Selasa, 21 Januari 2014

Sepenggal Cerita Hari Ini



Dalam sekali perjalanan ke kampus, banyak cerita hari ini, entahlah seperti berhubungan. Ketika sedang di angkot menuju kampus, pas betul satu angkot dengan beberapa anak SMP 13 Depok yang sengaja dipulangkan lebih awal karena sekolahnya banjir. Maklum, memang sekarang lagi musim hujan. Sebenarnya pun hari ini mager kemana-mana, dikarenakan satu anggota badan cenat-cenut, jadi kebawa cenat-cenut keseluruh badan. Tapi saya tetap berangkat walaupun hujan. Prioritas. :)

Seperti yang sudah diketahui kalau pelajar itu bayar angkotnya lebih “didiskon” daripada penumpang non pelajar. Makanya tadi walaupun udah penuh sama anak sekolah itu, kang angkotnya tetap aja berhenti kalau ada penumpang lain mau naik. Nah, ujung-ujungnya di anak sekolah ini “gelantungan” di pintu. Terjadi percakapan singkat kala itu :

Kang Angkot (KA) : “Eh, cah (bocah –red), bediri sono. Tuh ibu mau masuk (dengan nada menyuruh tapi gak galak), udah biarin keujanan, biar emak lu percaya lu pulang cepet karena kebanjiran.”

Anak Sekolah : “waduh jangan lah bang,ntar sakit saya. Kagak sekolah dah. Kagak jadi pinter ntar”

KA : “Ah yang pinter juga gak bias ngatasin banjir.”

Denger itu langsung jleb. Segitu gampangnya menilai cara mengatasi banjir hanya dari segi dia pintar atau enggak. Paradigma kayak gitu emang udah pasti kebentuk buat orang-orang kayak bapak angkot tadi, tapi yang perlu diketahui adalah banjir itu terjadi bukan karena orang pintar gak bisa ngatasin banjir tapi karena perilaku orang pintar dan orang yang gak pintar yang menyebabkan banjir itu terjadi. Seperti buang sampah sembarangan, kebiasaan kayak gitu bukan cuma kerjaan orang pinter aja, tapi orang gak pinter juga. Tapi yang namanya paradigma, susah buat diubah apalagi cuma dengan omongan, jadi buat orang-orang yang ngerasa pintar (baca : mahasiswa, orang yang berjas rapi dan sejenisnya), coba deh yuk atasi banjir. Karena zaman sekarang, orang dilihat dari apa yang ia lakukan, bukan lagi apa teori yang ia katakan. Lo punya cara ngatasin banjir? Sok atuh wujudin ide itu dan buat paradigma bapak angkot tadi berubah karena langkah konkret kalian itu. Assedap.

Singkat cerita sampailah saya di kampus, di fakultas biru tua kebanggaan #eaa, setelah tujuan ke kampus selesai saya pulang, di halte ketika menunggu bikun, ada seorang kakek penjual lepet (sejenis makanan dari ketan dicocol pake bumbu kelapa.

Spoiler for kue lepet :







Sebelum beli sempat kepikiran, kakek ini jualan makanan kayak gini kok di lingkungan kampus yang seperti kita tau kebanyakan mahasiswa lebih suka makanan jenis modern ketimbang makanan tradisional kayak gitu dan yang lebih hebat lagi, saat itu lagi hujan dan sepi (karena lagi masa libur semester), sementara itu udah sore hari tapi dagangan kakek itu masih banyak banget. Jualannya dipikul. Kenapa gak memilih jualan di kampung-kampung aja, yang notabene pasti lebih mudah menemukan orang yang akan membeli. Tapi tetap kagum, Subhanallah, giat sekali kakek mencari rezeki :’) Berkah ya kek… Saya membeli beberapa dan menghabiskannya di rumah bareng ibu. Pas makan kepikiran, sekarang kakeknya lagi dimana yaaaaa?

Setengah jam menunggu bikun tapi gak datang-datang. Beruntung ada bikun kelas ekstensi ekonomi yang lewat, terus ditawarin naik, mungkin karena nunggu bikunnya di halte ekonomi dikira anak ekonomi, Hehe..
Setelah itu naik angkot pulang menuju ke rumah, di pertigaan Juanda angkotnya berhenti karena lampu merah, lalu seorang laki-laki usia produktif, kayaknya sih baru 20an, dengan pakaian berkabung hehe, maksudnya serba hitam, udah bisa ngebayangin? Oke, saya deskripsiin sedikit, kaos hitam, jeans yang ketat sama betis, jaket tanpa lengan, lengkap dengan aksesoris, gelang, , topi, lubang anting yang kelewat panjang dan lebar serta rambut berwarna. Memanfaatkan moment lampu merah untuk menyumbangkan suaranya (baca : ngamen), dengan iringan tepukan tangan dirinya sendiri, ia menyanyikan sebuah lagu yang berisi umpatan dan cacian pada orang-orang berkemeja rapi. Menyalahkan mereka karena rakus dengan jabatan, dan tidak mengurusi orang-orang bawah. Dengan penekanan pada beberapa lirik, jadilah lagu itu seperti orasi yang dinadakan.

