Kamis, 06 Maret 2014

(Bukan) Janji Pelaut



Assalamu'alaikum.. kembali bertemu lagi dengan Atika hehe..
Jadi,kenapa ada post-an berjudul aneh ini hehe.. jadi, ceritanya beberapa hari belakangan ini gw lagi seneng banget Blogwalking, (jalan-jalan di blog) bukan jalan dalam arti sebenarnya. Tapi semacam stalkerin blog-blog orang, selesai baca di satu blog, pindah ke blog yang lain, dan itu....membawa keseruan sendiri loh.

Dari situ, gw jadi tau karakter si pemilik blog itu, pantes aja ada temen yang bilang kalau dia bisa jatuh cinta pada seseorang karena membaca tulisannya. Dahsyat bgt efeknya ya ckck..

Entah kenapa janji pelaut, kemarin habis nonton kartun spongebob trus ada episode Janji pelaut gitu, yang segala gelas di taro di kepala, terus ngucapin janji-janjinya itu. Mungkin kenapa pelaut, karena pelaut selalu membawa jangkar di kapalnya, dan jangkar itu kuat. jadi janji pelaut adalah janji yang kuat. #eeaa *nyambung-nyambungin aja sih.

jadi, setelah blogwalking itu, gw jadi belajar kalo lo mau nulis, yaa nulis aja. gak perlu pake mikir gimana pandangan orang yang bakal baca blog lo terhadap lo. gak mungkin juga lo dianggap hina karena tulisan lo. hehe.. Malah justru karena tulisan lo itu, orang jadi tau kepribadian asli lo.

Dan mulai sekarang, saya berjanji untuk rajin menulis disini. Menulis apapun asal dirutinkan. Saya janji dan tentunya (bukan) janji seorang pelaut. hehe x.x


Kamis, 6 Maret 2013
Atika Widiastuti

Selasa, 21 Januari 2014

Sepenggal Cerita Hari Ini



Dalam sekali perjalanan ke kampus, banyak cerita hari ini, entahlah seperti berhubungan. Ketika sedang di angkot menuju kampus, pas betul satu angkot dengan beberapa anak SMP 13 Depok yang sengaja dipulangkan lebih awal karena sekolahnya banjir. Maklum, memang sekarang lagi musim hujan. Sebenarnya pun hari ini mager kemana-mana, dikarenakan satu anggota badan cenat-cenut, jadi kebawa cenat-cenut keseluruh badan. Tapi saya tetap berangkat walaupun hujan. Prioritas. :)

Seperti yang sudah diketahui kalau pelajar itu bayar angkotnya lebih “didiskon” daripada penumpang non pelajar. Makanya tadi walaupun udah penuh sama anak sekolah itu, kang angkotnya tetap aja berhenti kalau ada penumpang lain mau naik. Nah, ujung-ujungnya di anak sekolah ini “gelantungan” di pintu. Terjadi percakapan singkat kala itu :

Kang Angkot (KA) : “Eh, cah (bocah –red), bediri sono. Tuh ibu mau masuk (dengan nada menyuruh tapi gak galak), udah biarin keujanan, biar emak lu percaya lu pulang cepet karena kebanjiran.”

Anak Sekolah : “waduh jangan lah bang,ntar sakit saya. Kagak sekolah dah. Kagak jadi pinter ntar”

KA : “Ah yang pinter juga gak bias ngatasin banjir.”

Denger itu langsung jleb. Segitu gampangnya menilai cara mengatasi banjir hanya dari segi dia pintar atau enggak. Paradigma kayak gitu emang udah pasti kebentuk buat orang-orang kayak bapak angkot tadi, tapi yang perlu diketahui adalah banjir itu terjadi bukan karena orang pintar gak bisa ngatasin banjir tapi karena perilaku orang pintar dan orang yang gak pintar yang menyebabkan banjir itu terjadi. Seperti buang sampah sembarangan, kebiasaan kayak gitu bukan cuma kerjaan orang pinter aja, tapi orang gak pinter juga. Tapi yang namanya paradigma, susah buat diubah apalagi cuma dengan omongan, jadi buat orang-orang yang ngerasa pintar (baca : mahasiswa, orang yang berjas rapi dan sejenisnya), coba deh yuk atasi banjir. Karena zaman sekarang, orang dilihat dari apa yang ia lakukan, bukan lagi apa teori yang ia katakan. Lo punya cara ngatasin banjir? Sok atuh wujudin ide itu dan buat paradigma bapak angkot tadi berubah karena langkah konkret kalian itu. Assedap.

