.
Jadi kesimpulannya : cewek teknik secara tampilan gak tomboy, kita cewek normal, Kayak cewek-cewek lainnya dan mungkin bisa dibilang kita ini lebih mandiri dan gak neko-neko, gak menye-menye #eaa #benerinkerah #gakpakekerah

Tuduhan kedua : Cewek teknik itu jarang mandi
Ini hmm, semalem ceritanya abis pertemuan Rupin (Rumah Pintar –red), si Babe (salah satu kakak di sana), ngejelasin ke adik-adik di Rupin tentang teknik dengan semena-mena, salah satunya ini. Dia bilang cewek teknik jarang mandi ckck, padahal ada gue dibelakang dia-_-
Mau meluruskan lagi, kita itu rajin kok mandi. Cuma kalau air keran mampet dan bangun kesiangan, nah ini kan musibah yang gak bisa dihindari, jadi ya…..hmm…kita…gkmnd. wkwk. Karena tugas di teknik itu banyak kan yak (gaktau jurusan lain mungkin sama), jadi kita keseringan begadang, ketika bangun kesiangan, wah kalap kan. Langsung ambil perlengkapan mandi dan handuk, tapi yang dipake cuma sabun cuci muka, sikat gigi dan odol, tambah deodorant dan semprot minyak wangi kalo sempet wkwk. Gak deng ini bercanda, mandi mah tergantung individu, bisa juga anak Ekonomi, anak Kedokteran atau anak MIPA mengalami ini. Jadi intinya, jarang mandi dan cewek teknik itu bukan suatu kolerasi yang tepat.

Tuduhan ketiga :Cewek teknik gak bisa dandan
Kalo buat kasus gue, ini bener hehe. Tapi kalo ada orang yang bilang menggeneralisir kayak gini jelas salah. Coba sekali-kali main ke Teknik Industri atau Arsitektur UI, wah ini..ceweknya udah pada kayak bidadari dah, iya Bidadari di sarang penyamun(?) Cek tasnya, serius. Gue pernah ngecek sendiri. Isinya selain buku yang tebel-tebel, terselip kaca, bedak dan lipgloss. Ketika kelas berlangsung juga mereka gak segan-segan memoles lipgloss ke bibirnya (orang mah izin kek ke toilet hehe), mungkin bibirnya udah kebangetan kering kali, ya karena AC. Dan satu jawaban yang paling masuk logika adalah : Emang dandan buat apa si? Menarik perhatian lawan jenis? Kalo tujuannya kayak gitu, kita (cewek teknik) udah hidup dan tinggal di lingkungan laki-laki, jadi………buat apa dandan? #thinkhard #benerbenerhard

Tuduhan keempat : Cewek teknik kebanyakan jomblo karena gak ada laki-laki yang mau ngedeketin, wkwk
Untuk yang satu ini, gue membenarkan wkwk. Jawabannya sih simple, tugas kuliah kita lebih banyak membutuhkan perhatian bung. Jadi ngapain bagi-bagi perhatian ke cowok. Fokus ke tugas aja belom tentu tuh tugas selesai #eaacurhat. Tapi serius, karena saking banyaknya tugas yang deadlinenya berdekatan, kita sampe gak ada waktu gitu buat mikirin pacaran atau minimal deket ama cowok dan juga, kita udah kebiasaan deket sama cowok (secara hidup ditempat cowok), jadi buat apa yang lebih-lebih kayak gitu? 

Ehtapi gak jarang loh (gak jarang tidak sama dengan banyak), ada cewek teknik yang pacarnya anak teknik juga. Mungkin mereka merasa senasib, jadi saling membagi dan mengurangi beban satu sama lain gitu, #pleasedeh, ada yang sama temen seangkatan, senior sama junior satu jurusan, senior sama junior satu departemen, teman seangkatan beda departemen dll.

Mungkin masih banyak "tuduhan lain" tapi.. Sekian dulu sesi #AtikaMenjawab kali ini dan ingat pesan saya, ubah mindsetmu tentang cewek teknik, cewek teknik gak melulu yang jelek-jelek gitu. Bahkan jika kita cewek-cewek dilepas di suatu pulau tak berpenghuni, mungkin cewek teknik yang paling survive untuk hidup karena kita gak neko-neko ,hehe
Wassalamu’alaykum

22 Maret 2014
Atika Widiastuti
Lagi cari inspirasi

Sabtu, 08 Maret 2014

LACTESOL ROSIL FTUI 2014

Bismillahirrahmanirrahim... Sesuai janji kemarin, mulai sekarang, saya akan merutinkan menulis hehe..
Menjadi Mahasiswa dituntut bukan hanya mampu "berjuang" di dalam akademis, namun juga di organisasi. Supaya ketika menapaki dunia sebenarnya (dunia kerja -red) kita tidak terlalu kaget dengan sistem yang ada, karena sudah terbiasa sewaktu kuliah.