Selagi dia nyanyi saya resapi maknanya, terus jadi kepikiran percakapan singkat anak SMP dan kang angkot tadi serta kakek penjual lepet yang gigih itu.

Mengapa si pemuda ini bisanya cuma mengumpat? Andai saya, ia mau berusaha sedikit untuk belajar, pasti kehidupannya akan lain, mungkin 2045 nanti dialah yang memimpin RI ini, tidak mesti jadi presiden, bisa saja menjadi orang berkemeja rapi seperti orang yang dia umpat di lagunya tadi. Dan dengan kekuasaannya itu, ia bisa mengubah Indonesia jadi lebih baik, tidak berorientasi jabatan, tapi lebih ke menjalankan amanah. 

Mungkin juga dia bisa jadi orang pintar untuk mengatasi banjir seperti harapan kang angkot itu. Atau jika memang ia sudah tidak mau belajar, berwirausahalah, coba berdagang. hasilnya lebih barokah, insyaAllah. Masih muda masa kalah sama kakek penjual lepet tadi. Secara apapun usia 20an pasti lebih unggul dari usia seorang kakek. Perbedaannya cuma satu, dan itu sangat jauh. Hanya “mau” atau “tidak mau”. Karena seperti kata senior waktu ospek, “Jarak bisa dan gak bisa itu cuma sehasta, tapi jarak mau dan tidak mau itu kayak bumi dan langit.” 

Sepenggal cerita yang sebenarnya mau dishare di Facebook, tapi sepertinya terlalu panjang hehe, jadilah ini dibuat di blog saja. Selamat membaca, semoga mendapat sesuatu setelah berkunjung kesini, jangan lupa tinggalkan jejak. Boleh di kolom komentar atau mention ke @atika_widi.
Terimakasih.

Senin, 20 Januari 2014
Atika Widiastuti
Sedang membayangkan masa depan.

Senin, 23 Desember 2013

Bisa (Mungkin) Karena “Dipaksa”

Alhamdulillah masih diberi kesehatan hingga saat ini, hari ini adalah satu hari setelah hari ibu, 22 Desember. Tapi sedih, tahun ini gak bisa mempersembahkan apa-apa buat ibu :( . Bersyukur sampai saat ini ibu masih diberi kesehatan :’). Hari ini, tepat tujuh hari berpulangnya bibi, adik dari ibu saya. Beliau meninggal karena angin duduk. Jadi selama seminggu ini, ibu menginap di kediaman almarhumah untuk bantu-bantu disana. Jaga kesehatan ya ibu :’)

Menyambung ke judul... Alhamdulillah, sejak 14 Desember kemarin, saya mengikuti program #OneDayOneJuz. Program mengkhatamkan Al-Qur’an secara berjamaah. Menggunakan aplikasi Whatsapp yang banyak dimiliki orang saat ini. Saya bergabung dengan group #ODOJ akhwat 545. Satu grup WA isinya 30 orang, sesuai dengan jumlah juz di Al-Qur’an. Setiap hari kita membaca satu juz secara kontinu dan diharapkan selama sebulan (30 hari) kita bisa khatam satu kali. Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk pencetus ide briliant ini, memanfaatkan gadget untuk beribadah.

Pertama gabung ada rasa takut. Takut jika nanti gak istiqomah di tengah jalan. Tapi dengan niat yang kuat, akhirnya saya mendaftarkan diri juga. Lalu daftar, di approve setelah 2 hari waiting list.

Sebelum bergabung dengan #ODOJ, untuk membaca satu halaman Qur’an saja rasanya berat, sering saya lalai walaupun saya sudah memasang reminder untuk baca Qur’an dimana-mana :’( Niat ada, tapi entah kenapa sulit sekali untuk dijalankan.

Saya gabung tepat 2 hari sebelum UAS. Setiap sebelum memulai belajar saya usahakan untuk sudah khatam dan Alhamdulillah, belajarnya terasa lebih tenang, walaupun masih seperti biasa, tetap gak nyambung sama materinya, tapi hati rasanya gak panik, gak kayak biasanya, beneran. Mungkin ini karena Qur’an memang bisa menenangkan hati :’)

Hari ketiga setelah gabung, tepat saat UAS. Efeknya berasa banget! Dari seluruh soal essay kalk*lus yang ada, saya cuma ngerjain 2 soal. Beneran, ini gak boong. Tapi gak ada rasa panik sama sekali, yang saya fikirkan, saya sudah mengerjakannya dengan jujur, sesuai dengan kemampuan saya. Kalaupun nanti hasilnya jelek, ya berarti belajar saya kurang. Setelah selesai UAS, temen-temen membicarakan kembali jawaban soal-soal tadi, saya hanya berjalan lenggang keluar dan melupakan soal tersebut haha. Kami datang, kami UAS, kami lupakan wkwk.. enggak deng, tetep kepikiranlah sama nilai, namanya juga Maba. Masih belum terlalu ngerti.