Singkat cerita sampailah saya di kampus, di fakultas biru tua kebanggaan #eaa, setelah tujuan ke kampus selesai saya pulang, di halte ketika menunggu bikun, ada seorang kakek penjual lepet (sejenis makanan dari ketan dicocol pake bumbu kelapa.

Spoiler for kue lepet :







Sebelum beli sempat kepikiran, kakek ini jualan makanan kayak gini kok di lingkungan kampus yang seperti kita tau kebanyakan mahasiswa lebih suka makanan jenis modern ketimbang makanan tradisional kayak gitu dan yang lebih hebat lagi, saat itu lagi hujan dan sepi (karena lagi masa libur semester), sementara itu udah sore hari tapi dagangan kakek itu masih banyak banget. Jualannya dipikul. Kenapa gak memilih jualan di kampung-kampung aja, yang notabene pasti lebih mudah menemukan orang yang akan membeli. Tapi tetap kagum, Subhanallah, giat sekali kakek mencari rezeki :’) Berkah ya kek… Saya membeli beberapa dan menghabiskannya di rumah bareng ibu. Pas makan kepikiran, sekarang kakeknya lagi dimana yaaaaa?

Setengah jam menunggu bikun tapi gak datang-datang. Beruntung ada bikun kelas ekstensi ekonomi yang lewat, terus ditawarin naik, mungkin karena nunggu bikunnya di halte ekonomi dikira anak ekonomi, Hehe..
Setelah itu naik angkot pulang menuju ke rumah, di pertigaan Juanda angkotnya berhenti karena lampu merah, lalu seorang laki-laki usia produktif, kayaknya sih baru 20an, dengan pakaian berkabung hehe, maksudnya serba hitam, udah bisa ngebayangin? Oke, saya deskripsiin sedikit, kaos hitam, jeans yang ketat sama betis, jaket tanpa lengan, lengkap dengan aksesoris, gelang, , topi, lubang anting yang kelewat panjang dan lebar serta rambut berwarna. Memanfaatkan moment lampu merah untuk menyumbangkan suaranya (baca : ngamen), dengan iringan tepukan tangan dirinya sendiri, ia menyanyikan sebuah lagu yang berisi umpatan dan cacian pada orang-orang berkemeja rapi. Menyalahkan mereka karena rakus dengan jabatan, dan tidak mengurusi orang-orang bawah. Dengan penekanan pada beberapa lirik, jadilah lagu itu seperti orasi yang dinadakan.

Selagi dia nyanyi saya resapi maknanya, terus jadi kepikiran percakapan singkat anak SMP dan kang angkot tadi serta kakek penjual lepet yang gigih itu.

Mengapa si pemuda ini bisanya cuma mengumpat? Andai saya, ia mau berusaha sedikit untuk belajar, pasti kehidupannya akan lain, mungkin 2045 nanti dialah yang memimpin RI ini, tidak mesti jadi presiden, bisa saja menjadi orang berkemeja rapi seperti orang yang dia umpat di lagunya tadi. Dan dengan kekuasaannya itu, ia bisa mengubah Indonesia jadi lebih baik, tidak berorientasi jabatan, tapi lebih ke menjalankan amanah. 

Mungkin juga dia bisa jadi orang pintar untuk mengatasi banjir seperti harapan kang angkot itu. Atau jika memang ia sudah tidak mau belajar, berwirausahalah, coba berdagang. hasilnya lebih barokah, insyaAllah. Masih muda masa kalah sama kakek penjual lepet tadi. Secara apapun usia 20an pasti lebih unggul dari usia seorang kakek. Perbedaannya cuma satu, dan itu sangat jauh. Hanya “mau” atau “tidak mau”. Karena seperti kata senior waktu ospek, “Jarak bisa dan gak bisa itu cuma sehasta, tapi jarak mau dan tidak mau itu kayak bumi dan langit.” 

Sepenggal cerita yang sebenarnya mau dishare di Facebook, tapi sepertinya terlalu panjang hehe, jadilah ini dibuat di blog saja. Selamat membaca, semoga mendapat sesuatu setelah berkunjung kesini, jangan lupa tinggalkan jejak. Boleh di kolom komentar atau mention ke @atika_widi.
Terimakasih.