FYI, LACTESOL bukan nama produk susu ibu hamil hehe.. itu adalah suatu acara, dari proker ROSIL FTUI 2014, singkatan dari LAunChing ThE Spirit of rOsiL. Yap. kita me-launching ROSIL yang adalah Rohisnya Departemen Sipil-Lingkungan FTUI.

Sudah menjadi sistem di FT bahwa yang memegang amanah untuk menjabat di Rohis Departemen adalah junior, mahasiwa tahun pertama. Gaktau kenapa begitu, padahal urusan Syiar agama lebih tepat jika dilakukan oleh Senior, mahasiswa tahun kedua dan keatas, selain karena mereka sudah mengetahui medan dakwahnya, ilmu mereka juga sudah mumpuni dibanding kita yang masih mahasiswa baru.

LACTESOL adalah proker perdana ROSIL, acara ini berlangsung pada Kamis, 6 Maret 2014. Walaupun dengan persiapan dan koordinasi yang kurang maksimal serta hujan angin saat menjelang acara berlangsung *menerjang badai dan bara.....* #eea nyanyi. Namun acara ini sukses mendatangkan 135 muslim/ah DTS, Dept. Teknik Sipil yang sebagian besar muslimahnya datang dengan berhijab,Alhamdulillah :)


Dalam ROSIL ini, saya diamanahkan menjadi Kabid Kemuslimahan, jika dulu disebut Kaput (Ketua Keputrian), maka sekarang disebut Korwat (Kordinator Akhwat). Berbeda distruktur, namun tugasnya kurang lebih sama, mengordinir kegiatan kemuslimahan yang ada di departemen dan di teknik.

Ada yang berbeda di ROSIL tahun ini. Kita membawa SEMANGAT yang lebih dan...jilbab koko pengurus samaan, hehe..
#BudayakanKebaikan
Acara diisi oleh ceramah singkat oleh Ustadz Ibnu, ada beberapa kalimat darinya yang saya ingat sampai saat ini dan insyaAllah akan menjadi pengingat di kala saya lengah. Bahwa "Sesungguhnya, janji Alloh akan kebangkitan Islam itu benar. Yang salah dan perlu diluruskan adalah keyakinan kita, hambanya akan kebenaran janji Alloh itu." Karena kita seringkali lupa dan pesimis bahwa Islam pasti bangkit. Entah sekarang atau nanti, yang pasti Alloh sudah menjanjikan dan itu pasti terjadi.

Satu lagi nasihat khusus beliau pada kami adalah, "Ketika TEKNIK diberi nuansa ISLAM, maka bukan hanya mampu meREKAYASA Teknologi namun juga MAMPU membangun PERADABAN." MasyaAllah, langsung nancap di hati. Bikin semangat!

Setelah itu, ROSIL mempresentasikan proker-proker per bidangnya. Saya bersama Dwita mempresentasikan bidang Kemuslimahan.
Atika - Dwita





Acara dilanjutkan dengan Battle Nasyid, antara 2013 dan 2011-2012 :), Nasyid 2013 yang dibentuk dan latihannya sampai jam 12 malem ini (mulai latihan jam 23.50, haha) sukses memenangkan battle nasyid ini.

Ada satu moment yang saya ingat disini adalah publikasi, bagaimana mensyiarkan acara kita ke warga DTS yang notabene memang perlu diajak secara langsung. Saya masih belum bisa keluar dari zona nyaman, masih belum berani menyapa dan mengajak senior, banyak prasangka-prasangka buruk semisal takut gak didengar atau takut gak dikenal ketika mengajak. Padahal saya membawahi bidang kemuslimahan, salah satu bidang penting di ROSIL. #AyooodooongTikaBerubaaah

LACTESOL selesai pukul 21.30 WIB, memang terlalu malam untuk sebuah acara kerohanian, ini juga menjadi pelajaran untuk kami jika ingin membuat acara-acaa selanjutnya, difikirkan kembali soal waktunya.

Terlepas dari itu semua, saya pribadi mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada PO kita, Kgs. Miftah Salam, Karoh nya, Bapak Faiz dan seluruh jajaran serta panitia LACTESOL yang telah bekerjasama menyukseskan acara ini, walaupun Laprak menunggu untuk dikerjakan sehingga membuat kita lembur malam itu hehe..
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. " (TQS Muhammad : 7)" semoga kita termasuk orang-orang yang ditolong dan diteguhkan kedudukannya oleh Alloh, entah di dunia atau di akhirat kelak.
Tetap Dekat, Ikhlas dan Mem#BudayakanKebaikan. :)


Sabtu, 8 Maret 2013
Atika Widiastuti
di teras, sedang menulis