Begitu juga UAS di hari selanjutnya, kasusnya sama. Saya baru menyadari, ya Alloh Al-Qur’an-Mu ini maha dahsyat, kenapa saya baru mendekatinya setelah 18 tahun umur saya ini :( ada rasa penyesalan dalam diri. Sedih.

Sekarang sudah 10 hari bergabung, tiap hari ada saja cerita pemotivasi di grup saya itu. Saya berkelompok dengan kebanyakan ibu-ibu, tapi semangat membaca qur’annya Subhanallah :’) malu sama diri sendiri. Mereka bilang, saya dan teman-teman yang masih muda harusnya bersyukur, di umur yang masih terbilang muda, ada media membaca qur’an yang mudah ditemukan seperti ini, tidak seperti zaman mereka yang teknologinya masih terbatas.

Dari mereka ada yang sudah memiliki anak, bahkan 4. Ada yang seorang guru, yang bercerita bahwa ia membaca qur’an sembari mengisi rapot anak muridnya, ada juga ibu muda yang anaknya lagi sakit, musti bolak balik rumah sakit tapi juz bagiannya tetap terbaca. Ada juga yang suaminya lagi sakit, selagi menemani suaminya, beliau membaca qur’an. Subhanallah wanita-wanita ini :’) Bersyukur dipertemukan dengan mereka, walau hanya kenal sebatas “tau nama”.

Mungkin di luar sana banyak yang bisa membaca qur’an, satu hari 1 juz lebih, mungkin banyak yang dalam sebulan bisa lebih dari sekali khatam, namun saya, sangat bersyukur bisa mengkhatamkan bacaan saya, walaupun satu hari hanya satu juz. Saya belum pernah mengambil juz lelangan (jika dalam waktu yang ditentukan bersama, ada anggota yang belum menyetor khatam juz bagiannya, maka juz nya akan dilelang, di khatamkan oleh anggota lain yang bersedia), namun sebisa mungkin saya menyelesaikan juz bagian saya dengan tertib.

Ada rasa tenang setelah juz bagian kita selesai dan rasa gak rela jika juz bagian kita dilelang. Awalnya memang karena ada rasa malu dengan anggota lain yang lebih sibuk tapi bisa mengkhatamkan bacaannya, bahkan mengambil lelangan. Awalnya memang seperti ada “penyengaja ikhlas”, ada rasa kita membaca qur’an hanya karena rasa malu dan hanya menjalankan kewajiban grup, “masa dia khatam, gue enggak? Malu dong??” tapi lama-kelamaan, membacanya seperti suatu kebutuhan. Seperti ada yang kurang lengkap kalau gak dilakukan.

Sesuai dengan pepatah, “Alah bisa karena biasa” dan mungkin “dipaksa” adalah salah satu cara untuk membuat diri menjadi “biasa”? hehe.. bisa jadi bisa jadi :p

Sekian cerita kali ini, Mari Semangat berkebaikan ^^9


Senin, 23 Desember 2013
Atika Widiastuti
sedang me-manage hati :p

Selasa, 10 Desember 2013

Cerita Hati

Setiap menyebut satu nama dalam hati.
Tiba tiba terasa aneh di dada. Deg.
Apakah ini? Baru pernah terasakan.
Seketika senyum terukir di bibir
dan fikiran membayangkan kejadian-kejadian manis.

Oh Tuhan... Mungkinkah?
Netralkanlah rasa ini...
Padamkan gejolaknya...
Tumbuhkanlah rasa yang dulu...
Rasa yang biasa saja ketika namanya disebut..


Teruntuk kamu,
yang namanya tidak ingin aku sebutkan

Sabtu, 07 Desember 2013

Minggu-minggu Sendu #1



Entahlah, dari judul aja ketara galau banget ya hehe.. semoga isinya gak galau.^^ Jadi ini adalah minggu pertama di bulan Desember. Yap! Bulan terakhir di 2013 dan bulan depan kita memasuki tahun baru, 2014.


Flashback dikit, bulan Desember tahun lalu ituuu, gue lagi sibuk-sibuknya sama yang namanya tryout-tryout menjelang UN dan ujian masuk PTN. Hari-hari waktu itu terasa mumeeeett banget, udah gak sanggup._.v hehe. Tiap hari ketemu sin, cos, tan, gametosis, meiosis, metana, etilena, hukum inilah hukum itulah dll. Gak kerasa, udah hampir satu tahun terlewati dan gue masih sehat wal afiat, hehe :’) Alhamdulillah..