Senin, 20 Januari 2014
Atika Widiastuti
Sedang membayangkan masa depan.

Senin, 23 Desember 2013

Bisa (Mungkin) Karena “Dipaksa”

Alhamdulillah masih diberi kesehatan hingga saat ini, hari ini adalah satu hari setelah hari ibu, 22 Desember. Tapi sedih, tahun ini gak bisa mempersembahkan apa-apa buat ibu :( . Bersyukur sampai saat ini ibu masih diberi kesehatan :’). Hari ini, tepat tujuh hari berpulangnya bibi, adik dari ibu saya. Beliau meninggal karena angin duduk. Jadi selama seminggu ini, ibu menginap di kediaman almarhumah untuk bantu-bantu disana. Jaga kesehatan ya ibu :’)

Menyambung ke judul... Alhamdulillah, sejak 14 Desember kemarin, saya mengikuti program #OneDayOneJuz. Program mengkhatamkan Al-Qur’an secara berjamaah. Menggunakan aplikasi Whatsapp yang banyak dimiliki orang saat ini. Saya bergabung dengan group #ODOJ akhwat 545. Satu grup WA isinya 30 orang, sesuai dengan jumlah juz di Al-Qur’an. Setiap hari kita membaca satu juz secara kontinu dan diharapkan selama sebulan (30 hari) kita bisa khatam satu kali. Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk pencetus ide briliant ini, memanfaatkan gadget untuk beribadah.

Pertama gabung ada rasa takut. Takut jika nanti gak istiqomah di tengah jalan. Tapi dengan niat yang kuat, akhirnya saya mendaftarkan diri juga. Lalu daftar, di approve setelah 2 hari waiting list.

Sebelum bergabung dengan #ODOJ, untuk membaca satu halaman Qur’an saja rasanya berat, sering saya lalai walaupun saya sudah memasang reminder untuk baca Qur’an dimana-mana :’( Niat ada, tapi entah kenapa sulit sekali untuk dijalankan.

Saya gabung tepat 2 hari sebelum UAS. Setiap sebelum memulai belajar saya usahakan untuk sudah khatam dan Alhamdulillah, belajarnya terasa lebih tenang, walaupun masih seperti biasa, tetap gak nyambung sama materinya, tapi hati rasanya gak panik, gak kayak biasanya, beneran. Mungkin ini karena Qur’an memang bisa menenangkan hati :’)

Hari ketiga setelah gabung, tepat saat UAS. Efeknya berasa banget! Dari seluruh soal essay kalk*lus yang ada, saya cuma ngerjain 2 soal. Beneran, ini gak boong. Tapi gak ada rasa panik sama sekali, yang saya fikirkan, saya sudah mengerjakannya dengan jujur, sesuai dengan kemampuan saya. Kalaupun nanti hasilnya jelek, ya berarti belajar saya kurang. Setelah selesai UAS, temen-temen membicarakan kembali jawaban soal-soal tadi, saya hanya berjalan lenggang keluar dan melupakan soal tersebut haha. Kami datang, kami UAS, kami lupakan wkwk.. enggak deng, tetep kepikiranlah sama nilai, namanya juga Maba. Masih belum terlalu ngerti.

Begitu juga UAS di hari selanjutnya, kasusnya sama. Saya baru menyadari, ya Alloh Al-Qur’an-Mu ini maha dahsyat, kenapa saya baru mendekatinya setelah 18 tahun umur saya ini :( ada rasa penyesalan dalam diri. Sedih.

Sekarang sudah 10 hari bergabung, tiap hari ada saja cerita pemotivasi di grup saya itu. Saya berkelompok dengan kebanyakan ibu-ibu, tapi semangat membaca qur’annya Subhanallah :’) malu sama diri sendiri. Mereka bilang, saya dan teman-teman yang masih muda harusnya bersyukur, di umur yang masih terbilang muda, ada media membaca qur’an yang mudah ditemukan seperti ini, tidak seperti zaman mereka yang teknologinya masih terbatas.