Karena kejadian-kejadian itu, gue jadi nyimpulin : “Ketika kita bisa melewati masalah yang menurut kita besar, berarti sebenarnya masalah itu kecil. Begitupun masalah-masalah besar yang akan datang nantinya.” 


Jadi kenapa minggu-minggu sendu? Entahlah.. ini sendu gara-gara apa. Mau cerita sedikit tentang seseorang #eaaa

Jadi, beliau bernama Kak Kina Hayifos (bacanya didepan cermin ya :p). Dia itu salahsatu senior di Rumah Iqro. Gaktau gimana detailnya, pokoknya sama kakak yang satu ini ngerasa deket banget :’) Malah jadi kayak kakak kandung gitu hehe, mungkin ini yang dinamain ukhuwah, persaudaraan dalam Islam. 


Kakak Kina adalah orang pertama yang gue jadiin tempat curhat, cerita apapun, bahkan cuma sekedar cerita kalo lagi deg-degan sama seseorang hehe. Selalu dinasihatin, coba aja cek inbox hp gue, banyak quotes-quotes dari beliau hehe, satu yang paling teringat “pantaskah ia untuk dikagumi? Jika iya, cintai ia dalam diam. :’)” Emang quotes2 tentang hati pasti jadi yg paling gampang diinget, maklumlah cewek :P


Ka Kina ini tuh...........gimana ya hehe, orangnya supel. Gampang bergaul sama siapa aja, tapi tetep memperhatikan batas-batasan yang seharusnya. Beliau juga loyal, sering jajanin kalo misalnya lagi anterin beliau ke suatu tempat hehe, sering anterin ke UI kalo kang angkot kesayangan enggak lewat-lewat.Tapi kadang, kalo udah badmood, waaaaaaaaaaaaahhh hahha..

hmmm, pokoknya.....she’s the best older sister I ever have. Mungkin karena emang gue jg gak  punya kakak, jadi kehadiran beliau itu bisa dengan pas menempati posisi itu #eaaa


Singkat cerita, umur beliau sudah memungkinkan dirinya untuk segera menikah, maka jadilah beliau menikah, dengan salahsatu kakak, dari rumah iqro juga, sebut saja WW. Kak WW ini salahsatu kakak yang Subhanallah deh, umurnya masih muda, belom 30 tahun, kalo gak salah 26an lah, tapi sekarang lagi ngambil S3, gak tanggung2 men, di Arab! Ckck hebaatttt hebatttt


Kisah mereka sebenernya udah lama diprediksi orang-orang #eaa termasuk gue. Jadi pas dapet kabar kalo kakak-kakak hebat ini menikah, senangnya bukan main :’) Pernikahannya unik, akad nikahnya ba’da Ashar pas bulan puasa. Jadi sajian untuk tamu yang hadir adalah menu untuk berbuka puasa. Pahalanya dobel itu, menikah + memberi makan orang berpuasa haha.


Entah siapa yang beruntung, kak Kina yang mendapatkan ka WW, atau sebaliknya? Atau keduanya adalah orang yang beruntung? Wkwk, yang jelas, kalo nanti gue yang udah harus mengakhiri masa lajang ini #caelaaaah, maunya kayak mereka berdua gitu :P


Nah nah, back to the topic, kenapa sendu wkwk (Udah nulis sejauh ini, sendunya ilang kayaknya, abis daritadi “wkwk” mulu haha). Karena sekarang sang suami menetap di Arab untuk S3nya, maka sebagai seorang istri, kak Kina harus menemani beliau. Yap! Ini mungkin yang bikin sendu, dia bakal ninggalin gue :’))  Gak ada hak sih buat sedih, kan istri memang harus begitu. Yang pacaran LDRan aja kangen,apalagi yang udah nikah LDRan? :P


Iya bener, gak ada hak buat sedih. Tapi ada rasa gak-rela-di-tinggal-untuk-waktu-yang-belum-kita-tahu-berapa-lama. Memang, beliau bilang kalo lebaran pulang. Tapi moment lebaran kan Cuma beberapa hari, sedangkan banyak kerabat yang perlu dikunjungi. Gak mungkin kesemua harinya beliau disini dihabisin buat gue, siapa gue? Wkwk


Beliau berangkat tanggal 16 Desember nanti, kalo dihitung dari hari ini, berarti H-9 hari lagi ke moment keberangkatan itu :’) Dan satu pesan beliau, dia gakmau dianterin ke bandara wkwk.. Mungkin takut yang anter pada nangis kali yaa hehe


Alhamdulillah, sekarang teknologi makin maju, banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun jarak jauh, semisal WA, Line, FB, Twitter, Skype dll. Jadi tetap bisa berkomunikasi walaupun gak bertatap muka :’).
Soooooo.....Selamat menempati lingkungan baru kak, semoga betah disana. Jangan lupain orang-orang yang sayang sama kakak disini. Segera kembali dengan membawa baby2 yang lucu-lucu hehe. Sukses juga buat kak WW nya... Daaan segera buka cabang Rumah Iqro di Arab sana :’)


Sabtu, 07 Desember 2013
Atika Widiastuti
Sedang survive menjelang UAS :P

Minggu, 20 Oktober 2013

Ibu, kisah dan kasihnya

BLOG Writing Competition NUB
“Kalo kamu punya mimpi, ya kejar sampai dapat. Jangan karena masalah sepele, lalu hilang semangatnya untuk mengejar mimpi itu.”

Begitulah nasihat super Ibu yang selalu saya ingat sampai saat ini. Kata-kata itulah yang menjadi penyemangat saya ketika saya sedang down dan merasa lelah dalam menjalani rutinitas.

Sebelum memulai cerita tentang sosok inspiratif di atas, izinkanlah saya untuk memperkenalkan diri saya. Nama saya Atika Widiastuti, teman-teman biasa memanggil saya Tika. Umur saya saat ini 18 tahun. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, saya mempunyai seorang adik perempuan yang sekarang sedang menikmati masa-masa adaptasi di lingkungan barunya, SMP.

Sejak kecil, ibu selalu memberikan nutrisi yang baik kepada saya, mulai dari pemberian ASI eksklusif sampai usia 2 tahun, memberikan susu formula dan berbagai macam vitamin untuk pertumbuhan saya. Saya berasal dari keluarga yang sederhana, tapi Alhamdulillah selalu merasa cukup. Sampai saat itu di tahun 1998, terjadi krisis moneter di Indonesia. Saya juga merasakan dampaknya, terbiasa dengan minum susu formula, lalu digantikan dengan teh, vitamin-vitamin yang biasa diberikan pun terhenti.

Ketika berusia 5 tahun, sayapun didaftarkan ke sebuah TK oleh ibu. Masuk TK saat itu merupakan hal yang jarang dilakukan orangtua, karena TK belum dianggap penting waktu itu. Anggapan waktu itu yang penting adalah anak mereka masuk SD sudah bisa membaca dan menulis dan hal itu bisa diajarkan di rumah. Namun ibu berbeda, ibu mengganggap masuk TK merupakan suatu proses yang juga dibutuhkan dalam proses perkembangan saya, karena selain belajar membaca dan menulis, di TK juga diajarkan bagaimana bersosialisasi dengan orang banyak sehingga ketika masuk SD, kita “tidak kaget” dengan lingkungan baru di sana.

Setahun kemudian saya masuk SD. Perjuangan ibu gigih sekali waktu itu, karena saya adalah anak pertama jadi ibu belum punya pengalaman dalam mendaftarkan anaknya ke sekolah. Dengan semangat ibu mencari informasi di sana-sini, bolak balik ke berbagai sekolah dan akhirnya saya diterima di sebuah SD. SD biasa yang bukan unggulan, namun disitu saya bisa mengembangkan potensi yang saya miliki. Alhamdulillah, sejak kelas 1 sampai kelas 6 rangking saya stabil di 3 besar, bahkan pernah dipercaya  untuk mewakili sekolah dalam bidang Olimpiade Sains tingkat Jakarta, saya adalah salah satu perwakilan dari Jakarta Selatan kala itu. Kembali ibu yang menjadi penyemangat, beliau rela duduk disamping saya hanya untuk menemani saya belajar. Ibu bukan sosok yang diberi kesempatan untuk bisa bersekolah tinggi, beliau hanya tamat SD, oleh karena itu, beliau menaruh harapan besar kepada anak-anaknya, termasuk saya. Satu pesan beliau yang selalu saya ingat, “walaupun ibunya cuma lulusan SD, tapi anaknya harus bisa sekolah tinggi dong.”

Lulus dari SD, saya masuk ke SMP yang bisa dibilang favorit di daerah saya. SMPN 131 Jakarta. Kembali ibu yang mencari-cari informasi tentang kapan pendaftaran, bagaimana mekanismenya dan lain-lain karena saat itu, informasi diberikan tidak semudah sekarang, internet belum begitu familiar, sehingga informasi hanya diberikan di SMP tersebut. Akhirnya saya masuk di sana, 3 tahun mengenyam pendidikan di bangku SMP, Alhamdulillah prestasi akademik stabil. Lulus dari sana dengan nilai UN yang memuaskan. Hasil sendiri dan bisa dibanggakan.