Dari mereka ada yang sudah memiliki anak, bahkan 4. Ada yang seorang guru, yang bercerita bahwa ia membaca qur’an sembari mengisi rapot anak muridnya, ada juga ibu muda yang anaknya lagi sakit, musti bolak balik rumah sakit tapi juz bagiannya tetap terbaca. Ada juga yang suaminya lagi sakit, selagi menemani suaminya, beliau membaca qur’an. Subhanallah wanita-wanita ini :’) Bersyukur dipertemukan dengan mereka, walau hanya kenal sebatas “tau nama”.

Mungkin di luar sana banyak yang bisa membaca qur’an, satu hari 1 juz lebih, mungkin banyak yang dalam sebulan bisa lebih dari sekali khatam, namun saya, sangat bersyukur bisa mengkhatamkan bacaan saya, walaupun satu hari hanya satu juz. Saya belum pernah mengambil juz lelangan (jika dalam waktu yang ditentukan bersama, ada anggota yang belum menyetor khatam juz bagiannya, maka juz nya akan dilelang, di khatamkan oleh anggota lain yang bersedia), namun sebisa mungkin saya menyelesaikan juz bagian saya dengan tertib.

Ada rasa tenang setelah juz bagian kita selesai dan rasa gak rela jika juz bagian kita dilelang. Awalnya memang karena ada rasa malu dengan anggota lain yang lebih sibuk tapi bisa mengkhatamkan bacaannya, bahkan mengambil lelangan. Awalnya memang seperti ada “penyengaja ikhlas”, ada rasa kita membaca qur’an hanya karena rasa malu dan hanya menjalankan kewajiban grup, “masa dia khatam, gue enggak? Malu dong??” tapi lama-kelamaan, membacanya seperti suatu kebutuhan. Seperti ada yang kurang lengkap kalau gak dilakukan.

Sesuai dengan pepatah, “Alah bisa karena biasa” dan mungkin “dipaksa” adalah salah satu cara untuk membuat diri menjadi “biasa”? hehe.. bisa jadi bisa jadi :p

Sekian cerita kali ini, Mari Semangat berkebaikan ^^9


Senin, 23 Desember 2013
Atika Widiastuti
sedang me-manage hati :p

Selasa, 10 Desember 2013

Cerita Hati

Setiap menyebut satu nama dalam hati.
Tiba tiba terasa aneh di dada. Deg.
Apakah ini? Baru pernah terasakan.
Seketika senyum terukir di bibir
dan fikiran membayangkan kejadian-kejadian manis.

Oh Tuhan... Mungkinkah?
Netralkanlah rasa ini...
Padamkan gejolaknya...
Tumbuhkanlah rasa yang dulu...
Rasa yang biasa saja ketika namanya disebut..


Teruntuk kamu,
yang namanya tidak ingin aku sebutkan

Sabtu, 07 Desember 2013

Minggu-minggu Sendu #1



Entahlah, dari judul aja ketara galau banget ya hehe.. semoga isinya gak galau.^^ Jadi ini adalah minggu pertama di bulan Desember. Yap! Bulan terakhir di 2013 dan bulan depan kita memasuki tahun baru, 2014.


Flashback dikit, bulan Desember tahun lalu ituuu, gue lagi sibuk-sibuknya sama yang namanya tryout-tryout menjelang UN dan ujian masuk PTN. Hari-hari waktu itu terasa mumeeeett banget, udah gak sanggup._.v hehe. Tiap hari ketemu sin, cos, tan, gametosis, meiosis, metana, etilena, hukum inilah hukum itulah dll. Gak kerasa, udah hampir satu tahun terlewati dan gue masih sehat wal afiat, hehe :’) Alhamdulillah..


Karena kejadian-kejadian itu, gue jadi nyimpulin : “Ketika kita bisa melewati masalah yang menurut kita besar, berarti sebenarnya masalah itu kecil. Begitupun masalah-masalah besar yang akan datang nantinya.” 


Jadi kenapa minggu-minggu sendu? Entahlah.. ini sendu gara-gara apa. Mau cerita sedikit tentang seseorang #eaaa

Jadi, beliau bernama Kak Kina Hayifos (bacanya didepan cermin ya :p). Dia itu salahsatu senior di Rumah Iqro. Gaktau gimana detailnya, pokoknya sama kakak yang satu ini ngerasa deket banget :’) Malah jadi kayak kakak kandung gitu hehe, mungkin ini yang dinamain ukhuwah, persaudaraan dalam Islam. 