Saya masuk di sebuah SMA Negeri yang memiliki input dan output yang bagus, sekolahnya minimalis tapi selalu menghasilkan prestasi-prestasi yang besar. SMAN 49 Jakarta namanya. Kala itu, pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun, artinya Pemerintah hanya mensubsidi siswa hanya sampai 9 tahun (6 tahun SD, 3 tahun SMP) sehingga saat SMA, biaya sekolah tidak digratiskan. Banyak desas-desus yang ditujukan pada ibu, ada yang bilang SMA Negeri itu mahal, banyak pengeluaran dadakan dan lain-lain, tapi satu pesan ibu kala itu, “tugas anak itu belajar aja gak usah mikirin biaya, itu urusan orangtua.”
Aku-Ibu-Adik
Foto Aku, Ibu dan adik saat lebaran tahun ini


 
 
Alhamdulillah, berkat perjuangan ibu, uang pangkal sekolah sebesar 5 juta rupiah untuk saya kala itu digratiskan. Rezeki dari Alloh memang gak bisa diduga kapan datangnya, waktu itu ada seorang guru yang sampai saat ini saya tidak mengetahui siapa beliau, mau menjadi orangtua asuh saya, beliau membayarkan iuran bulanan saya tiap bulannya. Terimakasih bu/pak, semoga Alloh menghitung kebaikan ibu/bapak sebagai pahala. Aamiin.

Prestasi saya saat SMA bisa dibilang tidak bisa ditebak, saat itu saya sempat mengalami masa kegoncangan, hal itu dikarenakan ada konflik antara ibu dan bapak. Peringkat kelas dari yang semula peringkat 3 turun drastis sampai ke tingkat 18. Saya tidak menyalahkan ibu dan bapak karena masalah ini, karena sebesar apapun masalah yang dihadapi sebenarnya balik ke diri kita sendiri, bisa atau tidak menghadapi masalah tersebut.

Di semester 5, saya mendapat sesuatu yang saya sendiri juga masih merasa terkejut, bahkan sampai sekarang. Saat itu, dari peringkat 18 di kelas pada semester sebelumnya, saya diumumkan menjadi peringkat 1 paralel, juara umum kelas IPA pada semester itu. Subhanallah, tidak henti-hentinya saya mengucap syukur saat itu. Ketika hari pertama masuk sekolah, ibu diundang datang dan mengikuti upacara, beliau berdiri di barisan orangtua yang anaknya mendapat juara umum. Subhanallah, bahagia rasanya, menyaksikan dengan jelas satu mimpi saya terwujud, yakni menyaksikan ibu berada di barisan orangtua murid berprestasi, ibu menangis terharu saat itu, ia memeluk saya, menciumi saya. Kado terindah yang pernah saya terima, pelukan dan ucapan selamat dari ibu.
Ibu dan saya :)


Tibalah detik-detik menjelang UN, Alhamdulillah dukungan ibu pada saat itu luar biasa. Saya terbiasa belajar pada dini hari, sekitar jam 3 sampai 5 pagi. Namun satu kebiasaan jelek saya, saya susah untuk bangun ketika sudah lelap tidur, saat itu Ibu selalu menjadi “alarm”, beliau selalu bangun hanya untuk membangunkan saya dan memastikan bahwa saya belajar.

Setelah pengumuman UN, tibalah saatnya pengumuman SNMPTN Undangan. Sebelumnya saya sempat ragu untuk melanjutkan kuliah atau tidak, mengingat biayanya yang sangat besar. Tapi Alhamdulillah, guru BK di sekolah memberitahu bahwa ada beasiswa dari pemerintah yang bisa digunakan, namanya bidikmisi. Langsung saya menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan mengikuti serangkaian proses serta wawancara yang diadakan.

Atas izin Alloh, tahun ini saya masih diberi kesempatan untuk kembali menikmati ilmu pengetahun di tingkat yang lebih tinggi. Alhamdulillah, saat ini saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas ternama di Indonesia, menjadi mahasiswa baru program studi Teknik Lingkungan di Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN Undangan itu dan yang juga saya syukuri saat ini adalah seluruh biaya kuliah saya dibiayai oleh beasiswa.

Sekarang, ibu dan bapak sudah resmi berpisah. Saya dan adik ikut tinggal dengan ibu. Kesehariannya, untuk menghidupi kami, ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah salah satu tetangga. Dengan adanya beasiswa kuliah, maka beban ibu bisa berkurang.

Cita-cita saya ke depan masih panjang, saya tulis semua di dalam buku mimpi saya. Saya masih ingin belajar di tingkat yang lebih tinggi lagi, belajar di daerah yang kulturnya berbeda, saya ingin melanjutkan S2 di Jepang. Lalu kembali ke Indonesia dan menerapkan ilmu yang saya miliki untuk memajukan Indonesia dan membuka lapangan pekerjaan khususnya di bidang lingkungan. Saya juga ingin mempersembahkan seekor domba untuknya serta memberangkatkan ibu pergi haji. Mudah-mudahan Alloh memudahkan.