Kakak Kina adalah orang pertama yang gue jadiin tempat curhat, cerita apapun, bahkan cuma sekedar cerita kalo lagi deg-degan sama seseorang hehe. Selalu dinasihatin, coba aja cek inbox hp gue, banyak quotes-quotes dari beliau hehe, satu yang paling teringat “pantaskah ia untuk dikagumi? Jika iya, cintai ia dalam diam. :’)” Emang quotes2 tentang hati pasti jadi yg paling gampang diinget, maklumlah cewek :P


Ka Kina ini tuh...........gimana ya hehe, orangnya supel. Gampang bergaul sama siapa aja, tapi tetep memperhatikan batas-batasan yang seharusnya. Beliau juga loyal, sering jajanin kalo misalnya lagi anterin beliau ke suatu tempat hehe, sering anterin ke UI kalo kang angkot kesayangan enggak lewat-lewat.Tapi kadang, kalo udah badmood, waaaaaaaaaaaaahhh hahha..

hmmm, pokoknya.....she’s the best older sister I ever have. Mungkin karena emang gue jg gak  punya kakak, jadi kehadiran beliau itu bisa dengan pas menempati posisi itu #eaaa


Singkat cerita, umur beliau sudah memungkinkan dirinya untuk segera menikah, maka jadilah beliau menikah, dengan salahsatu kakak, dari rumah iqro juga, sebut saja WW. Kak WW ini salahsatu kakak yang Subhanallah deh, umurnya masih muda, belom 30 tahun, kalo gak salah 26an lah, tapi sekarang lagi ngambil S3, gak tanggung2 men, di Arab! Ckck hebaatttt hebatttt


Kisah mereka sebenernya udah lama diprediksi orang-orang #eaa termasuk gue. Jadi pas dapet kabar kalo kakak-kakak hebat ini menikah, senangnya bukan main :’) Pernikahannya unik, akad nikahnya ba’da Ashar pas bulan puasa. Jadi sajian untuk tamu yang hadir adalah menu untuk berbuka puasa. Pahalanya dobel itu, menikah + memberi makan orang berpuasa haha.


Entah siapa yang beruntung, kak Kina yang mendapatkan ka WW, atau sebaliknya? Atau keduanya adalah orang yang beruntung? Wkwk, yang jelas, kalo nanti gue yang udah harus mengakhiri masa lajang ini #caelaaaah, maunya kayak mereka berdua gitu :P


Nah nah, back to the topic, kenapa sendu wkwk (Udah nulis sejauh ini, sendunya ilang kayaknya, abis daritadi “wkwk” mulu haha). Karena sekarang sang suami menetap di Arab untuk S3nya, maka sebagai seorang istri, kak Kina harus menemani beliau. Yap! Ini mungkin yang bikin sendu, dia bakal ninggalin gue :’))  Gak ada hak sih buat sedih, kan istri memang harus begitu. Yang pacaran LDRan aja kangen,apalagi yang udah nikah LDRan? :P


Iya bener, gak ada hak buat sedih. Tapi ada rasa gak-rela-di-tinggal-untuk-waktu-yang-belum-kita-tahu-berapa-lama. Memang, beliau bilang kalo lebaran pulang. Tapi moment lebaran kan Cuma beberapa hari, sedangkan banyak kerabat yang perlu dikunjungi. Gak mungkin kesemua harinya beliau disini dihabisin buat gue, siapa gue? Wkwk


Beliau berangkat tanggal 16 Desember nanti, kalo dihitung dari hari ini, berarti H-9 hari lagi ke moment keberangkatan itu :’) Dan satu pesan beliau, dia gakmau dianterin ke bandara wkwk.. Mungkin takut yang anter pada nangis kali yaa hehe


Alhamdulillah, sekarang teknologi makin maju, banyak cara untuk tetap bisa berkomunikasi walaupun jarak jauh, semisal WA, Line, FB, Twitter, Skype dll. Jadi tetap bisa berkomunikasi walaupun gak bertatap muka :’).
Soooooo.....Selamat menempati lingkungan baru kak, semoga betah disana. Jangan lupain orang-orang yang sayang sama kakak disini. Segera kembali dengan membawa baby2 yang lucu-lucu hehe. Sukses juga buat kak WW nya... Daaan segera buka cabang Rumah Iqro di Arab sana :’)


Sabtu, 07 Desember 2013
Atika Widiastuti
Sedang survive menjelang UAS :P