Bagiku ibu adalah sosok luar biasa, menjadi penyejuk di kala hatiku gundah, menjadi penyemangat dikala diriku lemah, menjadi sahabat dikala aku sendiri, menjadi sosok yang keberadaannya selalu kurindukan. Bagiku, ibu adalah segalanya.

Tulisan ini saya ikutsertakan dalam  #LombaBlogNUB  Semoga menginspirasi bagi yang membaca :)

Senin, 23 September 2013

Maba Story : Tafakur Alam

Assalamu'alaykum^^


Kemarin, tepat tanggal 21 September 2013. Agenda Maba (Mahasiswa Baru) di Fak. Teknik, khususnya Sipil adalah tafakur alam, ke Curug Nangka, Bogor. Udah pada tau kan artinya tafakur alam?? Hehe, jadi tafakur alam itu adalah kita “pergi” ke alam, belajar di sana. Belajar bersyukur dan juga belajar biar tambah mengenal sang Pencipta, Alloh SWT. Karena kami dari Departemen Teknik Sipil (di UI, Jurusan Teknik Lingkungan masuk bagian Departemen Teknik Sipil), maka kami juga diajarkan agar pembangunan yang akan kami lakukan nanti tidak merusak alam yang udah diciptakan Alloh seindah ini.

Pertama kami berkumpul di KanTek (Kantin Teknik) pukul 06.30 WIB dengan mengunakan pakaian siap kotor (atau bisa dibilang, siap basah lebih tepatnya). Dan seperti yang diperkirakan, banyak yang pake kaos biru masa OKKF haha, jadi seragaman.

Kita dibagi kedalam 6 kelompok, 2 kelompok Ikhwan ; kelompok Muhammad dan kelompok Ibrahim serta 4 kelompok Akhwat ; kelompok Khadijah, Aisyah, Fatimah dan Azzahra.
Saya masuk ke dalam kelompok Fatimah, ada Saya, Marsha, Sari, Dwita, Muthiah, Salsa, Neony, April, Icha, Arina, Ayuningtyas, Nakar dan Regia.

Pertama-tama, kami disuruh membuat yel-yel dan jargon kelompok, gue keluarin semua ingatan tentang yel-yel dan lagu anak-anak TPA (maklum, guru ngaji :p) dan dapetlah satu lagu, Alif Kecil :D, Cuma liriknya kita ganti pake kata “grup fatimah” hehe..
“Grup Fatimah imut-imut, sama setan tidak takut. Sama Alloh baru takut, sama Rasul juga ikut. Grup Fatimah paling yahuud. Goood” :D hehe

Setelah membuat yel-yel, kami diarahkan ke tempat bus (baca : kopaja), ada 3 buah kopaja disana. Saya duduk sama Wita. Perjalanan kami memakan waktu 2,5jam.
Sampai disana, pertama kali yang saya lakukan adalah menghirup nafas sedalam-dalamnya dan bersyukur dalam hati. Ya Alloh, udara disini masih sejuuuuuuuk sekali. Beda sekali dengan keadaan ditempat kami.

Lalu kami menampilkan yel-yel kami dan Alhamdulillah, grup Fatimah menang yel-yel. Yeaaay :D Setelah itu, Ada mentoring sebentar, PJ kelompok kita itu Kak Nartri, kakak yang juga jadi kakak mentor DTS kelompok saya.

Setelah itu, kita salat Zuhur berjamaah dan makan siang. Menu makan siangnya nasi, ayam dan capcay. Cuma asiknya, kita makannya berjejer pake kertas nasi. Nikmat banget deh pokoknya, gak berasa. Tau-tau makanannya udah abis aja :P

Lalu kami dibariskan lagi dalam kelompok dan mulai diberi pengarahan tentang games-games di tiap pos. Masing-masing kelompok diberi satu pak korek api berisi 20 batang korek yang diibaratkan sebagai amanah. Kita harus menjaga korek itu agar sampai akhir acara, masih tetap utuh dan bisa digunakan sebagai korek.
Kelompok Fatimah melawan Kelompok Aisyah, jadi sepanjang perjalanan pos-pos, kelompok kami selalu diadu.

Pos 1 : Memasukkan ranting pohon ke dalam botol yang ada di air menggunakan tali rafia yang diikatkan dipinggang (kebayang gak?) Lokasinya ada di atas, kita perlu naik banyak anak tangga untuk sampai ditempat itu. Games terdiri dari 7 orang perwakilan kelompok. Sisanya menjadi pengganggu kelompok lawan. Di pos ini, kami seri karena ranting kelompok Aisyah patah. Kakak panitia memberikan jebakan ke kami, “ada yang mau titip korek? Nanti basah looh.” Dan kelompok Aisyah menitipkan korek tersebut, setelah games berakhir. Beberapa batang korek dikelompok Aisyah dipatahkan. Kenapa? Karena korek itu diibaratkan sebagai amanah, dan amanah tidak boleh dititipkan. Itu esensinya. Esensi lainnya adalah, fokus. Seperti saat sedang solat, kita ibaratkan gangguan-gangguan dari kelompok lawan itu sebagai setan, maka apapun gangguannya, kita harus tetap bisa fokus menjalankan solat.

Pos 2 : Battle daun. Lokasinya dilahan miring gitu. Serem deh pokoknya hehe.. Gamesnya terdiri dari 5 orang yang diarahkan membuat lingkaran dengan tangan saling berkaitan satu sama lain. Tiap kelompok diamanahkan satu buah daun, bagaimana caranya kita bisa merebut daun dari kelompok lawan tapi daun dari kelompok sendiri tidak tersebut / tidak rusak / tetap utuh. Main dorong-dorongan karena saling mempertahankan daun masing-masing. Ngeri bangeeet! Di tempat miring gitu, mainnya dorong-dorongan. Sampai waktu habis, tidak ada yang daunnya rusak / tersebut kelompok lain. Maka kami seri lagi :D
Esensi dari games ini adalah : bentuk lingkaran menggambarkan didalam organisasi gak boleh buat cabang lagi selain lingkaran itu. Kalau daun robek, bukan berarti dia gagal. Kita juga harus liat kerja yang lain. Dan juga harus solid.



Pos 3 : Guess what. Lokasinya persis dibawah air terjun! Bisa dibayangin kecepatan aliran airnya? Suara gemuruh airnya saat bertabrakan dengan batu-batu? Serta hujaman air yang tajam yang langsung mengarah ke kita? Ahaha mungkin pendeskripsiaannya lebay, tapi disitulah letak keasyikannya. Seumur-umur, baru pernah ke air terjun :P Dan Subhanallaaaaah, indah bangeeet :’)
Di pos ini, kita diberikan 3 buah kata yang akan ditebak oleh 3 orang dari masing-masing kelompok yang berdiri di bawah air terjun. Di games ini, yang diperlukan itu konsentrasi yang tinggi dan ketepatan memberi instruksi. Karena situasi disana yang berisik dengan suara air terjun, maka teriakan diperlukan di games ini, dan hasilnya. Kelompok kami menang lagi. Beberapa batang korek dari kelompok Aisyah kembali dipatahkan.

Pos 4 : meniup balon yang diisi air, bagaimana caranya agar balon yang diisi air tersebut tenggelam dan tidak mengapung. Tiap tim diwakili oleh 3 orang. Sampai waktu habis, tidak ada satupun balon berisi air yang berhasil kami buat. Kami meniup balon (memasukan udara ke dalam balon), lalu kami masukan ke air dan kami isi balon tersebut dengan air. Udara dari dalam menolak air yang masuk. Jadi gak bisa penuh-penuh balon kami. Di akhir permainan, kakaknya memberi tahu strategi permainannya, dan ini yang menurut saya paling menarik. Kakaknya bertanya pada kami, “Ini sebenernya berhubungan sama fakultas kita. Yap! Teknik. Tau gak artinya teknik?” diam gak ada yang jawab, “Teknik artinya rekayasa.” Lalu kakaknya mencontohkan gimana cara mengisi balon dengan cepat dan tenggelam di dalam air. Kepo yaaaa caranya gimana? :p

Pos 5 : Pos keberanian. Di sini, kami ditantang untuk terjun bebas dari ketinggian kurang lebih 3 meter. Satu persatu mencoba termasuk saya, walaupun saya dengan menggunakan pelampung karena gak bisa renang hehe.. Dan dari semua pos yang ada, pos ini yang paling berkesan! Pertama kali melompat dari ketinggian, lalu terjun ke dalam air. Keren keren keren..

Setelah itu kami membersihkan diri, solat Ashar dan bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, kami dikumpulkan kembali dan diberi bekal kembali apa tafakur alam itu sebenarnya.

Ending acaranya kurang greget, rada gantung, karena cuaca saat itu tiba-tiba hujan. Gak ada pihak yang bisa disalahin. Jadi gak jelas, siapa pemenangnya dan korek amanah kelompok siapa yang masih full dan bisa digunakan.
Kami pulang dari sana jam 17.00 sore dalam keadaan hujan lebat. Dan sampai kembali di Teknik jam 19.30 WIB.

Pengalaman hari itu sangat berkesan. Walaupun cuma sehari, tapi saya bisa merasakan esensi dari tafakur alam ini. Dalam hati saya bilang, “kapan-kapan harus ketempat ini lagi!”

Sekian Maba Story kali ini. Terimakasih sudah membaca, harap tinggalkan jejak dan Wassalamu’alaykum^^